PEWARTA YANG MEMULIHKAN

“Aku bukan Mesias” adalah pernyataan Yohanes Pembaptis mengenai keberadaan dirinya. Sebuah ungkapan yang berani di tengah-tengah pengharapan akan datangnya Mesias bagi orang-orang Yahudi yang hidup dalam penjajahan. Toh, siapa yang tidak ingin menjadi Mesias, siapa yang tidak ingin menjadi pribadi yang terkenal dan dikagumi semua orang?

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Tidak ada orang yang tidak ingin dikenal baik, berwibawa, memiliki beragam kelebihan. Situasi hidup kita juga memaksa kita untuk menunjukkan kelebihan kita, agar kita mendapat hal-hal yang lebih baik dibandingkan orang lain. Persaingan di sana-sini menjadikan kita was-was dan merasa harus bisa melampaui, mengalahkan setiap orang, dan take all credit for ourselves, mengambil semua pujian, penghargaan untuk diri kita sendiri. Mengapa hal seperti terjadi? Karena setiap orang mengenal yang namanya prestige, pamor, sebagai sebuah anggur yang memabukkan, sebuah masa-masa yang membawa kebahagiaan. Bahagia karena dikenal orang, walaupun kita tidak mengenal mereka; bahagia karena disukai orang, karena dipuja-puja orang; bahagia karena dihormati oleh orang lain, hanya karena kita terkenal; bahagia karena banyak orang-orang yang berusaha menjadi teman, walaupun sebelumnya kita ditolak oleh karena mereka merasa kita tidak layak menjadi teman mereka.

(/ilustrasi)

Godaan untuk menjadi terkenal ini pula yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis. Sosok Mesias adalah pribadi yang diharapkan datang ke dalam kehidupan bangsa Israel dan membawa perubahan besar di dalamnya. Sosok Mesias adalah sosok yang ditunggu-tunggu untuk ‘naik tahta’ dan memimpin orang-orang Yahudi lepas dari penjajahan Romawi, mengembalikan kejayaan kerajaan Israel seperti pada masa Raja-Raja: Daud maupun Salomo. Kehadiran Yohanes Pembaptis yang berseru-seru mengabarkan kerajaan Allah sudah dekat, merupakan ‘angin segar’ bagi harapan mesianik yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Jelas sekali fenomenal, jelas sekali cocok untuk menjadi “Mesias” bagi orang-orang Yahudi.

 

Tidak dapat kita pungkiri bahwa situasi orang-orang Yahudi di dalam penjajahan Romawi bukan situasi yang aman-tentram, tanpa kekurangan suatu apapun. Terlebih lagi mimpi untuk mengembalikan kejayaan bangsa Israel seperti pada masa raja-raja masih menjadi tunas pengharapan mereka bahwa Tuhan Allah akan mengirimkan Mesias, orang yang diurapi-Nya, untuk membawa pembebasan dari penjajahan Romawi. Hal ini justru menggiring mereka untuk mempercayai bahwa orang yang Tuhan urapi adalah pribadi yang berani menentang kekaisaran Romawi, menentang penjajahan dan memimpin pemberontakan untuk membawa kemerdekaan bagi orang Yahudi, sehingga kerajaan Israel menjadi kerajaan yang penuh dengan penyertaan Allah karena Allah yang telah mengurapi sang Mesias! Betapa pengakuan sebagai Mesias justru membuat setiap orang Yahudi percaya dan mengikut Yohanes Pembaptis! Bukankah lebih mudah baginya untuk mengaku diri sebagai Mesias, membawa setiap orang Yahudi mengikutinya, dan mempersiapkan jalan bagi Tuhan bersama-sama?

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kita dapat membaca dan melihat, Yohanes Pembaptis menolak godaan ini dengan menyatakan: “Aku BUKAN Mesias.” Sebuah tindakan yang berani, namun cukup menggemparkan. Yohanes Pembaptis juga tidak menyatakan dirinya sebagai ‘Elia’ ataupun nabi, tetapi hanya seorang utusan Allah, orang yang berseru-seru dari padang gurun. Lebih jauh lagi, Yohanes menyatakan dirinya bukan siapa-siapa, sehingga membuka tali kasut sang Mesias pun dia tidak layak.

Pesan ini menegaskan kepada kita, bukan masalah siapa orang yang membawa kabar sebagai hal penting, melainkan kabar yang dibawanya-lah hal penting untuk kita dengarkan! Yohanes Pembaptis tidak pernah merasa dirinya harus menjadi pribadi yang terkenal agar bisa menyampaikan kabar keselamatan dari Allah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat; justru Yohanes Pembaptis menekankan bahwa Kerajaan Allah yang sudah dekat inilah yang terutama! Kabar inilah yang sejatinya hendak dinyatakan kepada orang-orang Yahudi, umat Israel bahwa waktu untuk bersukacita telah datang.

