MENGASIHI DENGAN PERKATAAN DAN PERBUATAN

 

kISAH 4: 5-12

MAZ 23

1 YOH 3: 16-24

YOH 10:11-18

 

“I love u!” Kata seorang pemuda kepada seorang pemudi. “COBA BUKTIKAN DULU JANJIMU YANG KEMAREN-KEMARENITU! JANGAN CUMA OMONG DOANG.” Sambut sang pemudi dengan wajah ketus.

 

Memang cinta butuh bukti. Tidak bisa hanya dengan janji, dengan ucapan, dengan romantisme sementara. Bukan berarti kata-kata tidak penting. Namun bila hanya kata dan tidak ada tindakan maka setiap kata hanyalah janji belaka. Mengasihi hanya dapat dibuktikan justru dengan perbuatan nyata. Bahkan tanpa kata sekalipun seseorang dapat merasa dikasihi hanya dengan merasakan tindakan nyata dari sesamanya.

 

Yesus pun tidak hanya sekedar janji. Ia menyatakan penyertaanNya dengan kehadiranNya di tengah dunia, hidup bersama dan di tengah manusia. Dengan begitu kasihNya menjadi kasih yang sungguh memberi dampak yang dapat dirasakan, bahkan dapat mengubahkan kehidupan banyak orang. Kasih hanya dapat bermanfaat bila dinyatakan dan bukan sekedar dikatakan. Namun kasih juga bermanfaat saat dikatakan.

 

Bukan sekali Yesus mengatakan bahwa Ia mengasihi para murid. Karena pernyataan kasih Yesus juga sesuatu yang penting bagi para murid. Mereka merasa dihargai, dijadikan sahabat, diterima dan tidak dianggap sebagai pelayan saja. Begitu juga para murid. Beberapa murid dikisahkan menyatakan perasaan kasih mereka kepada Yesus, dan mereka juga membuktikan kasih mereka itu kepada Yesus bahkan setelah Yesus naik ke sorga sekalipun.

 

Bila para murid bisa, maka kitapun bisa, karena kita juga dipanggil untuk menyatakan kasih kita dalam setiap perkataan maupun perbuatan kita. Hanya saja menyatakan kasih secara holistik demikian bukan perkara sederhana. Banyak tantangan dan pergumulan yang harus dihadapi baik dari dalam diri mereka yang bersedia menunjukkan kasihnya kepada sesama maupun sesama yang menerima kasih tersebut.

 

Memang semua orang ingin dikasihi, tapi yang harus menjadi catatan adalah semua orang ingin dikasihi dengan cara yang tepat menurut mereka pribadi. Sehingga banyak dari mereka yang dikasihi sedemikian rupa oleh orang-orang disekelilingnya, namun tetap tidak merasa dikasihi. Apa yang dapat kita lakukan untuk mampu mengasihi sesama dengan perkataan maupun perbuatan?

 

  1. MENGASIHI DENGAN KUASA ROH KUDUS. (Kisah 4) kita butuh belajar mengasihi, karena sesungguhnya kita tidak tahu bagaimana mengasihi. Hanya Tuhan yang tau mengasihi kita secara tepat. Kasih adalah memberian Allah sendiri, jadi biarkan diri kita dituntun oleh Roh ALLAH yang penuh kasih tersebut, hingga kita mampu mengasihi dengan sempurna baik dengan perkataan maupun perbuatan. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa kita dipimpin oleh Roh Allah? Atau Bagaimana caranya kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh Allah? Dalam kisah para rasul, Petrus secara khusus sedang menunjukkan kasihnya kepada Allah. Petrus yang saat itu dikuasai oleh Roh kudus, tidak mementingkan keselamatan dirinya sendiri. Yang Ia nyatakan adalah kasih dan kesetiannya kepada Yesus, yang adalah Tuan dan Gurunya. Ia mempu memberi kesaksian kepada orang –orang Yahudi yang mengejarnya (bahkan dalam konteks ini bukan sekedar orang Yahudi biasa, namun para pemimpin, tua-tua dan Imam besar. Kasih Petrus kepada Yesus dinyatakan lewat keberaniannya menanggung resiko. Roh Kudus memapukan manusia untuk menanggung resiko, dari kasih itu sendiri. Dan bukan sekedar hal yang enak dan nikmat, yang dihasilkan oleh kasih tersebut. Kasih membawa banyak konsekuwensi, dan bukan melulu yang indah dan bahagia. Kasih yang sejati adalah kasih yang sedia menanggung penderitaan bukan menerima yang manis saja.

 

  1. MENGASIHI DALAM KEBENARAN. 1 Yoh 3:16-24. Bila kita mengasihi seseorang, namun membiarkan orang tersebut berada dalam ketidakbenaran, maka sesungguhnya itu bukan kasih, namun sebuah pembiaran. Posisi yang sulit bukan? karena di satu sisi kita ingin orang yang kita kasihi merasakan kasih kita, melalui pengertian, kesabaran, dan lain sebagainya yang membuat mereka merasa nyaman. Namun cara demikian bukanlah cara yang tepat, karena kita akan melakukan pembiaran sehingga dapat menyebabkan hal yang buruk menimpa orang yang kita kasihi tersebut. “ Adakalanya kebenaran menyakitkan” pernyataan tersebut tidak salah juga. Ada kalanya kebenaran membuat kita harus mengoreksi, membersihkan, menata, hal-hal yang selama ini membuat kita mersa nyaman. Kebenaran membuat kita melakukan perubahan, dan perubahan itu tidak selalu menyenangkan. Kasih yang sejati selaku diberikan dalam kerangka kebenaran, karena kasih sejati harus mampu membuat orang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dan bukan hanya membiarkan dalam kenyamanannya.

 

  1. MENGASIHI BUTUH USAHA, KERJA KERAS DAN KETERATURAN. Yohanes 10 :11-18. Seberapa besar usaha saudara untuk membuktikan kasih saudara kepada sesama? Bila usaha yang dilakukan belum besar, jangan-jangan kasih saudara kepada sesama juga tidak besar, hanya sekedarnya saja. Semakin besar kasih seseorang semakin besar usaha untuk membuktikannya, semakin besar juga kerja kerasnya, bahkan akhirnya kasiih itulah yang mengubah dirinya sendiri, dan bukan hanya orang lain. Seorang gembala yang memiliki domba2, akan bertanggung jawab secara penuh kepada domba-dombanya. Ia tidak akan meninggalkan domba-dombanya itu sesulit apapun domba2nya ditangani. Ia akan memberikan yang terbaik kepada para dombanya. Dan itu mengubahnya menjadi gembala yang kreatif, cekatan, menjadi semakin expert dalam bidangnya. Apapun yang menjadi kendala dihadapinya. Ia tidak akan menyerah dan tidak akan berhenti untuk selalu mengusahakan yang terbaik bagi para dombanya. Hasilnya? Dombanya juga mengalami pertumbuhan yang baik, mereka mengenal gembalanya, menjadi satu kawanan yang tidak saling menghabisi namun yang membangun, menumbuhkembangkan, memperkaya. Hebatnya, domba-domba yang diluar kandangpun akhirnya menjadi milik sang gembala (karena begitu tekunnya ia) Kasih yang sejati menghasikan kesungguhan, tanpa pamrih. Bukan sesuatu yang meminta balasan, namun sesuatu yang terus berkembang, bertumbuh menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

 

arrow