PERTOBATAN YANG PROAKTIF

Yesaya 40:1-11
Maz 85:1-2, 8-13
2 Pet 3: 8-15
Markus 1:1-8

Tak terasa Natal sudah semakin dekat. Banyak orang menantikan Natal sebagai momen berlibur bersama keluarga. Menikmati alunan musik indah yang menggugah hati menyaksikan drama yang sama setiap tahunnya. Atau menjadi lelah dan jenuh karena setiap tahunnya terpilih menjadi panitia. Setiap orang pasti memiliki beragam perasaan dan penghayatan terhadap Natal. Dan semuanya tentu sah-sah saja.

Yang pasti Natal bukan hanya peringatan akan lahirnya seorang manusia bernama Yesus. Natal adalah sebuah tindakan nyata Allah sendiri. Ia yang turun tangan untuk menyelamatkan. Sebuah perubahan besar dari cara kerja Allah yang telah dilakukan selama ratusan hingga ribuan tahun sejak dunia dijadikan. Allah mengubah caraNya memandang manusia dan memandang diriNya sendiri. Allah yang pada awalnya terasa jauh dan tak terjangkau. Begitu kudusnya Dia, hingga tidak seorangpun dapat berjumpa denganNya muka dengan muka.

Natal menujukan sebuah tindakan mengubah diri. Allah yang tak terselami itu mau menjadi terselami, dan menyelami ciptaanNya. Allah Kita tidak hanya menunggu dalam diam. Tidak juga hanya mengutus nabi-nabi, hakim-hakim, raja-raja dan pembesar-pembesar untuk menjadi penyampai pesan bagi manusia. Dia datang, lahir, bertumbuh sebagai dan menjadi seorang pribadi bagi orang-orang yang dikasihiNya.

Dengan merayakan natal, kita sedang diajak oleh Allah bukan hanya untuk mengenang peristiwa yang terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu. Natal menjadi pendorong kita untuk berkarya lebih banyak, melayani lebih sungguh, mencari yang hilang, menjadi berkat bagi sesama. Hidup sebagai seorang kristen haruslah bergerak. Tidak pernah diam di tempat. Setiap Hari Yesus bergerak mencari, melakukan semua tindakan yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan merangkul, mengembalikan manusia pada kedamaian dan sukacita.

BERGERAK SEPERTI APA?
BERGERAK DENGAN PENUH TANGGUNG JAWAB. “Oh saya bertanggung jawab ko, saya ke gereja, saya melayani di gereja, saya mau bila diminta untuk menjadi pelayan dan panitia di berbagai acara, saya mau berdoa bagi sesama saya.” YA, memang benar bentuk tanggung jawab kita adalah memelihara hubungan dengan Allah, siap untuk melayani, siap berdoa bagi sesama. Tapi itu semua tidak cukup. Semua hal diatas dapat dilakukan sebagai bentuk aktualisasi diri dan pencarian penghargaan dari sesama dan bukan karena Kasih yang mau terlibat. Tanggung jawab yang Tuhan inginkan bukan semata-mata menggerjakan tugas dan rutinitas kita baik di rumah ataupun di gereja dalam rupa-rupa pekerjaan. Tanggung jawab yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan adalah hidup bukan untuk diri sendiri, hidup yang mau mengubah, meyentuh, memberi perhatian, menunjukkan kepedulian dan bukan hanya menyibukan diri dengan beragam program dan rapat. GKI telah menjadi gereja yang begitu sibuk dengan rapat, menentukan nasib orang-orang yang akan dilayani dengan berbagai pertimbangan dan keputusan gerejawi. Pertanyaan yang harus kita jawab adalah, sudah sejauh mana jemaat GKI sungguh mau menyentuh, menggali, merasakan perasaan-perasaan yang ada pada sesama kita, berjuang bersama, berada disisi sesama untuk meneguhkan, memotivasi, menegur, mengangkat setiap pribadi yang terpuruk, dan tenggelam dalam riuhnya hidup dan pergumulan. Doa yang hanya dipanjatkan tanpa ada tindakan bisa jadi hanya menjadi doa yang palsu. Doa yang sejati adalah doa yang dinyatakan lewat tindakan-tindakan nyata. Kepedulian kita adalah doa kita, tanggung jawab kita. Teriakan Yohanes Pembaptis di padang gurun mengajak kita bukan hanya untuk memberi diri dibaptis, tapi memberi diri untuk mengalami perubahan seperti Allah juga mengalami perubahan. Dari umat yang jauh dan asing, menjadi umat yang mau mendekat, belajar tentang sesamanya, memenuhi kebutuhan sesamanya (kembali bukan soal kebutuhan materi, banyak hal lebih bernilai daripada uang)
BERGERAK YANG PERLU DIUJI. “Ojo kesusu” Jangan buru-buru. Ada tanggung jawab yang memang harus dilakukan dengan segera. Ada tanggung jawab yang harus dipikirkan secara matang. Oleh karena itu disebut sebagai tanggung jawab, bukan hanya soal menjawabnya, tapi menanggung konsekuwensi, kebenaran yang terkandung dalam jawaban pelayanan kita tersebut. Sejauh mana itu benar di mata Tuhan, bukan hanya benar di mata kita. Roh Kudus punya aspek penting disini. Kita memang perli menjadi aktif, namun aktif yang sesuai dengan bimbingan Roh Kudus dan bukan bimbingan diri saja, semangat manusiawi yang ada kalanya jadi salah mengambil keputusan. Baptisan Roh Kudus memberikan kepada kita hikmat yang melampaui kepandaian manusia; iman yang memberikan kekuatan untuk bertahan di tengah perjuangan untuk menyentuh dan menyelamatkan sesama; pengharapan yang membuat kita tidak menyerah dan tetap dapat melihat hal yang Allah sediakan bukan sekedar impian kita sebagai manusia.
BERGERAK SECARA HOLISTIK. Perubahan harus terjadi dalam semua aspek kehidupan kita terlebih dahulu. Sehingga kita dapat memberikan perubahan holistik juga bagi orang yang yang kita layani. Apa pentingnya perubahan yang holistik atau menyeluruh? Perubahan yang tidak dilakukan secara menyeluruh akan menghasilkan perubahan yang tidak sempurna, atau bahkan akan menjadi perubahan sekedar topeng untuk memuaskan diri dan mendapat hormat serta pengakuan dari sesama. Perubahan yang holistik membuat kita tidak hanya berubah, bertumbuh dan berbuah, namun buah yang dihasilkan adalah buah yang manis dan bukan masam atau hambar. Perubahan yang mengubah keseluruhan kehadiran diri. Pikiran, jiwa, tubuh, dan roh. Sehingga semuanya menjadi selaras dan membawa kehidupan yang Penuh dengan integritas. Perubahan yang holistik juga membuat kita mampu memenuhi tanggung jawab kita kepada sesama dengan memperhatikan seluruh aspek kebutuhan manusia. Terkadang kebutuhan yang paling hakiki dari manusia adalah yang ada di dalam hati dan pikiran manusia itu sendiri.

Bagaimana dengan kita? Sejauh apa Natal membawa kita untuk bertindak bagi orang lain? Jgn hanya diam dan menjadi egois. Karena bila demikian, kita tidak layak untuk menikmati NATAL. Jangan jadikan Natal hanya sebatas selebrasi. Jangan jadikan Natal hanya sebagai momen yang penuh kenikmatan dunia. Natal adalah pengorbanan, Natal adalah kebaikkan yang ditunjukan lewat perbuatan nyata. Bukan hanya pemberian hadiah, namum pemberian hidup bagi sesama.

arrow