Kerajaan Allah sudah dekat merujuk pada kehadiran Allah bagi umat manusia, membawa penyertaan dan pemulihan dari Allah ditengah-tengah berlangsungnya situasi yang sulit. Kabar sukacita bagi setiap orang yang sengsara, orang-orang yang remuk hatinya, kabar pembebasan bagi setiap orang yang ditawan, dikurung dalam penjara. Kabar inilah awal mula sukacita dari Allah, yang hendak diberikan kepada setiap orang. Kedatangan Tuhan membawa pemulihan bagi yang hancur hati, puji-pujian bagi yang berduka, karena penyertaan Allah akan menghadirkan kembali kekuatan untuk membangun segala sesuatu yang hancur, membaharui segala hal yang telah diruntuhkan.

Penantian di dalam pergumulan yang Panjang tidaklah sia-sia, oleh karena Tuhan menumbuhkan kembali kebenaran di tengah Umat-Nya, Penyertaan-Nya yang tidak berkesudahan, sehingga seluruh bangsa-bangsa melihat keagungan Tuhan melalui pemulihan pada umat yang lemah, tersisih, terpinggirkan, dan terlukai ini.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Pesan yang sama disampaikan juga kepada kita, masih terus berlanjut bagi kita. Masa Advent III adalah tempat perayaan akan pemulihan dari Allah di tengah segala kondisi yang kita hadapi. Pergumulan di dalam hidup kita seringkali dapat membawa keputusasaan dan kecemasan yang berlebihan, menghalangi kita untuk melihat dan merasakan penyertaan Allah. Hidup kita justru semakin berpusat kepada kegagalan, keengganan untuk kembali bangkit dan bergumul, bahkan berhenti pada titik kecewa kepada Allah, mempertanyakan penyertaan Allah yang kita rasa tidak pernah hadir; padahal kita yang tidak mau memindahkan fokus hidup kita kembali kepada Allah.

Pertobatan yang kita lakukan bukan menjadi pertobatan yang sejati, yaitu membawa hidup kita fokus kepada Allah, melainkan hanya pertobatan semu yang pada masanya justru menggeser fokus hidup kita kepada diri sendiri. Tindakan seperti inilah yang justru menjauhkan kita dari melihat dan merasakan penyertaan Tuhan, membuat kita tidak lagi mampu bersukacita atas pertolongan Tuhan, bahkan memilih untuk tidak berdoa hanya karena merasa doa tidak ada gunanya. Padahal kesempatan bagi kita merasakan penyertaan Allah sangatlah besar, dimulai dengan tekun berdoa, setia mengucap syukur atas hidup kita dan segala pergumulannya, senantiasa bersukacita karena ada pertolongan Allah yang dihadirkan-Nya melalui hal-hal kecil. Hal-hal sederhana inilah justru membuat kita maju selangkah menuju hidup yang berkenan bagi Tuhan, menuju hidup yang merasakan pemulihan dari Tuhan setiap waktu. Menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan juga jelas menjadi bagian hidup yang berkenan di hadapan Allah.

 

Memang kita pernah mengalami keretakan di dalam hidup kita, menjalani hidup yang justru tidak berkenan dihadapan Allah, tetapi Allah memberikan kita kesempatan untuk kembali kepada-Nya, untuk hidup dekat kepada-Nya agar diri kita dipulihkan menjadi indah di matanya. Seperti seni Kintsugi yang digunakan oleh para pengrajin Jepang untuk merekatkan kembali keramik yang telah pecah. Keramik yang pecah ini mendapatkan kesempatan kembali untuk digunakan sebagaimana fungsinya dengan dilekatkan kembali satu sama lain, diperkuat dengan lapisan emas/perak/platinum dan menjadi keramik ‘baru’ yang indah, yang dapat digunakan kembali sebagaimana fungsinya, demikian pula hidup kita. Kabar keselamatan dari Allah, melalui utusan-Nya telah menyatakan bahwa kerajaan Allah sudah dekat, berarti penyertaan dan pemulihan dari Allah sudah dekat dan dihadirkan bagi kita yang percaya kepada-Nya. Jelas kita dibimbing untuk kembali kepada Allah, mempercayai penyertaan-Nya bagi hidup kita, bahwa pertolongan Tuhan yang akan membimbing kita hidup seturut kehendak Allah, menguduskan hidup kita agar kita siap menyambut kedatangan Tuhan (kembali) ke dalam dunia.

Amin

(Michael Suryajaya S.Si Teol)

arrow