MENGERTIKAH KAMU APA YANG TELAH KUPERBUAT KEPADAMU?

GKI Kavling Polri mengusung tema “DIPILIH UNTUK MELAYANI” sebagai tema bulan pelayan, sepanjang bulan Januari 2018 ini. Tema tentang pelayanan tentu bukan tema yang asing bagi kita. Kita bisa saja menjadi jenuh dan bosan dengan tema pelayanan. Memahami dengan mata hati yang senantiasa diperbaharui adalah hal yang perlu dilakukan, karena kata ‘melayani’ tidak akan pernah lepas dari kehidupan Kekristenan. Pengikut Kristus ya harus melayani, karena itulah yang Kristus lakukan dalam setiap hari kehidupanNya. Pelayanan yang seperti apa yang Yesus lakukan? Inilah yang harus mampu kita pahami dan refleksikan dalam kehidupan kita secara terus menerus. Agar pelayanan kita, setiap hari, semakin bertumbuh dan berbuah.

Yohanes 13:4-17 menunjukan salah satu upaya yang Yesus lakukan dalam melayani. Pembasuhan kaki (bahasa Inggris:maundy) merupakan sebuah ritus keagamaan yang ada dalam beberapa denominasi Kristen. Akar dari praktik ini tampaknya ditemukan dalam kebiasaan-kebiasaan keramahtamahan berbagai peradaban kuno, khususnya ketika sandal merupakan alas kaki utama. Seorang tuan rumah akan menyediakan air untuk para tamu agar dapat membasuh kaki mereka, atau seorang pelayan (hamba) untuk membasuh kaki para tamu.

Hal ini disebutkan dalam sejumlah bagian Perjanjian Lama (misalnya Kejadian 18:4; 19:2; 24:32; 43:24; I Samuel 25:41; dll.) serta dokumen sejarah dan keagamaan lainnya. Seorang tuan rumah Timur pada umumnya mungkin akan membungkuk, menyapa, dan mencium tamunya, kemudian menawarkan air agar sang tamu dapat membasuh kakinya sendiri atau meminta pelayan untuk melakukannya. Penggunaan sandal lazimnya memerlukan pembasuhan kaki, namun air juga ditawarkan sebagai suatu tindakan untuk menunjukan sopan santun kendati yang bertamu mengenakan sepatu.

Yesus mengambil pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh para budak. Para budak dalam budaya Yahudi adalah orang-orang diluar bangsa Yahudi (Lih Imamat 25:44-46). Bahkan budak dapat diwariskan dari orang tua ke anak-anak mereka, layaknya sebuah benda. Mereka tidak memiliki hak untuk berhenti bekerja sebagai budak, kecuali sang tuan yang membebaskannya. Tidak ada satupun orang yahudi yang menjadi budak bagi orang Yahudi yang lain. Yesus mengambil peran tersebut. Peran yang sama sekali tidak layak dilakukan oleh seorang Yahudi, dan tidak layak juga diterima oleh seorang Yahudi dari sesamanya.

Tapi Yesus memilih untuk melakukan itu. Bukan karena mereka tidak memiliki budak untuk melakukannya, namun karena itulah yang Yesus lakukan di tengah dunia. Sosok Allah yang mau menggantikan manusia, sosok Allah yang seharusnya dilayani, mau melayani, bahkan menempatkan diri di posisi paling rendah di tengah bangsa yang dikasihiNya sebagai seorang budak. Kalau Yesus saja mau, apa alasan kita untuk tidak melakukannya?

arrow