Memandang Dengan Sebelah Mata

2 Raja-Raja 5 : 1-3; 7-15, Mazmur 111, 2 Timotius 2 : 8-15, Lukas 17 : 11-19

Minggu ini adalah Minggu Biasa di mana umat diajak untuk bertumbuh dalam nilai-nilai Kristiani sebagai bagian dari pertumbuhan iman mereka kepada Allah. Ketiga Bacaan Leksionari kita hari ini memaparkan kenyataan bahwa Allah dapat memakai orang-orang yang tidak terduga – termasuk mereka yang sering dianggap remeh oleh orang-orang di sekitarnya – untuk menyatakan kasih karunia-Nya dan melaksanakan rencana-Nya. Kenyataan ini mengajar kita untuk tidak memandang remeh orang lain, siapa pun mereka, apa pun alasannya.

Salah satu nilai yang dikembangkan dalam rancangan kurikulum GKI adalah keterbukaan, dengan pengertian bersikap inklusif.

Dalam praktiknya, sikap inklusif diwujudkan dalam kesediaan untuk menerima dan bekerjasama dengan orang lain, siapa pun mereka.

Tentu tidak mudah mengembangkan sikap inklusif di tengah masyarakat yang cenderung bersikap eksklusif. Dalam praktiknya, sikap eksklusif diwujudkan dalam bentuk memisahkan diri dari orang lain atau kelompok lain dan membentuk kelompok yang tertutup bagi orang lain.

Mengapa kita cenderung bersikap eksklusif? Selain kebutuhan akan rasa aman, sikap eksklusif juga erat hubungannya dengan kecenderungan menganggap rendah orang atau kelompok lain. Kepada orang-orang yang terhormat atau memiliki kekuasaan, biasanya kita lebih membuka diri. Kita bersedia bergaul dengan mereka, atau bahkan ingin memasukkan mereka ke dalam kelompok kita. Mengapa? Orang-orang seperti itu akan memberikan keuntungan – moril maupun materiil – bagi kelompok kita.

Namun, kepada orang-orang yang kita pandang rendah atau orang-orang yang tidak berdaya, kita cenderung menutup diri kita, atau bahkan ingin menyingkirkan mereka dari komunitas kita. Mengapa? Kita berpikir bahwa orang-orang semacam ini hanya akan merepotkan kita dan membawa kerugian bagi komunitas kita. Haruskah kita membiarkan kecenderungan seperti ini merajalela di tengah masyarakat dan di dalam gereja?

 

 

*Diambil dari Dasar Pemikiran – Dian Penuntun, Rancangan Khotbah Leksionari

arrow