KEMULIAAN ALLAH PADA MUKA KRISTUS

2 Raja2:1-12; Maz 50:1-6; 2 Korintus 4:3-6; Mark 9: 2-9

Minggu ini kita memasuki minggu transfigurasi. Apa arti dari transfigurasi ini? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, transfigurasi adalah sebuah perubahan bentuk atau rupa; metamorfosis; penjelmaan. Namun di dalam kamus Webster ada sebuah makna lain yaitu exalting, glorifying, atau spiritual change. Jadi, dapat dikatakan bahwa perubahan yang dialami oleh Yesus bukanlah sebuah perubahan dalam artian fisik semata-mata, namun sebuah perubahan spiritual. Peristiwa transfigurasi menandakan sebuah tansisi dari pelayanan Yesus dalam rupa pengajaran dan penyembuhan, menuju pelayanan dalam rupa pengorbanan di Yerusalem.

Dalam peristiwa transfigurasi ini, Yesus berubah rupa di hadapan Petrus, Yakobus dan Yohanes. PakaianNya menjadi sangat putih berkilat-kilat. Dan tidak seorangpun di dunia ini dapat mencuci hingga putih seperti demikian. Di hadapanNya muncul 2 orang sosok yang begitu dimuliakan oleh bangsa Yahudi. Mereka adalah Elia dan Musa, keduanya nampak berbicara dengan Yesus. Dan dalam peristiwa tersebut ada suara BapaNya yang menegaskan siapakah Yesus sesungguhnya. Sebuah kegaguman serta keterkejutan bagi para murid, melihat sang Guru mengalami peristiwa yang begitu besar dampaknya.

Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan perubahan yang dialami oleh Yesus yang dapat dilihat oleh mata para murid saja, tapi juga memberikan sebuah perubahan sikap hati yang diwujudnyatakan lewat kesediaan dan kesiapan menjadikan diri sebagai kurban penebusan dosa bagi manusia. Perubahan yang satu diiringi dengan perubahan yang lain. Perubahan di dalam diri harus diiringi dengan perubahan yang nampak dalam tindakan dan keseluruhan hidup.

Peristiwa transfigurasi tidak hanya terjadi pada diri Yesus, namun juga terjadi pada diri para murid. Para Murid melihat bagaimana Yesus dimuliakan di atas gunung, dan peristiwa itu begitu membekas pada ingatan mereka, mengubah hidup dan persepsi mereka tentang hidup dan pelayanan, perlahan tapi pasti. Para Murid yang melihat Musa dan Elia dalam wujud nyata, meyakinkan mereka akan kehadiran Yesus sebagai utusan Allah. Para murid disadarkan dan teguhkan imannya, bahwa benarlah Yesus adalah Anak Allah yang Maha Tinggi.

Mari kita pelajari dari bacaan minggu ini bagaimana para tokoh mengalami proses perubahan yang begitu signifikan dalam kehidupan mereka

