Joy Team

Bacaan: II Korintus 2:1-4

Pernahkah saudara mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa “Keluarga bisa menjadi seperti surga di dunia,  tetapi bisa juga menjadi seperti neraka di dunia. Ungkapan lain lagi diperlihatkan dari penjelasan apa itu singkatan KTB?  Ada yang menjawab KTB adalah singkatan dari kelompok (keluarga) tumbuh bersama.  Tetapi ada juga yang menjawab bahwa KTB adalah singkatan dari kelompok (keluarga) tumbang bersama. Kedua pilihan ini merupakan hal yang mungkin terjadi dalam hidup keluarga. Maka penting sekali kesadaran untuk mengisi kehidupan keluarga dengan bijaksana dan selalu memilih hal-hal yang membangun,  baik dalam kehidupan keluarga inti maupun kehidupan sebagai keluarga Allah di gereja.

Dalam bulan Keluarga 2019 di GKI Kavling Polri ini, kita diingatkan untuk menjadi Keluarga yang Peduli dan Berbagi. Melalui tema minggu kedua, kita diingatkan untuk memiliki hidup keluarga yang gembira. Kita harus menjadi joy team, bukan sad team, apalagi angry team. Kita semua harus menjadi keluarga yang bersukacita. Setiap anggota keluarga harus mampu menjadi anggota yang saling membangun dan menghadirkan sukacita, dan bukan melenyapkan atau menghancurkan sukacita.

Sukacita adalah  salah satu aspek buah Roh Kudus.  SUKACITA sering disebut sebagai senyuman kasih. Perjanjian Baru dimulai dengan malaikat-malaikat yang mengabarkan kabar baik yang penuh sukacita yang turun dari surga.

Sukacita  sebagai buah Roh Kudus tidak tergantung pada keadaan luar yang kita alami, tetapi tergantung pada hubungan kita dengan Yesus Kristus.

Menghadapi kesulitan sekalipun, orang Kristen mampu bersukacita ketika ia ada bersama Kristus (I Tes 5:16, Filipi 4:4, Yoh. 15 :1).

Tidak dapat disangkal berbagai tantangan dan masalah dapat merampas kegembiraan keluarga. Rasul Paulus dalam II Korintus 2:1-4 mengajarkan kepada kita agar ketika menghadapi tantangan apa pun keluarga Tuhan bisa ada dalam kegembiraan dan hubungan yang indah. Hubungan Paulus dengan jemaat Korintus tidak selalu harmonis, namun ia tidak mau membuat mereka berduka, atau  dibuat berduka karena mereka. Rasul Paulus  mengambil keputusan untuk tidak datang lagi kepada jemaat Korintus dalam dukacita (II Kor 2:1). Ia menginginkan bertemu jemaat Korintus dalam suasana gembira. Ia  tidak mau pertemuan itu dibuat pahit  oleh suatu peristiwa tidak menyenangkan yang muncul akibat perselisihan. Ketika ia harus menegur jemaat  Korintus, ia memperhatikan cara dan waktu yang tepat. Ia ingin jemaat Korintus tahu betapa besarnya kasihPaulus kepada mereka semua. Paulus rindu dapat menyelesaikan masalahjemaat Korintus dengan penuh kegembiraan.

Setiap anggota tubuh Kristus seharusnya dapat bekerja sama untuk mewujudnyatakan sukacita setiap hari bagi anggota keluarga satu dengan yang lain, dengan senantiasa memberikan yang terbaik bagi setiap anggota keluarga, bukan hanya memberikan kesenangan atau kegembiraan, namun saling menumbuh kembangkan setiap anggota keluarga, agar memiliki kualitas kehidupan dan pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Sebagaimana dinyatakan dalam Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Kita  harus menumbuhkan sukacita belajar satu dengan lainnya.

Apakah kita sudah menghadirkan sukacita bagi keluarga dan orang lain di sekitar kita? Atau keberadaan kita justru menghilangkan sukacita dan membuat orang-orang di sekitar kita berduka? Apakah kita menjadi berkat bagi mereka, atau justru menghadirkan masalah bagi orang lain di sekitar kita. Mari menjadi joy team yang terus menumbuhkan dan mempertahankan sukacita di tengah kehidupan keluarga/persekutuan untuk dapat menumbuh kembangkan kualitas diri setiap anggota keluarga dengan selalu bersyukur, berpikir  positif, dan menjadi berkatsatu dengan yang lain. Tuhan memberkati kita.

 

Oleh: Pdt. Em. Meitha Sartika

arrow