KERAMAHTAMAHAN SEBAGAI NILAI HIDUP

 

KEJADIAN 18:1-10

MAZMUR 15

KOLOSE 1: 15-28

LUKAS 10:38-42

Masih adakah keramahtamahan di jaman now? Apakah keramahtamahan yang ada hanyalah sekedar basa basi? Atau sekedar mempertahankan apa yang disebut sebagai budaya Timur. “ “Kan kita orang timur, harus sopan dong, beda sama orang barat, yang hidupnya bebas, nggak ada tata kramanya.” Tidak jarang saya mendengar orang berkata demikian; dan saya berpikir sejauh mana tata krama yang sesungguhnya dilakukan oleh masyarakat ini, terutama oleh umat Allah di tengah komunitas dimana mereka ada. 

Sepengalaman saya, masyarakat Indonesia, yang kerap kali mengaku orang Timur dengan budaya keramahtamahannya yang begitu kental, ternyata tidak dapat disebut sebagai orang-orang yang mampu menunjukkan keramahan tersebut. Hampir empat tahun yang lalu, pada kehamilan saya yang pertama, saya merasakan betapa sulitnya bergerak dengan perut besar. Suatu saat ketika saya berbelanja di sebuah Mall terkenal di kawasan Jakarta Barat, saya yang biasanya memilih tangga berjalan atau escalator, kini memilih lift. Dengan perut besar, perempuan hamil yang seharusnya menjadi prioritas, bahkan tidak dipandang. Para pengunjung dengan mudah  melenggang masuk ke dalam lift, tanpa memperdulikan saya, yang  saat itu memegang begitu banyak barang belanjaan. Bahkan mereka rebutan untuk masuk ke dalam lift tersebut, siapa cepat dia dapat. Baik laki-laki maupun perempuan ( yang seharusnya lebih mengerti dan lebih mampu berempati) tidak ada yang mempersilahkan saya masuk ke dalam lift.

Tanpa rasa perduli, apalagi bersalah, mereka menyenggol dan mendesak perut saya dengan barang bawaan mereka. Seolah isi perut saya bukanlah seorang bayi, namun hanya bantal besar yang disisipkan dibawah baju, layaknya pemain sinetron. Di tengah perasaan yang begitu kesal, dan perut yang nyeri karena sikut dan tas pengunjung mal yang ada di depan, dan samping saya, sesaat saya hendak keluar dari lift tersebut, seorang laki-laki bule yang hendak masuk menahan pintu lift, mempersilahkan saya keluar terlebih dahulu, bahkan menahan pengunjung lain baik yang hendak keluar, maupun masuk ke dalam lift tersebut. “Wahhh thank you very much sir!! Really appreciate! God bless you!” Dengan lantang saya mengucapkan terima kasih di depan semua pengunjung yang ‘terjebak’ di dalam dan luar lift, karena tubuh bapak bule, yang memang cukup besar menghadang semua pengunjung yang jauh lebih kecil tubuhnya. Bak putri mau lewat saya diperlakukan dengan begitu sopan, bukan oleh orang-orang sebangsa, yang mungkin sekali di dalamnya juga  terdapat umat Tuhan, namun oleh seorang asing yang bagi banyak orang dianggap sebagai makhluk tanpa norma dan agama. 

Keramahtamahan sejati bukanlah sekedar norma dan tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keramahtamahan datangnya dari Allah sendiri, dari hati yang memanusiakan manusia, mata yang tidak hanya sekedar melihat namun mencoba untuk memenuhi kebutuhan sesama. Keramahtamahan adalah nilai unggul yang seharusnya dimiliki oleh manusia, yang segambar dan serupa dengan Allah. Keramahtamahan adalah bukti budi luhur manusia yang membedakannya dengan ciptaan lain di muka bumi. Sayangnya memang keunggulan ini semakin lama semakin tergerus dosa. Manusia makin jauh dari gambar Allah, makin jauh dari sebutan makhluk berbudi. 

Apa kata Tuhan Sesungguhnya soal keramahtamahan:

