Membuka Isolasi, Menjalin Relasi

Kehadiran Kristus di tengah dunia kadang tidak dipahami secara utuh oleh gereja. Gereja hanya melihat kehadiran Kristus sebagai sang Juruselamat, yang mati di atas kayu salib demi pengampunan dosa dunia. Memang tidak keliru, namun gereja perlu juga memahami bahwa aksi dan relasi yang Kristus kerjakan di dunia, seharusnya juga menjadi aksi dan relasi yang senantiasa kita usahakan di dalam kehidupan bergereja kita.

Yesus datang untuk terjun dalam karya-karya nyata di tengah kehidupan sosial politik yang saat itu sedang menjerat dengan begitu kuat umat Tuhan. Begitu banyak tekanan dan ikatan yang diciptakan pemerintah Roma bagi bangsa Yahudi pada masa itu. Lebih dari itu setiap umat dikelompokkan beradasarkan tingkatan pemahaman bangsa Yahudi tentang apa yang halal dan najis. Tentu bukan hal yang menyenangkan tinggal dan hidup bermasyarakat dengan begitu banyak sekat dan ikatan-ikatan. 

Yesus mencoba untuk menembus dan membuka semua ikatan yang ada. Memang bukan hal yang mudah yang dihadapi Yesus sebagai orang Yahudi , keturunan Raja Daud sekalipun. Banyak anggapan dan penolakan yang Yesus terima. namun Ia pantang menyerah utuk menyatakan apa yang Allah inginkan bagi umat-Nya, yaitu kehidupan yang sejahtera dan sukacita bagi seluruh manusia ciptaan-Nya.

Hingga jaman modern, dimana manusia seharusnya lebih bebas dari sekat, karena keterbukaan serta  kemajuan teknologi dan informasi yang mampu membuka banyak hal terhadap hampir semua orang, ternyata sekat dan kompertementalisasi tetap ada, bahkan makin nampak. Kelompok-kelompok tertentu dengan begitu giat saling menampakkan identitas kelompok mereka dengan sangat ekstrim, hingga perpecahan dan kebencian semakin kuat dan marak. 

Tidak salah membela atau menunjukkan identitas kita, apalagi bila itu adalah identitas kita sebagai anak Allah. Namun tentunya, menunjukkan identitas bukan untuk menimbulkan kebencian dan perpecahan. Identitas kita sebagai anak Allah haruslah nampak dan semakin kuat setiap harinya, dan tentunya untuk menunjukkan lebih lagi belas kasih Allah kepada semua umat manusia dan bukan bagi kelompok sendiri, juga bukan untuk mendiskriminasikan kelompok lain yang berbeda.

Kecintaan Tuhan kepada umat-Nya, harus menjadi pendorong bagi kita menunjukkan cinta kasih terhadap sesama. Kasih dan cinta Tuhan harusnya menjadi inspirasi yang begitu kuat bagi kita mengada bagi sesama, dan merangkul sesama dalam balutan pengertian dan kesabaran. Itulah yang Tuhan inginkan menjadi identitas yang kuat di dalam diri setiap anak-anak-Nya. Ia mau kita ada untuk menjalin, menjaga relasi hingga kemudian sesama mampu merasakan karya Allah dalam relasi yang kita bangun. 

Memang membutuhkan harga yang mahal untuk sebuah relasi yang sehat dan saling menumbuhkan. Namun harga tersebut telah dibayar oleh Yesus sendiri, dan kita, hanya melanjutkan karya yang telah dibayar lunas oleh kehidupan, kematian  dan kebangkitan Kristus. Tidak ada harga yang lebih mahal dari harga yang dibayar Kristus. Kita sebagai anak dan mengikut-Nya, bukankah perlu juga mengikuti rekam jejak-Nya? 

YLH

arrow