IMPIAN

 

Markus 8:31-38

 

Apakah Yesus memiliki impian? Bila kita mau menghayati kemanusiaan Yesus, pastilah Ia memiliki impian layaknya semua manusia. Yesus bukanlah sebuah robot yang datang ke dunia, untuk menjalankan misi BapaNya, tanpa memiliki hasrat dan cita-cita diri. Yesus datang buka hanya untuk taat kepada kehendak Bapa, Ia datang untuk mewujudkan impianNya sendiri bagi dunia.

 

Apa sajakah impianNya? Apakah Ia bermimpi memiliki takhta di dunia? atau adakah Ia bermimpi menjalani hidupNya sebagai manusia se-normal mungkin, mengingat bahwa kemanapun Yesus pergi, begitu banyak orang yang mengikutiNya hingga Ia juga merasakan kelelahan dan kejenuhan? Adakah Ia bermimpi untuk memiliki kehidupan pribadi bersama seorang wanita idamanNya. Menjadi seorang suami sekaligus menjadi seorang ayah bagi anak-anakNya? Atau Ia bermimpi menikmati profesi yang Ia geluti sejak masa mudanya, membuat beragam benda-benda dari kayu yang berkualitas dan berharga tinggi, hingga Ia menjadi tukang kayu yang sangat terkenal di semua kalangan?

 

Apapun impianNya memang tidak semua tertulis dan terlukis dalam kisah-kisah Injil. Namun ada sebuah impianNya yang begitu besar, yang mengalahkan segala impianNya yang lain sebagai seorang manusia, impian untuk membawa manusia menjadi begitu dekat denganNya, memulihkan hubunganNya dengan ciptaanNya yang telah dirusak dengan begitu hebat oleh dosa. Ia mengimpikan keselamatan bagi seluruh dunia yang begitu dikasihiNya.

 

Sayangnya hal tersebut tidak dipahami oleh para murid. Bahkan para murid memiliki impian dan cita-cita sendiri bagi Yesus. Mereka memang menaruh pengharapan mereka kepada Yesus. Sepertinya baik bukan? ketika murid-murid menaruh pengharapan mereka kepada Yesus, untuk membebaskan mereka dari kerterikatan penjajahan. Namun ternyata pengharapan mereka bukanlah pengharapan yang tepat. Mereka hanya berharap dari sudut pandang mereka, sehingga mereka mengalami kekecewaan.

 

Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi pada saat itu:

  1. Impian harus dicapai dengan pengorbanan. Dalam bacaan kita hari ini, Yesus tidak hanya sedang bercerita apa yang akan Ia alami sebagai seorang Anak Manusia. Bahwa Ia akan mengalami begitu banyak penderitaan, penolakan dari banyak orang, bahkan bukan hanya orang-orang yang menginginkan kematianNya, namun juga orang-orang yang merasa tertolak karena Yesus tidak memberikan apa yang mereka inginkan. Yesus sedang mencoba memberikan sebuah pembelajaran tentang bagaimana cara mewujudkan impian. Impian bukan sesuatu yang datang begitu saja atau dapat dicapai dengan begitu mudahnya. Setiap impian mengandung resiko, sama seperti setiap pilihan. Jadi kita tidak dapat berharap agar impian kita segera terwujud, tapi bagaimana mengusahakan. Bermimpi adalah sesuatu yang mudah, tapi mewujudkan impian merupakan hal lain. Dalam memenuhi impianNya, Yesus tau ada resiko yang tidak mudah, tapi harus dijalani dengan sepenuh hati. Yang menarik disini juga adalah Yesus sama sekali tidak menyembunyikan proses yang tidak menyenangkan itu. Ia berbicara secara terbuka, dengan penuh keberanian, dengan terang-terangan (parresia: Yun), bukan untuk mendapat simpati, empati atau untuk mendapatkan pembelaan dan dukungan dari para murid juga untuk mendatangkan ketakutan bagi para murid. Ia ingin agar mereka mengerti bahwa impian dapat dicapai bukan dengan menutup dan berdiam diri, namun dengan tindakan yang penuh keberanian.

