KELUARGA YANG BERSYUKUR

IMAMAT 19:17, AMSAL 23:19-26

 

Kehidupan yang bersyukur tidak dapat dilepaskan dari kehidupan Keluarga Kristen. Berkali-kali tema tentang bersyukur dibahas, namun bersyukur tidak pernah menjadi hal yang mudah. Hingga kini, masih banyak diantara kita masih belajar untuk bersyukur. Bersyukur bukan semata-mata mengucapkan terima kasih ketika kita diberi sesuatu oleh Tuhan atau sesama kita, seperti dibiasakan oleh orang tua kita secara turun temurun.

 

Syukur adalah sebuah kata yang menunjukkan rasa nikmat dari Allah yang ada di dalam hati manusia. Bukan sekedar kata, apalagi ungkapan. Orang yang bersyukur adalah orang yang mampu merasakan nikmat dalam hati dan jiwanya dalam keadaan apapun. Rasa syukur yang sejati lahir dari dalam diri manusia dan bukan dari bibir atau dari kebiasaan dan tradisi keluarga. Dengan rasa syukur itulah manusia mampu menunjukkan kebahagiaannya melalui respon, mimik wajah saat itu maupun perilakunya di masa-masa mendatang terhadap Allah ataupun sesamanya.

 

Mampukah kita merasakan rasa nikmat dari Allah  itu ketika kita melihat anggota keluarga kita? Suami, istri, anak, orang tua, ipar, mertua, menantu kita? Apakah rasa sukacita dan nikmat tersebut tetap ada, walau ada perselisihan, perbedaan, gesekan, dan pergumulan yang tidak dapat dihindari, ketika kita berada bersama mereka? Atau yang ada hanya rasa jengkel, kecewa, sedih, marah dan enggan ketika kita harus bersinggungan dengan mereka, dan sedapat mungkin kita menjauhkan diri kita dari mereka?

 

Hidup yang demikian tentu bukanlah hidup yang menyenangkan untuk dijalani bukan? tak mengherankan ada pepatah yang mengatakan: “salah menikah adalah neraka seumur hidup.” Memang ketika kita ‘salah’ mencari pasangan hidup maka segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita hanya akan menjadi sumber kesengsaraan dan bukan kenikmatan.

 

Namun, bukankah memang tidak ada keluarga yang sempuna? Bukankah tidak ada pasangan yang sempurna? Yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hal ketidaksempurnaan adalah hal yang tidak dapat dihindari dan dilenyapkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Oleh sebab itu, yang perlu kita ingat adalah bahwa Tuhan Allah kita tidak pernah memberikan segala sesuatu tanpa maksud dan tujuan yang baik dan indah adanya. Hanya sudut pandang kitalah yang perlu kita ubah, hingga kenyataan yang harus kita hadapi tidak lagi menyakitkan dan memahitkan hidup kita. Sebaliknya dalam segala persoalan dan rasa tidak menyenangkan Tuhan sedang merenda sebuah karya yang agung mulia.

 

Bagaimana caranya?

  1. Amsal 23:19. “ Hai anakku dengarlah dan jadilah bijak. Tujukanlah hatimu ke jalan yang benar.” Disakiti atau menyakiti adalah hal yang tidak terlepas dalari kehidupan keluarga, begitu juga dengan diberkati dan memberkati. Tapi ada kalanya berkat terlupakan, yang jauh lebih sering dilakukan dan diingat adalah bagaimana kita tersakiti satu sama lain. Rasa tersebut jauh lebih kuat ketimbang rasa terberkati, hingga kita akhirnya terjebak pada perasaan negatif antara satu angota keluarga yang satu dengan yang lain. Tuhan ingin kita tidak terjebak pada perasaan, trauma yang pernah terjadi dalam diri kita. Tuhan mau kita menjadi bijak. Karena apa yang kita alami akan dengan mudah kita ulangi pada generasi-generasi berikutnya, maka kitalah yang harus memilih untuk memutuskan ikatan-ikatan yang menyakitkan tersebut. Tuhan mengajak kita untuk belajar menjadi bijak, dengan mengarahkan hati kita ke jalan yang benar dan bukan apa yang biasa kita lakukan atau anggota keluarga kita lakuan. Jadi, bila anggota keluarga kita sulit untuk saling menghargai, maka belajarlah untuk menghargai, dan bukan membiarkan diri terjebak dengan pola didik dan pola berkeluarga kita yang keliru. “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya” (ay 23).

 

  1. Ay 22. Dengarlah dan Ingat apa yang baik. Mengingat adalah kemampuan yang Tuhan berikan kepada manusia. Kemampuan otak kita begitu luar biasa untuk mengingat, bahkan tubuh, memiliki ingatan yang lebih kuat daripada otak. Seseorang yang kehilangan ingatan sekalipun, secara ajaib tidak kehilangan kemampuan menulis, melukis atau mengenali setiap aktivitas otot yang ia lakukan. Yang perlu dilatih adalah bagaimana otak kita, kita latih untuk mengingat apa yang baik. Dalam kehidupan, tidak akan pernah ada kenangan buruk terus menerus. Tuhan pasti mengaruniakan kenangan baik. Latihlah otak kita untuk mengingat segala kenangan baik itu, walau sulit, walau sedikit, tapi usahakanlah  segala yang baik dari ayah, ibu, kakak, adik, siapapun anggota keluarga kita. Kita dapat tumbuh dan hidup berkarya itu semua karena kelebihan sekaligus kekurangan orang tua kita.

 

  1. Amsal 19:17. Keluarga yang bersyukur bukan keluarga yang diam saja bila ada salah satu anggota keluarga melakukan kesalahan, kekeliruan, ataupun memiliki kelemahan. Rasa syukur tidak akan membuat kita sekedar menerima keberadaan anggota keluarga kita, lebih dari itu merani memberikan teguran yang tulus, bukan untuk melukai, mempemalukan, atau menimbulkan perasan buruk dalam diri anggota keluarga kita. Rasa syukur akan mendorong kita untuk mencari cara meningkatkan hidup anggota keluarga kita. Rasa syukur menolong kita untuk tetap sabar dalam memberikan teguran dan pengasahan tersebut. Rasa syukur akan menjauhkan kita melakukan dosa kepada diri kita sendiri dan juga kepada saudara kita. Bila salah katakan salah, bila benar katakan benar. Jangan kita simpan apa yang benar hanya karena takut, tapi sampaikan kebenaran dengan cara yang terhormat, agar baik kita maupun sesama kita menjadi orang yang terhormat. Latihlah diri kita untuk menyampaikan kebenaran dan teguran dengan cara yang penuh dengan hikmat, yang meredakan amarah, sekaligus memberikan pertumbuhan.

 

 

arrow