MENGUKIR BERSAMA NARASI CINTA BAGI BANGSA

ULANGAN 10: 12-22

MAZ 15

ROMA 2:12-29

MARKUS 12:28-34

 

30 tahun sudah, GKI menyatu. Karena kasih karunia Tuhan kita mampu mempertahankan persatuan di tengah begitu banyak perbedaan yang ada di dalam tiga sinode wilayah. Tuhan memelihara persatuan ditengah begitu banyak pergumulan yang GKI hadapi sebagai tubuh Kristus. RohNya yang kudus tidak pernah meninggalkan gerejanya sekalipun. Ia memelihara, menyatukan dan senantisa memberkati. Tentu apa yang Ia lakukan bagi kita bukan semata agak kita hidup tentram dan aman di tengah bangsa yang besar ini. Ia ingin memakai kita untuk memelihara kehidupan sebuah bangsa, bangsa dimana kita tinggal dan hidup, bangsa Indonesia.

 

Sudah sejauh mana kita sebagai gereja memberikan dampak di tengah bangsa ini. Saya ingat perkataan seorang pendeta, “Jangan pernah kita mengeluh, bahwa bangsa ini penuh dengan kebusukan dan kebobrokan. Kebusukan dan kebobrokan ada di tengah bangsa ini karena kita tidak berfungsi sebagai garam yang baik bagi bangsa ini. Bukankah garam sedikit saja mampu memberi rasa?”Ya, kita ini garam dan terang, berapapun jumlah kita, sepanjang kita melakukan apa yang Tuhan ingin untuk kita lakukan, apa yang disebut sebagai kebenaran, berlandaskan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan dan sesama, Indonesia pasti berubah, kita pasti bisa!

 

Sayangnya, kita lebih suka untuk mencari jalan yang aman. Sejauh kita masih dapat beribadah dengan bebas, sejauh peribadahan memuaskan batin dan pikiran kita, sudah cukup bagi kita. Apa yang menjadi kesengsaraan dan kebutuhan bangsa kita menjadi hal yang tidak terlalu penting untuk diperjuangkan. kita lupa siapa kita. Kita bukan hanya warga negara Indonesia, namun juga warga kerajaan Allah, hingga seharusnya kerajaan Allah mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara kita pula.

 

Kepedulian kita terhadap bangsa sering kali hanya berhenti dalam doa syafaat. Kita lebih sibuk untuk menjadi komentator, dan sibuk mengeluhkan pemimpin-pemimpin yang di negeri ini dari pada mengambil aksi secara aktif untuk melakukan tindakan perubahan dimulai dari hal yang kecil. Ketika kita berdoa memohon pemerintah yang takut akan Tuhan, jujur, berintegritas, dan lain sebagainya, itu semua hanya menjadi doa kita bagi orang lain dan tidak pernah menjadi doa bagi diri sendiri. kita berharap punya pemimpin yang baik dan benar lakunya, namun kita tidak pernah membawa diri pada kebaikkan dan kebenaran.

 

2 Tawarikh 7:14dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku  disebut, merendahkan diri,  berdoa dan mencari wajah-Ku,  lalu berbalik  dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar  dari sorga dan mengampuni  dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sudahkah kita merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahNya, berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat?

KITAB ULANGAN

Ulangan memberikan kepada kita sebuah pernyataan apa yang Allah inginkan dari kita sebagai umatNya.Pertamaadalahtakut akan TUHAN. Takut akan Tuhan bukan berarti takut akan hukumanNya, sehingga menjalan semua ketetapan dengan enggan dan keterpaksaan. Allah ingin bangsa Israel mengerti bahwa segala hukum yang diberikan kepada bangsa itu, adalah untuk menjaga bangsa Israel tetap baik dan benar, bukan hanya di hadapanNya, namun juga di hadapan bangsa-bangsa di sekitar bangsa Israel. Tuhan ingin mengangkat bangsa Israel yang awalnya adalah budak di Tanah Mesir menjadi bangsa yang besar, bermartabat, dan menerangi dunia. dari sekumpulan kecil saja, menajdi sebuah bangsa dan bukan kumpulan orang banyak. Itulah impian Tuhan bagi bangsa Israel. Menjadi sebuah bangs ayang diakui oleh dunia, bukanlah hal yang mudah. Apalagi harus ‘melawan’ bangsa-bangsa yang sudah tersohor karena kebudayaan dan peradabannya seperti Mesir dan Mesopotamia juga Babel. Bangsa Israel masih hijau dan tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi sebuah bangsa. Bangsa Israel sedang belajar bagaimana bersikap dan membangun mentalitas sebagai bangsa, belajar membangun diri secara mandiri, dan membangun keberimanan kepada Allah yang telah membawa mereka keluar dari Tanah Mesir. Ketaatan penuh  yang Tuhan inginkan, bukan agar nama Tuhan dimasyhurkan, namun agar Bangsa Israel menjadi bangsa yang terpadang, dan tidak dikecilkan, diinjak2, dan dimanfaatkan oleh bangsa2 sekitar mereka. Menyunatkan hati.Sunat adalah tanda perjanjian dimana darah dicurahkan, yang berarti sebuah pengorbanan. Dalam setiap pertumbuhan pasti ada pengorbanan. Tuhan mau bangsa Israel mengorbankan ego mereka, pementingan diri sendiri mencari enak, dan selamat untuk diri sendiri, tapi berpikir sebagai sebuah bangsa yang besar. Tuhan ingin bangsa Israel melepaskan kesombongan dan kekerasan hati (nafsu hati) mereka dan bersedia dilembutkan.

 

ROMA

Menunjukan kasih kepada orang asing. ya memang bangsa Israel adalah bangsa pilihan, namun bukan berarti yang lain tidak dikasihi Allah. Sebaliknya bangsa Israel adalah alat Allah untuk memelihara bangsa lain. Mereka yang kekurangan, yang tidak punya tumpangan. Mereka yang menganiaya kita sekalipun harus diberkati dan bukan dikutuk. Berempatilah dengan sesama kita, siapapun dia. Hal-hal tersebut diatas bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dengan sungguh. Bila melakukannya kepada orang –orang yang kita kasihi, mungkin hal yang mudah untuk dilakukan. Suami, isteri, anak , orang tua, mertua dan menantu sekalipun. Tapi bila kepada orang yang asing, orang yang tidak kita kenal, tidak pernah ada dalam pikiran dan hati kita. Mereka yang sebangsa dan setanah air, yang berbeda, yang asing. kita butuh lebih dari sekedar kasih kepada mereka. Kita butuh kasih karunia Kristus sendiri. Karena kasih karunia Kristuslah yang mampu memerdekakan kita dari setiap belenggu dan batasan yang ada, hingga kita dapat mengasihi tanpa batasan, mengasihi tanpa ketakutan, tanpa trauma masa lalu, tanpa kebencian.

 

MATIUS.

Itulah makna sesungguhnya dari mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu. Mengasihi Dia artinya mengasihi sesama, mengasihi mereka yang terbuang dan dibuang, mengasihi tanpa batasan apapun. Mengapa Allah menuntut kita mengasihiNya dan mengasihi sesama kita? Kasih mengatasi segala hal, ia mampu menembus hal-hal yang tak tertembus, kasih ada sampai kapanpun, bahkan ketika dunia berakhir, kasih tidak berakhir. Kasih memberikan kita kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan dan tak terselami. Masa depan kita ditentukan oleh kapasitas kita mengasihi, olehkarenanya mari kita mengasihi tanpa batasan.

 

 

 

 

 

 

arrow