Membenci Dosa, Mengasihi Pendosa

Bacaan: Yesaya 1 : 10-18, Mazmur 32 : 1-7, 2 Tesalonika 1 : 1-4,11-12, Lukas 19 : 1-10

Di Minggu Biasa ini, kisah persahabatan dan penerimaan yang ditunjukkan Yesus kepada Zakheus mengajar kita untuk dapat memiliki sikap yang tepat ketika berhadapan dengan orang yang dapat dikategorikan pendosa.

Di era digital, ketika semakin banyak orang mengenal media sosial, kita semakin sering menyaksikan bagaimana kesalahan dan dosa dipertontonkan dan diviralkan di berbagai media sosial. Tidak kalah viral adalah bagaimana respons orang yang menyaksikan kesalahan atau dosa sesama itu ternyata memberikan komentar yang sebenarnya sama jahatnya dengan kesalahan atau dosa yang dilihatnya. Misalnya : melihat video bullying yang dilakukan pelajar, maka reaksi si netizen biasanya adalah ingin balas memukul, menyakiti dan berbagai kata-kata yang sama-sama mengungkapkan kekejian.

Tidak berbeda dengan dunia maya, di dunia nyata orang bisa sama garangnya ketika berhadapan dengan dosa dan kesalahan sesama. Entah sadar atau tidak, di dalam sikap “garang“ terhadap dosa orang lain itu, mereka sebenarnya sama-sama melakukan dosa tetapi pada bentuk yang berbeda.

Mengapa orang bersikap demikian? Kita hidup dalam suatu pandangan bahwa orang yang berdosa ataupun bersalah itu pantas untuk dihukum maupun dihakimi. Kalau perlu lebih berat dari pada dosa maupun kesalahannya. Mengapa pandangan ini muncul? Itu bisa terjadi oleh karena orang-orang yang melakukannya pernah mengalami diperlakukan sebagai orang yang berdosa dan bersalah, sehingga ketika menyaksikan dosa atau kesalahan orang lain, ia cenderung berbuat yang sama. Di dalam kisah Zakheus, masyarakat yang beragama kala itu sangat akrab dengan berbagai hukum yang siap menelanjangi dosa dan kesalahan seseorang. Oleh karenanya, mereka menganggap biasa bahwa orang berdosa itu juga seharusnya ditelanjangi dosa dan kesalahannya. Orang berdosa pantas dicaci, dikutuk, dihukum, dihakimi dan ditolak. Karena itu mereka sangat sulit melihat Yesus yang berkenan menerima, mengasihi, bahkan bergaul dengan orang-orang berdosa.

Dikotomi berdosa dan tidak berdosa menjadi sangat destruktif.

Yang selalu  dianggap tidak rohani. Yang berdosa bahkan tak punya kesempatan memperoleh kebaikan. Mereka dianggap tidak layak hidup. Sebaliknya, yang tidak berdosa adalah yang rohani, yang saleh, yang merasa telah rampung mengenal Tuhan, yang cakap dalam segala hal, dan yang selalu menyenangkan hati Tuhan. Padahal, status yang rohani dan yang tidak berdosa itu diperolehnya dari penghakiman atas perbuatan orang lain dan tidak disertai perubahan hati dan sikap. Padahal, apakah orang-orang yang menganggap dirinya saleh benar-benar hidup dalam kemurnian dan berkenan dihadapan Allah? Justru realita menyatakan yang sebaliknya. Mereka juga mempunyai dosa-dosa yang tersembunyi.

Yesus mengajarkan cara yang berbeda dalam memperlakukan pendosa, Yesus mengasihi pendosa meski Ia juga membenci pendosa. Tawaran persahabatan dan penerimaan Yesus kepada Zakheus membuatnya berjumpa dengan kasih Allah. Kasih Allah itu membuatnya bersukacita dan mengalami perubahan hidup yang menjadi berkat bagi sesama.

Diambil dari : Dasar Pemikiran – Dian Penuntun, Rancangan Khotbah Leksionari

arrow