PERJUMPAAN YANG  MEMULIHKAN

 

KISAH 9:1-20

MAZMUR 30

WAHYU 5: 11-14

YOHANES 21:1-19

Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia pasti mengalami berbagai macam perjumpaan. Setiap perjumpaan membawa jejak yang berbeda satu dengan yang lain. Perjumpaan demi perjumpaan memberi pengalaman- pengalaman yang mempengaruhi seluruh kehidupan setiap pribadi manusia, baik secara sadar maupun secara tidak sadar. 

Setiap perjumpaan yang tak terhindarkan sekalipun, diijinkan terjadi sesuai kehendak dan kasih karunia Tuhan. Sayangnya, perjumpaan yang Tuhan ijinkan tidak melulu merupakan perjumpaan yang baik. Bahkan ada kalanya Tuhan mengijinkan perjumpaan yang begitu menyakitkan hingga meninggalkan bekas luka dan trauma yang mendalam dalam pribadi manusia. 

Dalam sudut pandang iman, kita percaya bahwa perjumpaan yang buruk sekalipun dapat Tuhan ubahkan menjadi pembelajaran dan berkat yang tidak terkira. Karena Tuhan tidak pernah membiarkan sesuatu terjadi dalam hidup anak-anakNya, tanpa maksud yang baik, dan rancangan yang membawa damai sejahtera.

Beragam perjumpaan yang hadir dalam perjalanan hidup, sesungguhnya juga dapat memperjumpakan kita dengan Tuhan sendiri. Sayangnya tidak semua anak-anakNya mampu melihat karyaNya ataupun merasakah kehadiranNya dalam perjumpaan-perjumpaan yang menyakitkan tersebut. Kesetiaan Allah yang luar biasa memberikan kepada manusia pengharapan dan jalan untuk mengubah perjumpaan dan pengalaman yang paling menyakitkan sekalipun, menjadi sukacita dan kebahagiaan sejati.

Apa yang dapat kita pelajari tentang perjumpaan antara Yesus dengan para murid selepas kebangkitanNya?