 

  1. Impian Allah melampaui impian manusia. Yesus memiliki impian dan bukan hanya datang untuk menjalankan impian BapaNya di sorga. Namun impianNya melampaui impian manusia. Bukan berarti Yesus tidak memahami harapan, atau ekspektasi manusia kepadaNya. Sebaliknya Yesus tahu benara apa yang menjadi impian dan kebutuhan manusia yang paling mendasar. Untuk itu Ia menyampaikan sesuatu yang realistis dan bukan hanya impian indah. Petrus menarik (ke samping) dan menegur (dengan keras)Yesus (proslambano epitimao: Yun) memang bukan semata-mata untuk memperlihatkan ketidak-setujuannya terhadap perkataanYesus. Apa alasan Petrus menegur Yesus? Pertama mungkin karena Petrus tidak tega, dan juga tidak ingin gurunya mengalami hal yang tidak menyenangkan tersebut. Bisa juga karena ia juga diliputi ketakutan ketika harus mengalami apa yang gurunya katakan. (melihat karakter Petrus yang menggebu-gebu sekaligus juga penakut) Kedua, Petrus ingin Tuhannya dihormati, dipandang. Petrus sebenarnya sedang menunjukkan kasihnya kepada Yesus, hanya saja kasihnya tidak diiringi dengan pengetahuan yang benar tentang apa kehendak Allah

 

  1. Iblis dapat menjadi sumber impian manusia. Tidak semua impian baik berasal dari Allah. Petrus ingin yang terbaik bagi Yesus, (dan juga bagi dirinya sendiri) Petrus ingin Yesus dihormati, dikasihi oleh banyak orang. Untuk itu Petrus menegur Yesus. Namun ternyata apa yang dilakukan Petrus tersebut tidak dilandasi oleh kehendak Allah, namun datang dari Iblis. Untuk itu Yesus menegur Petrus, dan bahkan semua murid. Ia tahu bahwa manusia memiliki kerentanan untuk membedakan kehendak Allah dan kehendak diri, ataupun kehendak yang datang dari Iblis. Petrus bahkan tanpa sadar, membiarkan dirinya dikuasai oleh Iblis. Dan ketika Yesus menegurnya, Petruspun nampaknya tidak menyangka itikadnya yang dinilai baik mendapatkan respon yang begitu keras dari Yesus. Sebagai murid yang begitu dekat dengan Yesus, ternyata Petrus tidak mampu mengenali kehendak Tuhannya itu. Ia tidak memahami pola pelayanan Yesus. Ia menjadi seperti orang yang tidak mengenal Yesus, dan tidak menaruh perhatian akan apa yang sesungguhnya diimpikan Yesus. Petrus hanya memperhatikan yang kelihatan dan bukan apa yang ada di dlam diri Kristus. Bila Petrus yang begitu dekat dengan Kristus saja bisa salah memahami, bahkan tanpa sadar membiarkan diri di’rasuki’ Iblis. Bagaimana dengan kita? Mungkinkah impian2 kita selama ini juga menjadi impian yang tidak mewakili impian Allah namun impian Iblis?
  2. Impian Allah akan membawa manusia menjalankan hidup yang bertanggung jawab. Coba kita perhatikan dan refleksikan alasan Petrus menegur Yesus. Sebenarnya apa yang dilakukan Petrus bukan semata mata untuk keselamatan atau karena kasihnya kepada Sang Guru, namun karena Petrus menginginkan keselamatan juga bagi dirinya. Ia juga tentu tidak mau bila harus menderita. Sedangkan guru dan murid memiliki keterikatan dalam banyak hal. Bila Sang Guru ditangkap dan dihukum, maka para murid juga pasti akan mengalami hal yang sama. Petrus terlalu takut untuk mengakui dan membayangkan hal tersbut terjadi pada dirinya. Petrus menaruh harapan kepada Yesus karena ia melihat bagaimana Yesus mampu melakukan beragam mujizat dan karya yang mencengangkan. Hal itu pula bukan yang membuat kita mencari Yesus, bila Yesus tidak pernah melakukan suatu hal yang hebat dan mengagumkan maka mungkin kita juga tidak akan percaya kepadaNya. Sebagai manusia, kita mencari apa yang enak, nyaman, dan yang manusiawi, dan bukan yang rohani, yang penuh tanggung jawab, yang didedikasikan bukan hanya untuk kepentingan diri tapi untuk kepentingan orang lain, untuk memberikan perubahan dan pertumbuhan di dalam dan bukan hanya di luar. Sehingga impian kita menjadikan kita makhluka yang semakin segambar adan serupa dengan Allah dan bukan sebaliknya

 

 

Acapkali kita juga bersikap seperti pada murid. Kita salah menempatkan impian kita pada Yesus. Kita lupa bahwa Yesus memiliki impian, rencana, dan karya yang jauh lebih besar dari yang mampu kita harapkan sebagai seorang manusia. Yesus memiliki kesempurnaan dalam setiap rancanganNya, sedangkan kita hanya punya keegoisan. Yesus menaklukan impian kemanusiaanNya, begitu juga impian manusia bagiNya. Ia takluk pada impian yang lebih besar, impian yang lebih sempurna. ImpianNya sebagai Tuhan dan Raja, sebagai Pencipta yang penuh kasih dan sayang.

 

 

 

 

 

 

arrow