ORANG BANYAK: SALIBKAN DIA!

ORANG BANYAK: SALIBKAN DIA!

Mengapa orang banyak yang pada awalnya menyambut Yesus dengan begitu antusias pada akhirnya berteriak : “ salibkan Dia!” ? Dimanakah mereka yang memuji dan mengelu-lelukan Dia? Yang pernah mengalami mujizatNya, sapaan dan pengajaranNya? Dimanakah mereka yang bertekad membelaNya, bahkan hingga kematian sekalipun? Dimanakah kaum keluargaNya, saudara-saudaraNya? Semuanya menghilang

Mereka terhipnotis oleh bisikan si jahat melalui tuduhan para imam kepala. Nurani tak terdengar, kebaikan dan kebenaran tak lagi diingat. Begitu banyak orang terjebak dalam sebuah pengharapan manusiawi yang tidak dapat diwujudkan oleh Yesus. Bahkan seorang Pontius Pilatuspun tidak menemukan satu kesalahanpun untuk didakwakan kepada Yesus. Tidak ada satupun yang mereka katakan, terbukti kebenarannya. Namun, ilah yang membuat mereka terus melakukan kegaduhan dan kekerasan untuk mneyuarakan apa yang mereka inginkan. Mereka mencecar Yesus dengan tuduhan yang sama, berulang-ulang. Dengan berlaku demikian mereka berharap Pontius Pilatus dapat mempercayai mereka. Mereka tidak hanya memfitnah Yesus, namun juga melakukannya dengan teguh, bahkan dengan kejahatan yang paling buruk.

Imam Kepala memiliki pengaruh yang begitu besar diantara begitu banyak orang. Mereka begitu mendewakan dan mengagungkan perkataan para imam kepala ini. Dengan kuasa yang mereka miliki secara turun menurun sejak masa Musa, para imam memanfaatkan suara orang banyak yang begitu mendewakan mereka untuk menjalankan maksud mereka yang tidak mungkin mereka  lakukan sendiri. Mereka begitu licik, hingga mereka tidak mau mengotori tangan mereka dengan darah Yesus, sebaliknya membagi-bagikan kepada sebanyak mungkin orang tanggung jawab  atas kematian Yesus. 

Mereka disuguhi sebuah fakta yang telah dibalut sedemikian rupa dengan berbagai persepsi dan keinginan yang menjadi harapan kebanyakan orang saat itu. Fakta bahwa Yesus Barabas adalah orang yang lebih layak untuk mendapatkan kesempatan kedua ketimbang Yesus. Bahwa Yesus Barabas adalah seorang yang nasionalis. Ia berusaha membela bangsanya, dan juga tradisi bangsanya. Ia adalah seorang pemberani, yang siap memberikan segalanya demi kehormatan bangsanya…termasuk melakukan pembunuhan. Ia menentang penggunaan persembahan Bait Allah untuk pembangunan sebuah saluran air sepanjang 40 km oleh Pontius Pilatus. Dan bagi orang Yahudi yang telah dikuasai kebenaran yang palsu, Barabaslah pahlawan bangsa mereka yang sejati. 

Para imam menggunakan moment yang begitu pas, untuk menukarkan Yesus dengan Barabas. Mereka telah menunggu hari itu sekian lama, Hari dimana Yesus dihukum mati, hingga mereka tidak kalah pamor. Penghormatan yang dilakukan bangsa Romawi terhadap Yahudi dengan melepaskan seorang tawanan sebagai penanda perayaan Paskah, digunakan dengan begitu licik oleh para imam. Tradisi pembebasan tawanan berakhir dengan penyalahgunaan kekuasaan dan menjadi penghalang ditegakannya keadilan dan kebenaran, yang menghasilkan kejahatan yang keji dan brutal sepanjang masa. 

