Hidup yang Patut di hadapan Allah

Yesaya 42:1-9, Mazmur 29, Kisah Para Rasul 10:34-43, Matius 3:13-17

12 hari sudah kita melalui hidup di tahun 2020. Tidak terasa memang, rasanya baru kemarin mengikuti ibadah awal tahun, mengalami hujan yang tidak kunjung henti, banjir di mana-mana, dan berbagai peristiwa lainya. Di tengah segala peristiwa menakjubkan yang kita alami 12 hari yang lalu, apakah kita menunjukkan sikap hidup yang patut di hadapan Allah?

Pada minggu ini, kita memperingati peristiwa baptisan Yesus. Yesus dibaptiskan bukan karena Ia berdosa, melainkan karena adanya kehendak Allah yang hendak ditegaskan dan dilaksanakan-Nya dalam sejarah panjang umat manusia, yakni mengenai karya keselamatan. Melalui baptisan, Yesus hendak menyatukan diri-Nya dengan setiap orang yang mengaku dosa dan merindukan pertobatan, menyatukan diri-Nya dengan umat manusia yang rindu untuk berelasi dengan Allah. Dengan demikian, peristiwa baptisan Yesus dapat dimaknai sebagai sikap hidup yang disesuaikan, diselaraskan dengan kehendak Allah. Melalui peristiwa baptisan, Yesus mendeklarasikan sikap hidup yang patut di hadapan Allah. 

Dalam Matius 3:15, Yesus berkata kepada Yohanes “biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Kata ‘sepatutnya’ berasal dari bahasa Yunani yakni ‘prepon’ yang berarti layak, pantas, sesuai. Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata ‘patut’ sebagai: baik, layak dipuji, pantas, sesuai, dsb. Melalui baptisan yang Yesus lakukan, Ia hendak menunjukkan sikap hidup yang patut di hadapan Allah. 

Hal yang patut bukan berbicara mengenai sebuah kewajiban, keharusan, beban, ataupun melalukan sesuatu yang berkaitan dengan ancaman atau hukuman. Mematuhi kehendak Allah bukanlah sebuah keharusan atau kewajiban yang memaksa umat untuk hidup dalam ketaatan yang mengekang. Mematuhi kehendak Allah dengan menunjukkan sikap hidup yang patut di hadapan Allah dilakukan sebagai sebuah kesadaran akan nilai-nilai kepantasan, kelayakan, dan kesesuaian sebagai umat pilihan-Nya.

Maka, sudah menjadi hal yang pantas, layak, dan sesuai bagi setiap umat-Nya untuk melakukan, memikirkan, melihat, dan berkata hal-hal yang patut di hadapan Allah.

Menerima baptisan dan mengaku percaya bukan hanya sekadar membuat diri kita sah sebagai seorang Kristen, tetapi juga sepatutnya membuat sikap hidup kita mengikuti apa yang telah diteladani oleh Yesus. Karena melalui baptisan kita memiliki status baru yakni sebagai umat pilihan-Nya yang dipanggil untuk mengikuti sikap hidup-Nya. Dengan demikian, panggilan untuk memiliki sikap hidup yang patut di hadapan Allah bukanlah sebuah paksaan yang bersifat wajib dan mengekang, tetapi sebagai sebuah panggilan sadar yang membuat kita secara sadar melakukan hal-hal yang dianggap pantas, layak, dan sesuai sebagai umat-Nya.

Selamat memenuhi panggilan untuk secara sadar menjalani hidup yang patut di hadapan Allah.  *WA*

arrow