  1. BUKTI KEHADIRAN ALLAH DALAM DIRI. Keramahtamahan bukan sekedar nilai budaya orang timur. Keramahtamahan adalah bukti kehadiran Allah dalam diri kita sebagai manusia. Allah yang hidup, yang mengubah hidup kita, cara pandang kita, tutur kata kita, ketika dilihat ataupun tidak oleh sesama. Ketika berhadapan langsung ataupun ketika kita berada di belakang sesama. Keramahtamahan akan muncul dimanapun kapanpun, selama Allah sungguh berdiam dalam diri kita sebagai manusia. Bila kita hanya manis di depan, namun di belakang, segala sumpah serapah, kata-kata negatif dan buruk, terucap dengan mudah, berarti keramahtamahan kita hanyalah topeng dan wujud dari basa basi. Karena bukan Allah yang menjadi pendorong utama untuk menjadi ramah, namun hanya karena ingin tampil baik di hadapan orang. Kalau Allah menjadi pendorong utama bagi kita menunjukkan keramahtamahan, maka dimanapun, di depan maupun di belakang, kita akan menunjukkan hal yang sama. Menunjukkan kasih, dan bukan hujat, menunjukan kebaikkan dan bukan bicara tentang keburukkan, menyatakan apa yang benar menurut Allah dan bukan menurut diri sendiri. Keramahtamahan hadir tidak dipengaruhi dari seberapa seringnya kita mendengar Firman Tuhan, mengikuti segala aktifitas keagamaan, persekutuan doa, bahkan doa semalam suntuk. Keramahtamahan bukanlah karakter manusia, namun karakter Allah. Karenanya keramahtamahan hadir sebagai bukti Allah yang sungguh berdiam dalam hati dan pikiran kita, selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.
  2. DITUNJUKKAN DENGAN PENYAMBUTAN DAN BUKAN PENGHAKIMAN. Teknologi di masa modern seperti sekarang ini memudahkan kita untuk berhubungan dengan teman, bahkan orang asing sekalipun. Facebook, instagram, whatsapp dan berbagai media sosial lainnya memperjumpakan kita dengan kehidupan sesama. Dengan melihat unggahan di media sosial mereka, tanpa sadar pikiran dan hati kita dipicu untuk menilai kehidupan orang lain. Dengan mudah kita menjadi iri karena unggahan sesama yang menunjukkan nikmatnya hidup dengan berpergian ke tempat-tempat yang hits, memiliki barang-barang yang mewah dan menyantap makanan-makanan yang kekinian. Tanpa sadar teknologi menjadikan kita makhluk yang mudah menilai dan menghakimi kehidupan orang lain. Seseorang dapat menjadi follower, sekaligus menjadi hatters setia bagi sesamanya. Ungkapan-ungkapan sinis, buruk tentang orang lain dengan mudah diekspresikan, dengan alasan: hak netizen. Kita tidak lagi terbiasa menyambut orang lain (apalagi orang asing), namun menjadi biasa untuk menghakimi dan memberi penilaian buruk dan negatif tentang orang lain. 
  3. DINYATAKAN DALAM KESEDIAAN MENDENGAR DAN BELAJAR DARI ORANG LAIN. responsif, menjadi kelemahan begitu banyak orang, termasuk umat Tuhan. Kita malas mendengar, namun dengan mudah menyampaikan isi pikiran dan hati, yang bahkan diucapkan tanpa diolah kebenarannya, juga caranya. Kita tidak pernah mau tau alasan, kisah, latar belakang orang lain (yang pastinya berbeda dengan kita), tapi dengan mudah memberi penilaian. Keengganan belajar dan mendengar menjadi problematika utama yang dialami olh begitu banyak keluarga. Banyaknya anak, merasa mereka tidak dikasihi orang tuanya, bukan karena orang tuanya tidak berusaha memberi yang terbaik. Setiap orang tua pasti ingin memberi yang terbaik kepada anak-anaknya, namun tidak semua orang tua mau mendengar apa yang sesungguhnya dibutuhkan sang anak. Kebanyakan orang tua hanya mau didengarkan namun tidak mau mendengarkan. Mereka mengira karena usia yang lebih tua, maka, mereka lebih tahu, lebih mengerti yang menajdi kebutuhan anak-anak mereka, tanpa mau mendengar dang anak berkisah tentang isi hati dan pikirannya. Begitu juga Marta, yang merasa paling tahu apa yang Yesus inginkan dan butuhkan. Hingga ia menilai apa yang dilakukan Maria adalah sesuatu yang keliru. Keramahtamahan adalah kesediaan mendengar dan belajar dari orang lain, kemauan untuk mengerti keadaan dan kondisi orang lain dan bukan memaksakan cara pandang kita kepada orang lain.

Mungkin saudara berkata:” Untuk apa saya ramah dan mementingkan orang lain, toh orang lain tidak melakukan hal yang sama untuk saya. Malah saya dipergunakan orang karena keramahtamahan yang saya tunjukkan.” Ya, memang hal demikian menjadi pembelaan dan alasan untuk tidak menunjukkan keramahtamahan kepada sesama. Namun, bukankah Tuhan menginginkan kita tetap menjadi orang-orang yang ramah, ketika dunia tidak ramah sekalipun kepada kita. Ketika orang-orang tidak perduli dan tidak menghargai keramahtamahan yang kita tunjukkan? Bukankah tidak ada yang sia-sia di dalam Tuhan? Bila kita mengerjakannya dengan ikhlas hati bukan dengan paksaan atau keinginan untuk dibalas keramahtamahannya? Tidaklah perlu kita bertanya apa untungnya bagi kita menjadi seorang yang ramah, karena Tuhanlah yang melihat, dan Dia adalah Allah yang tidak pernah berhutang. Jadilah ramah, seorang kepada yang lain, karena itulah yang baik yang Tuhan inginkan.

arrow