Apa yang menyebabkan orang banyak dengan begitu mudah tertipu dan terjerat oleh hasutan para imam. Kita dapat melihat 3 kelemahan utama manusia yang mungkin juga ada dalam diri setiap kita. Mari coba kita pelajari:

  1. PERSEPSI. Setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda akan segala sesuatu. Karena manusia memiliki kebebasan dalam diri dan pikirannya. Kita mampu membentuk persepsi-persepsi yang ada dalam diri kita masing-masing berdasarkan kehendak bebas kita. Persepsi yang timbul terhadap segala sesuatu juga dipengaruhi oleh berbagai macam kebutuhan dan keinginan setiap manusia. Adakalanya faktor-faktor tersebutlah yang paling besar dampaknya dalam pembentukan persepsi, dan banyak kali, menghasilkan persepsi yang buruk dan keliru. Persepsi yang buruk akan menghasilkan penilaian, respon, juga pilihan yang diambil di kemudian hari. Setiap hari, orang lain berusaha memasukan begitu banyak persepsi mereka dalam diri kita hingga membentuk persepsi yang mereka inginkan dalam diri kita. Iklan, media masa, media sosial, berita dan segala macam tontonan, bacaan, bahkan ilmu membetuk persepsi kita tanpa kita sadar. Ketika kita membiarkan persepsi yang salah masuk dalam diri kita, maka kita sedang dirusak oleh persepsi tersebut. Maka.. kita membutuhkan saringan. Saringan yang mampu membuat kita menyerap hanya persepsi yang baik dan benar. Persepsi yang sesuai dengan kehendak Allah dan bukan sekedar kehendak sesama manusia. Namun saringan tersebut tidak akan pernah kita dapatkan tanpa kita mengetahui dengan benar apa dan bagaimanakan persepsi Allah. Maka mencari apa persepsi Allah menjadi tanggung jawab utama untuk memperbaik segala sistim persepsi yang kita miliki.
  1. KURANG BELAJAR APA YANG PERLU. Bagi masyarakat modern, belajar sesuatu adalah hal yang mudah. Dengan adanya teknologi di genggaman kita, kita dengan mudah belajar. Hanya dengan mengetikan kata kunci yang tepat, kita akan menemukan beragam hasil tentang apa yang ingin kita ketahui. Sayangnya banyak masyarakat kita salah memeasukan kata kunci. kata kunci yang sering kita gunakan adalah kata kunci yang kita inginkan dan bukan kata kunci yang seharusnya. Sehingga hasil pembelajarannya juga berbeda dan bahkan jauh dari apa yang seharusnya di dapat. Orang Yahudi, hanya ingin mendengara apa yang mereka inginkan untuk mereka dengar, bukan apa yang seharusnya dan perlu untuk mereka dengar, sehingga akhirnya mereka mencari guru yang salah. Mereka mudah terhasut karena mereka tidak membekali diri mereka dengan apa yang perlu untuk mereka ketahui dan pahami tentang kehendak Tuhan, nubuat para Nabi melalui Firman Tuhan. Mereka hanya mau medengar dari mereka yang terpandang dalam tradisi dan budaya mereka. Mereka tidak mencoba untuk mencari dan mengkritisi. 
  1. KURANG MANDIRI. Karena mereka terbiasa mengandalkan para imam untuk menjelaskan Taurat dan Firman Allah, mereka tidak terbiasa untuk menggalI Firman tersebut secara mandiri. Ketergantungan mereka terhadap kaum imam membuat mereka dengan mudah diperalat oleh para imam. Ketergantungan mereka terhadap para imam juga menjadi penghalang mereka untuk bergantung pada Allah. Budaya pada masa tersebut mendungkung kondisi ketidak mandirian umat. Hingga akhirnya umat dengan mudah mengikuti mereka yang berkuasa dan dengan mudah dibodohi untuk menjadi kaki tangan kejahatan yang luar biasa. Umat Allah perlu belajar mandiri, tidak tergantung pada sekelompok orang, namun bergantung pada Allah sendiri. 

Adakah kita berlaku seperti orang banyak pada saat itu? Yang dengan mudah terhasut ketimbang berulang kali memikirkan segala tindakan dan pilihan kita.  Adakah kita lebih mudah percaya akan apa kata orang dan bukan apa kata Tuhan yang sesungguhnya berdiam dalam diri kita? Adakah kita menyalahkan Yesus atas apa yang tidak Ia perbuat dan bukan menyukuri segala sesuatu yang telah Ia lakukan bagi kita? Selamat merefleksikan diri. Tuhan memberkati. 

arrow