HARI TUHAN

Kapankah hari Tuhan itu akan tiba? Besok, lusa, minggu depan, bulan depan? Memang hari Tuhan erat sekali kaitannya dengan kedatangan Tuhan yang ke dua kali, sehingga kita pasti menjawab tidak ada yang tau dan hanya Tuhanlah yang tau. Jawaban tersebut benar adanya, namun dapatkah kita menemukan refleksi yang baru tentang hari Tuhan?

Saudara pasti tau lagi sekolah Minggu berikut ini:
“hari ini..hari ini harinya Tuhan… harinya Tuhan
Mari kita..mari kita bersuka ria..bersuka ria.
Hari ini harinya Tuhan, mari kita bersuka ria
Hari ini hari ini harinya Tuhan.

Lagu tersebut bukanlah lagu asing bukan? Di bait keduanya kata hari ini diganti nama-nama hari, seperti Senin Selasa dan seterusnya. Lagu ini sebenarnya sedang mengajak kita berefleksi tentang pemahaman hari Tuhan. Sejak kecil kita diajak untuk melihat Bahwa hari Tuhan bukan semata-mata hari dimana Tuhan akan datang dari sorga untuk ke dua kali untuk menjadi hakim dan raja selama-lamanya di atas bumi.

Bagaimana kita mampu melihat hari ini adalah harinya Tuhan, besok, lusa juga harinya Tuhan. Hari dimana Tuhan dimuliakan, disanjung, disembah, dilayani oleh kita sebagai umatNya. Karena sesungguhnya Tuhan ada di bumi, di tengah-tengah kita, dimanapun kita berada dan mengada. Dia ada bersama dengan kita, memperhatikan, mencoba untuk berbincang, bergaul dengan kita dari sejak kita bangun pagi hingga kita tidur kembali. Bahkan menurut pemazmur menyaksikan Tuhan sebagai sosok yang memberkati umat yang dikasihiNya pada waktu tidur. Artinya Tuhan ada di dalam 24 jam hidup kita.

Kerap kali kita tidak sadar bahwa setiap hari adalah miik Tuhan dan bukan milik kita. Tapi lebih mengutamakan apa yang menjadi mau kita bukan mau Tuhan. Padahal dengan menghayati setiap hari sebagai hari Tuhan, kita akan melatih dan menguasai diri kita setiap hari sehingga kita lebih mampu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya menjelang kedatangan Tuhan sebagai raja. Setiap hari kita mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang terbaik kepada Tuhan. Dengan begitu, setiap hari kita menjadi pribadi yang siap untuk menanti kedatangan Tuhan, juga menantikan hari Tuhan menjemput kita untuk pulang ke rumah Bapa.

Menerapkan pemahaman bahwa setiap hari adalah hari Tuhan, menolong kita untuk hidup terarah dalam kehendak Tuhan. Bila itu kita lakukan setiap hari, bukan tidak mungkin kita akan mengalami perkembangan, pertumbuhan, dan juga pencapaian-pencapaian hidup yang pesat. Mau? Jadikanlah setiap hari harinya Tuhan, bukan harinya kita.

arrow