MEMPERJUMPAKAN ALLAH

 

YEREMIA 17:5-10
MAZMUR 1
1 KORINTUS 15:12-20 LUKAS 6: 17-26

Berjumpa dengan Allah dapat menjadi tantangan terbesar umat yang dikepung kompleksitas hidup dunia modern. Suara Allah yang begitu lembut, yang sulit terdengar dalam kesunyian sekalipun, menjadikan perjumpaan denganNya adalah sesuatu yang nyaris mustahil. Akhirnya umat hanya menjalani hidup hari demi hari, tanpa adanya kerinduan untuk berjumpa denganNya, ataupun mengalamiNya. “Tuhan memang tidak nampak bukan?”

Mencari Dia untuk menemukan atau merasakanNya, seakan hanya sekedar buang -buang waktu. “Toh, bila Dia ingin berjumpa dengan kita, Dia yang akan menunjukkan diriNya pada kita bukan? Dia yang menemukan kita dan bukan kita yang menemukan Dia; bukankah itu inti dari teologi Kristen? Memang tidak salah juga bila kita berpikir demikian, namun bila hanya itu cara berpikir kita, maka hidup kekristenan kita tidak akan bergerak ke level yang lebih baik. Kita akan mengalami kelumpuhan spiritual, yang Tanpa sadar akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita sebagai pribadi, bagian dari keluarga, dan juga sebagai tubuhNya.

Di sisi lain, begitu banyak manusia yang rindu mencari dan menemukan Tuhan. Mereka menempuh berbagai macam cara. MencariNya dengan mengunjungi macam persekutuan dan denominasi gereja. Mencoba mamahamiNya dengan mempelajari macam ajaran agama dan kepercayaan. MerasakanNya melalui mencoba berbagai macam jenis spiritualitas yang ditawarkan dunia. Salahkah? Tidak juga. Mereka hanyalah jiwa-jiwa yang mengalami kehausan, kelaparan akan sosok Allah, mencoba menemukan kedamaian jiwa yang sejati. Namun tentu pencarian diri tanpa tuntunan juga dapat berbahaya. Manusia dapat mencampur adukan semua jenis kebenaran yang ditemukannya tanpa melihatnya secara tepat.

Berjumpa dengan Allah adalah suatu kebutuhan yang sering kali tidak disadari oleh banyak umat Tuhan. Roh kita perlu diisi, disegarkan, diperbaharui. Dan hanya Allahlah yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara tepat dengan kebenaranNya. Tidak ada satupun manusia yang mampu mengisinya dan memenuhi kebutuhan tersebut. Tapi bukan berarti kita tidak dapat dipakai menjadi alatNya, untuk memperjumpakan diriNya yang kudus, melalui kefanaan kita sebagai manusia, kepada sesama yang membutuhkan perjumpaan tersebut.

Dalam bacaan injil Lukas kita hari ini, kita menemukan bahwa Yesus dirindukan begitu banyak orang. Banyak orang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk disembuhkan dari penyakit dan dibebaskan dari roh jahat. Mereka berusaha untuk menjamahNya. Kata menjamah menujukan sebauh aktivitas yang dilakukan tanpa persetujuan dari Yesus dan atau ajakan dari Yesus. Menjamah adalah aktifitas yang dilakukan umat karena begitu rindunya akan perjumpaan dengan jamahan Allah.

Dalam bagian ke dua, Lukas memang mencatat ucapan bahagia yang cukup berbeda dengan yang dicatatatkan Matius. Lukas memberikansebuah catatan bukan dalam simbol. Ia sedang benar-benar merujuk pada mereka yang lapar, yang menangis, yang dibenci dan dikucilkan, dicela dan ditolak. Yesus meyampaikan sebuah sapaan Allah kepada mereka dengan memberi kesembuhan, kelegaan, penghiburan, kesembuhan bagi umatNya. Ia menunjukkan sebuah kepeduliaan bukan Hanya lewat kata, namun lewat segenap pelayananNya di tengah umat.

Setiap kita dapat menjadi tangan, kaki, suara, hembusan nafas Allah bagi orang di sekitar kita. Namun pertama-tama kita harus siap mendengar arahanNya, kemana Ia mau memakai dan mengutus kita. Tanpa kepekaan terhadap kehendakNya kita tidak akan dapat menjalankan panggilanNya. Kerinduan untuk dijamah dan diubahkanNya, bukan hanya mendapat berkatnya, merupakan hal yang terus harus dipupuk dalam diri setiap anakNya. Jangan pernah menghilangkan kebutuhan itu. Kita adalah ciptaanNya, tidak mungkin kita dapat hidup secara tepat menurutNya, tanpa datang kepadaNya dan memohon petunjukNya.

Sayangnya banyak Dari umatNya merasa mereka tidak layak, tidak mampu, tidak dapat berjumpa dengan Allah dengan berbagai macam alasan. Ya benar, memang tidak ada satupun dari kita yang

layak di hadapan Allah, namun bukan berarti tidak dapat berjumpa dengan Allah bukan. Allahlah yang melayakkan kita, juga meminta kita untuk memiliki kerinduan berjumpa denganNya. Allah tidak pernah memaksakan sebuah perjumpaan. Ia ingin bukan hanya Dia yang mengharapkan perjumpaan dengan ciptaanNya. Ia ingin kita juga merindukan sebuah perjumpaan denganNya.

Dengan perjumpaan kita, dapat memperoleh begitu banyak hal. Layaknya sebatang pohon yang ditanam di tepi aliran air. Apapun yang diperbuat kita berhasil, berbuah pada musimnya dan tidak layu daunnya. Tuhan memberi kita sebuah jaminan akan keselamatan secara holistik, yaitu keselamatan yang dapat dinikmati tidak hanya nanti di Rumah Bapa, namun juga di dunia.

Rindukah engkau berjumpa denganNya, agar engkau mampu memperjumpakan Allahmu yang kudus pada sesamamu.

arrow