  1. Apa yang bisa kita pelajari dari Elisa, sehingga ia dapat melihat kemuliaan Allah lewat Elia yang terangkat ke Sorga? Kepergian Elia ke sorga bukanlah kabar baik bagi Elisa. Bagi Elisa ditinggal oleh tuannya rasanya adalah kematian. Elisa begitu tertekan, apalagi ketika kabar Elia akan terangkat ke sorga tidak hanya diketahui oleh Elisa sendiri, namun oleh rombongan para nabi yang ada di Betel dan Yerikho. Perpisahan tidak pernah mudah bagi manusia, apalagi harus berpisah dengan orang yang begitu dikasihi. Namun kekerasan hati Elisa untuk menyertai Elia bukan semata-mata karena ia tidak mau berpisah dengan Elia, namun karena ia menginginkan jaminan untuk dapat hidup dalam panggilannya, untuk menjalankan dan menyatakan kebenaran yang Allah inginkan. Elisa mengalami keraguan dalam hatinya. “Akankah aku disertai Allah seperti Elia disertai Allah?” “Mampukah aku melanjutkan tugas dan tanggung jawab yang besar ini”. Elisa tidak menolak untuk melanjutkan tugas dan panggilannya walau ia harus ditinggal oleh Elia. Ia tidak mengurung diri, atau memilih untuk mundur ketika ia tau akan ditinggalkan oleh tuannya. Ia juga tidak marah dan memilih untuk meninggalkan tuannya. Namun sebagai manusia ia mengalami keraguan yang tidak sedikit. Apalagi bila ia melihat bagaimana Elia dipakai Allah. Elia tau apa yang dibutuhkan oleh Elisa, karenanya ia bertanya apa yang hendak dilakukannya kepada hambanya itu ( ay 9-10) dan Elia membiarkan Elisa melihat ia diangkat oleh Allah dalam badai. Elia tahu bahwa Elisa membutuhkan peneguhan untuk menjalankan panggilannya dan meneruskan pelayanan Elia. Dengan keteguhan hati Elisa, untuk terus berada dalam panggilannya, ia menyaksikan naiknya Elia ke sorga, dan lebih dari itu ia mendapat kuasa dari Allah yang memampukan ia melayani seperti Elia melayani.
  2. Para murid. Hari itu para murid (Petrus Yakobus Yohanes) dibawa oleh Yesus ke atas gunung yang tinggi. Mengapa hanya 3 murid yang dibawa? Apakah Yesus pilih kasih? Sehingga Ia membeda-bedakan murid2nya? Mungkin bukan karena Yesus pilih kasih, sehingga hanya 3 orang murid ini yang dibawanya ke atas gunung. Ada beberapa spekulasi yang kita dapatkan melalui kisah ini. Pertama, Bahwa Yesus mengajak semua murid, namun hanya 3 yang menanggapi ajakan Yesus. Kedua, bahwa murid-murid inilah yang sungguh mengikuti hidup Yesus, dimana Yesus bangun pagi-pagi merekapun sudah bangun pagi-pagi untuk belajar dari hidup Yesus. Dimana Yesus berada merekapun berada. Dan kemana Yesus pergi mereka pun ikut serta. Ketiga, bahwa Yesus tahu apa yang akan mereka hadapi dalam kehidupan mereka sebagai pengikut Kristus. Panggilan hidup dalam iman mereka yang tidak mudah dan bahkan begitu menginspirasi. Yakobus adalah murid pertama yang mati kareka Kristus, Yohanes adalah murid yang saksi terakhir dari keduabelas murid. Dan Petrus sendiri menjadi murid yang paling berpengaruh dan mati dengan cara disalib terbalik. Hal lainnya yang akan kita cermati adalah Yesus mengajak mereka naik ke gunung yang tinggi . tentu bukan sembarang gunung. Para Ahli mengatakan kemungkinan ada 2 gunung yang menjadi tempat transfigurasi Yesus. Yang pertama adalah gunung hermon, dan yang kedua adalah gunung Tabor. Melihat daerah pelayanan Yesus sebelum ia dimuliakan adalah sekitar Galilea, maka gunung taborlah yang ada disana. Dengan ketinggian kurang lebih 575 m, gunung Tabor menjulang tinggi di daerah itu, namun cukup realistis bagi Yesus dan para murid naik kesana. Sedangkan gunung Hermon tingginya 2 814 m, dan berada di utara Israel. Untuk dapat naik ke gunung yang tinggi. Seseorang harus memersiapkan mental, fisik, dan segala macam perlengkapan yang harus dibawa. Karena dan tidak semua orang siap untuk menaiki gunung yang tinggi. 3 murid Yesus ditantang untuk menaiki gunung yang tinggi dan mereka dinilai siap untuk ikut serta bersama dengan Yesus. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini, bahwa melihat kemuliaan Tuhan butuh keintiman, kesungguhan, kedisiplinan, keteguhan untuk mengenal dan menyaksikan kebesaranNya, yang tidak dapat dialami tanpa kerinduan kepadaNya.

 

Seberapa besar iman kita telah diteguhkan, tentunya juga bergantung pada pengalaman kita bersama dengan Yesus, walau tidak ada satupun dari kita menyaksikan peristiwa transfigurasi seperti yang dialami oleh para murid, bukam berarti kita punya alasan untuk tidak berubah. Kita punya begitu banyak kesempatan dalam hidup kita untuk melihat kemuliaan Yesus. Namun bukankah tidak mudah melihat kemuliaan Allah dalam keseharian hidup yang sudah begitu penuh dengan aktifitas dan hiruk pikuk dunia. Namun Tuhan tetap memanggil kita untuk mengalami, menyaksikan Kemuliaannya, karena dengan begitu kita juga dapat mengalami perubahan dalam hidup.

 

 

arrow