    1. BUKAN PERJUMPAAN PERTAMA. Bacaan kita minggu ini mengisahkan penampakan Yesus kepada para Murid. Namun penampakan kali ini, bukanlah penampakan yang pertamaNya. Ternyata penampakan Yesus kepada para murid yang pertama, tidak cukup menguatkan para murid untuk meneruskan panggilan mereka sebagai penjala manusia. Mereka kembali pada kehidupan lama mereka, yaitu menjadi nelayan. Yesus tidak menyerah untuk memberi mereka perjumpaan- perjumpaan  dalam perjalanan pergumulan para murid. Ia bisa saja memilih untuk mencari murid-murid baru, meninggalkan ke 11 murid yang tidak mampu menunjukkan kesetiaan mereka dalam masa-masa terberatNya. Tapi kesetiaanNya kepada murid dan umatNya memang tak ada bandingnya. Ia tetap menunjukkan kasih dan memberi kesempatan bagi para murid untuk menata hati, pikiran hingga siap untuk kembali ke ladang pelayanan. Tidak mudah bagi para murid untuk menata kembali iman mereka. Kematian Yesus telah memberi dampak yang begitu besar bagi jiwa dan iman mereka. Peristiwa yang menyakitkan dan memberi kengerian yang luar biasa dalam kehidupan mereka tersebut memang telah berlalu, namun bayangan menakutkan tidak mudah pergi. Yesus tahu bahwa apa yang telah dilalui para murid bukan hal yang dapat dengan mudah dilupakan dan dilalui. Ia mengerti bahwa para murid membutuhkan waktu. Mereka butuh perjumpaan demi perjumpaan yang mampu mengisi kekosongan dalam diri tiap murid. Ada kalanya, kita juga membutuhkan bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali perjumpaan denganNya. Jangan ragu untuk memohon dan merindu berjumpa denganNya. Keterbatasan kita telah membawa kita pada jalan yang berliku untuk memantapkan hati dan iman percaya kita. Tidak perlu kita menjadi rendah diri atau merasa tidak peka terhadap hadirat Tuhan. Tuhan mengerti dan tahu dengan pasti berapa waktu yang kita butuhkan untuk mengembalikan segala sesuatu pada tempat yang seharusnya, yang akhirnya memampukan kita untuk maju dan kembali berkarya.
    2. RELASI MENENTUKAN. Ya, bahwa tidak semua orang memiliki kepekaan yang sama, jalan yang sama, pengalaman yang sama dalam mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Namun ada sebuah faktor yang utama dalam menemukan Tuhan dalam perjalanan perjumpaan tersebut. Coba perhatikan Yohanes 21 : 7, kita dapat menemukan bahwa salah satu murid, yang diberikan sebuah keterangan ‘yang dikasihi Yesus itu’-lah yang mampu mengenali kehadiran Yesus. Hanya relasi yang akrab dan sehatlah yang memampukan murid itu mengenali Yesus, ketika murid yang lain, termasuk Petrus tidak mampu mengenaliNya. Ada kalanya kita merasa Tuhan jauh, kita merasa bahwa atuhan tidak pernah hadir dalam hidup dan pergumulan kita, adakalanya itu semua hanya karena kota tidak menjaga relasi denganNya. Dia ada, dan selalu hadir, berbicara setiap waktu, mencoba untuk meraih dan menyentuh kita, sayangnya kita yang kerap kali menutup hati bagiNya, hingga suaraNya, sentuhanNya, dan perjumpaan denganNya seakan tak pernah dialami. Yohanes yang memiliki keintiman dengan Yesus, mampu dengan mudah mengenali Yesus yang untuk ketiga kalinya datang menampakan diri di hadapan para murid. Yohanes memang menjadi salah satu orang yang dengan setia menjadi teman bagi Yesus, hingga Ia menghembuskan nafas terakhirnya di atas kayu salib. Ia menjadi teman terdekat Yesus, bukan hanya disaat Yesus berada dalam kemuliaan dan sanjungan, namun juga di masa Ia dijatuhkan dan terpuruk. Relasi tersebut menciptakan sebuah hubungan yang menumbuhkan kepekaan yang luar biasa. Relasi, bukanlah hal remeh yang dapat disingkirkan begitu saja. Jangan pernah mengatakan bahwa Tuhan jauh dan tidak memahami kesulitan kita, bila relasi denganNya, kita bangun hanya bila kita ingin menyampaikan kebutuhan dan keinginan kita.
    3. PEMULIHAN UNTUK KEMBALI BERKARYA. Setiap kita yang pernah mengalami sakit, pasti juga pernah memohon pemulihan yang dari Tuhan. Bila Tuhan memberi pemulihan, untuk apakah pemulihan tersebut? Tentu agar kita dapat kembali beraktifitas seperti sediakala bukan? Bukan hanya untuk menikmati hidup dan bersantai, namun untuk melakukan segala tanggung jawab dan panggilan kita. Begitu juga dengan pemulihan yang Tuhan berikan bagi para murid. Yesus ingin memberikan pemulihan yang sempurna bagi para murid bukan agar para murid merasakan sukacita semata, namun bagaimana menggunakan sukacita tersebut menjadi dorongan yang besar untuk melakukan kembali misi Allah di tengah dunia. Ia memulihkan kita agar kita menemukan jalan untuk kembali pada jalan yang telah ditentukanNya bagi kita. Petrus, yang telah begitu hancur, karena penyesalan, dibalutNya. Lebih dari itu Petrus mendapatkan kembali kepercayaan dari Tuannya, yang begitu mengasihinya. Ia menemukan kembali kekuatan dan harga dirinya di hadapan Tuhannya. Yesus memberinya pemulihan yang begitu lengkap, pengampunan serta kepercayaan yang bahkan lebh besar dari sebelumnya. Yesus menjadikan Petrus bibirNya untuk menyuarakan isi hatiNya bagi umatNya. Kuasa diberikanNya kepada Petrus untuk melalukan mujizat, menyentuh banyak hati dna jiwa untuk percaya kepada Yesus, hingga memberi diri mereka untuk dibaptis. Yesus memberika kekuatan untuk menjadi teladan dan inspirasi, hingga nama Petrus begitu diagungkan dalam perkembangan gereja mula-mula. Predikat Saint ( orang kudus) disandangnya. Bahkan hingga masa modern, Petrus menjadi salah satu tokoh yang begitu menginspirasi pertumbuhan gereja. Sebuah kepercayaan yang begitu besar yang diberikan kepada seorang yang pernah menyangkal Yesus secara terang- terangan di hadapan hamba-hamba imam besar. Pemulihan dan kepercayaan yang sama yang disediakan Dia bagi kita.

Tuhan ingin kita menjumpai Dia dalam segala persimpangan. Ia ingin kita bertumbuh, berkembang dan berbuah melalui setiap suka dan duka. Ia ada untuk membalut, memberi ketentraman, dan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk melewati. Ia hadir untuk memulihkan jejak trauma dan luka sekalipun dan menggantikannya dengan berkat dan rahmat. Temukan Dia dalam setiap perjumpaan yang diijinkanNya, karena Dia ada dan menunggu kita disetiap perjumpaan itu. 

arrow