Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?

Yesaya 35 : 1-10, Mazmur 146 : 5-10, Yakobus 5 : 7-10, Matius 11 : 2-11

Menunggu, memang dapat menajdi sebuah aktivitas yang membosankan, namun juga melalui pembelajaran Minggu Adven I, kita mendapatkan sebuah pemahaman bahwa menunggu memberi ruang kreativitas bagi kita untuk melakukan segala sesuatu. Menunggu memberikan kita beragam pilihan kegiatan untuk kita kerjakan yang tentunya bukan hanya untuk menyibukkan diri kita sembari menunggu. Namun juga memberikan kesempatan bagi kita untuk mengembangkan diri dan hidup menjawab setiap panggilan Tuhan dalam kehidupan kita. Walau banyak tantangan, namun menunggu tetap dapat menjadi aktivitas yang sungguh menyenangkan, selama  aktivitas menunggu kita arahkan kepada Dia yang kita tunggu.

Salah satu aktivitas yang wajib kita lakukan selama masa penantian ini adalah bertobat, yang kita pelajari pada Minggu Adven II. Pertobatan bukanlah aktivitas sekali jadi. Sebaliknya, pertobatan adalah aktivitas yang perlu kita lakukan secara terus-menerus, dari waktu ke waktu, karena tuntutan Tuhan kepada kita adalah untuk menjadi maksimal dan bukan sekedar menjadi optimal. Tuhan mau kita melakukan perubahan terus-menerus. Sempurnalah kamu sebab Bapa-mu di Sorga sempurna. Tentu untuk mencapainya kita perlu melakukan pertobatan-pertobatan kecil yang dilakukan dengan setia setiap harinya. Menghargai hal-hal kecil yang tejadi pada diri kita dan juga pada diri orang lain.

Di Minggu Adven ke III ini, kita belajar bagaimana menunggu dalam sebuah komunitas dimana kita berada, bersekutu, tinggal dan berelasi. Dengan menyadari bahwa sesama menjadi salah satu tantangan terbesar kita dalam menunggu dan membuat aktvitas menunggu menjadi sangat tidak menyenangkan bahkan menyebalkan, kita perlu memeriksa dan membekali diri kita dengan lebih baik.

Sadar atau tidak sadar kendala terbesar menghadapi sesama adalah diri kita sendiri. Ego menjadi salah satunya. Ego adalah bagian dari identitas manusia itu sendiri. Ego berhubungan dengan konsep diri berguna untuk menoleransi frustasi. Jadi ego juga tidak dapat dilenyapkan. Sayangnya ego menjadi pengontrol terbesar akan setiap tindakan kita sebagai manusia. Ketika kita membiarkan ego yang keliru mengontrol maka kita akan berakhir dengan perasaan marah, kecewa, sedih, dan lain-lain. Jadi Ego tersebut harus dipasang kekang atau kendali. Dan yang mampu mengendalikan ego tersebut hingga tepat fungsi hanyalah Roh Allah yang menciptakan ego itu di dalam diri setiap manusia.

Coba perhatikan apa landasan setiap tindakan, perkataan, dan pilihan yang kita ambil setiap harinya. Ego diri-kah, atau Ego yang telah dikekang oleh kuasa Allah? Layaknya seekor kuda, tenaganya yang besar bisa digunakan tanpa arah, namun bisa digunakan untuk sesuatu yang berguna, baik bagi sang pengendali, juga bagi si kuda, selama kuda menyerahkan dirinya untuk dikekang oleh sang pengendali. Sayangnya ego kita tidak mudah dikendalikan seperti seekor kuda dikendalikan. 

Karenanya, belajar dan melengkapi diri agar kita memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyerahkan ego kita kepada Allah, agar dapat dibentuk dan dikendalikan oleh Allah menjadi amat penting.

Bagaimana caranya, yang dapat kita praktekkan senantiasa setiap hari?

Bukankah lidah berkuasa… untuk menghancurkan atau untuk membangun, jadi, mari gunakan lidah untuk menaklukkan ego dan memohon Tuhan untuk menguatkan kita mengontrol Ego ke arah yang tepat. Pastikan tubuh mendengar perintah yang jelas dari lidah, yang tentunya sudah dikuasai oleh Roh Allah sendiri. Lakukan setiap hari dan lihat bagaimana kita mengalami perubahan dari hari ke hari. 

Hanya dengan menguasai diri, kita akan mampu menguasai respon kita terhadap tekanan sesama, sebesar apapun itu. karena tanpa penguasaan diri kita akan seperti sebuah kota tanpa tembok, yang dengan begitu mudah mendapat serangan dan akhirnya menghadapi kehancuran seketika. Berkarya di tengah komunitas memberikan kepada kita kesempatan untuk berjumpa dengan beragam jenis manusia, dan penguasaan diri, menjadi penolong agar kita tidak dengan mudah menyerah atau dengan mudah pergi dari komunitas yang Tuhan percayakan kepada kita. Namun dengan tetap sabar dan tekun, kita melayani, berada dan mengada di tengah dan bagi komunitas. 

Selamat berkarya dalam ruang penantian! Tuhan memberkati.  YLH

arrow