Menghadapi Pergumulan Dengan Iman

Kita punya berbagai pilihan, dalam hal bagaimana kita menghadapi pergumulan- pergumulan yang kita hadapi setiap harinya. Entah itu dengan meminta pertolongan sahabat, keluarga, suami, istri bahkan anak. Ada yang mencari pendeta atau pemimpin rohani untuk mendapatkan nasehat atau pertimbangan. Ada yang memilih untuk menggunakan kepandaian, kekuatan dan segala ilmu yang pernah dipelajari sepanjang kehidupan. Apapun pilihan kita, kita punya kebebasan dan  hak penuh dalam mengambil pilihan tersebut. Namun, apakah kita dapat mengatakan bahwa setiap pilihan yang kita ambil tersebut, diambil berdasarkan iman kita kepada Kristus, atau pilihan yang didorong oleh ragam perasaan yang berkecamuk dalam diri kita sebagai seorang manusia. 

Kita (sangat) bisa memilih karena dorongan ketakutan, kekuatiran; karena kesedihan  yang mendalam; karena ketakutan yang menghantui; karena kegembiraan yang menghalangi rasionalitas dan tentu karena ego. Perasaan dan ego adalah faktor yang menjadi dorongan terbesar bagi kita untuk menentukan pilihan. Tanpa pikir panjang, pilihan dengan mudah dijatuhkan. Penyesalan tidak menjadi pertimbangan, apalagi suara Tuhan. 

Begitu besar dorongan kemanusiawian kita dalam memilih segala sesuatu dalam hidup. Tanpa sadar kita lupa siapa sang pemberi hidup, siapa sang perancang hidup, dan siapa yang pemberi hikmat, kuat dan segala kelengkapan bagi kita untuk menjalani hidup. Tuhan menjadi aspek terakhir bagi kita, menjadi pilihan terakhir untuk bertanya. Dan akhirnya Tuhan menjadi tempat pelarian dan bahkan tempat kita mengumpat dan melampiaskan kemarahan kita ketika kita merasa semua pilihan kita tidak berakhir dengan baik. 

Iman kepada Tuhan memang tidak membuat pergumulan menghilang. Iman tidak melenyapkan kesulitan dan susah payah, iman tidak memberi ruang nyaman bagi kita dalam menjalani hidup. Namun iman menolong kota untuk dapat berhadapan dengan apapun itu, susah payah, sakit, badai dan apapun yang ada dan hadir dalam kehidupan. Iman menolong kita untuk bertahan, dan memenangkan segala perjuangan dan peperangan seberat apapun. Iman membuka peluang, mengajarkan sesuatu yang baru, yang baik dan benar melalui setiap hujan badai. Iman mengajar kita bukan sekedar untuk bangkit dari kegagalan, lebih dari itu iman mengajar kita bagaimana kita berani menghadapi kegagalan. Kegagalan bukanlah aib dan bukan akhir. Kegagalan hanyalah sebuah proses pembelajaran untuk mengetahui apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki. 

Iman menolong kita untuk menerima paradoks hidup. Bahwa Allah menciptakan seekor serangga yang buruk rupa, juga mencipta sekuntum bunga yang begitu harum dan indah, dan keduanya dapat hidup dalam harmoni, saling berelasi untuk memberikan kehidupan bagi satu sama lain. Bahwa hidup itu manis juga pahit, naik juga turun, sedih dan bahagia, namun semuanya tetap baik di mataNya. Iman menolong kita untuk melihat ada terang dalam kegelapan paling pekat sekalipun, dan mengingatkan kita bahwa kita fana, hingga dalam kesempurnaan hidup yang telah kita capai sekalipun, pasti ada kerapuhan. Dan kerapuhan sekalipun baik adanya. Bersamanya kita menjadi pribadi yang tahu diri, yang lebih lagi mengandalkan DIa dan bukan diri kita. Dia semakin besar dan kita semakin kecil. 

Pergumulan tidak akan pernah berhenti hingga kita menutup mata untuk kembali kepangkuanNya, namun semua pilihan yang  kita ambil di dunia selama mata ini masih terbuka dan jatung ini masih berdegup, menentukan kemana kita akan melangkah ketika semuanya berakhir. Pilihan-pilihan yang nampak sederhana sekalipun berarti. Tuhan senantiasa mengingatkan kita untuk setia pada hal yang kecil. Tunjukkan kesetiaan kepada Tuhan dalam menentukan pilihan- pilihan sederhana, maka kita akan membiasakan diri kita untuk menunjukkan kesetiaan kepadaNya dalam pilihan-pilihan besar sekalipun.

arrow