DOA MENGUBAH SEGALA SESUATU

 

Kejadian 18:20-32

Mazmur 138

Kolose 2:6-19

Lukas 11: 1-13

Sudah berdoakah saudara pagi ini? 

Doa menjadi hal yang normal dilakukan oleh setiap umat beragama. Setiap umat memiliki cara dan waktu untuk berdoa, yang berbeda satu dengan yang lain, yang ditentukan oleh ajaran agama masing-masing. Namun, bagaimana dengan isi doa? Rata-rata manusia di dunia memiliki isi doa yang sama, ucapan syukur dan permohonan. Baik mereka yang beragama Kristen, Islam, Budha, Hindu, Konghucu, semuanya pasti memohon untuk kesehatan, kekuatan, berkat dan segala sesuatu yang diinginkan. 

Apakah itu salah? Tentu tidak, tapi Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk mengalami perubahan ketika kita berdoa. Apa yang berubah? Bukan sekedar kondisi kita, ketika apa yang didoakan menjadi sebuah kenyataan; bukan juga kondisi orang lain,  ketika apa yang kita doakan bagi orang lain terjadi. Tuhan menginginkan perubahan hati, pikiran dan kehendak kita.

Doa adalah sebuah komunikasi dengan Allah, bukan percakapan searah, yang menjadikan Allah tidak ada bedanya dengan pelayan toko. Dia bukan Allah yang siap untuk menampung segala keinginan dan permohonan, mencarikan jalan bagaimana semuanya itu dapat terwujud, hingga senanglah manusia yang memohon kepadaNya. Doa bukanlah alat untuk mendapatkan keinginan kita, bukan sebagai alat untuk memaksakan kehendak kita kepada Allah. 

Ketika ada komunikasi di dalam sebuah doa, maka bukan hanya kita yang berbicara. Tuhan juga berbicara dan kita mendengarNya. Disitulah komunikasi terjalin. Sayangnya mendengar suara dan kehendak Tuhan tidak semudah menyalakan musik pada perangkat ponsel pintar kita, lalu terdengarlah lantunan lagu. Karenanya, komunikasi yang sehat dilakukan setiap hari, bukan ketika perlu atau ketika ada waktu. 

Dengan terjalinnya komunikasi yang sehat, maka terjalin jugalah sebuah relasi yang membangun. Dan disanalah kita diubahkan oleh hubungan yang sehat bersama dengan Tuhan. Perlahan tapi pasti, hati dan pikiran kita semakin terarah kepadaNya, kehendak kita berubah sesuai dengan kehendakNya, dan hidup kita semakin dikuasai olehNya. Doa ada untuk mengubah hidup kita, bukan seperti yang kita inginkan, namun seperti yang Allah inginkan. Dialah yang mengetahui jalan-jalan hidup manusia, kapan kita gagal, kapan kita mengalami keberhasilan. Dialah yang menolong kita untuk menghindari kegagalan ataupun bangkit dari kegagalan. Dialah yang setia, mengubah dan memperbarui hidup kita, agar kita menjadi ciptaanNya yang semakin bersinar, layaknya bintang-bintang di langit.

Kebenaran lain yang harus kita pahami tentang doa adalah, bahwa doa bukanlah sekedar kata. Doa bukan hanya rangkaian kata-kata yang diucapkan dengan mata yang tertutup dan tangan yang terlipat. Doa mengandung harapan dan sekaligus perjuangan. Tanpa perjuangan doa akan menjadi sia-sia, tanpa harapan doa hanyalah angan kosong. Dengan begitu kita tidak hanya berhenti pada doa. Kita harus melanjutkan doa itu menjadi sebuah usaha dan kerja yang didedikasikan dalam setiap karya yang dilakukan oleh tubuh kita setiap hari. Membuktikan bahwa hidup kita selaras dengan harapan kita. Selamat melakukan apa yang saudara doakan!

Mungkinkah seorang yang enggan untuk belajar mampu menguasai pelajaran dengan baik? Tentu tidak bukan. Begitu juga dengan harapan tanpa usaha. Tuhan bukanlah pemberi harapan, Ia Allah yang menolong kita mewujudkan harapan tersebut. Mari kita pelajari bagaimana doa yang sungguh mengubah hidup secara luar biasa:

  1. ABRAHAM. Melalui bacaan kita hari ini, kita melihat bagaimana Abraham berdoa bagi Sodom dan Gomora. Abraham berdoa Untuk semua orang benar yang ada di Sodom dan Gomora. Tawar menawar yang dilakukan oleh Abraham dengan Allah melalui doa menunjukan hasil dari relasi dari Abraham dengan Allah. Bukan semata-mata kebaikkan hati Abraham sebagai manusia. Tidak ada manusia yang baik, selain Allah sendiri. Sebab baik Adam maupun Abraham adalah orang -orang yang jatuh ke dalam dosa. Kedekatan Abraham dengan Allah menolong Abraham memiliki belas kasih bagi orang-orang ‘asing’ dalam hidupnya. Abraham mengarahkan hidupnya kepada Allah hingga isi hati Allah menjadi isi hatinya. Allah adalah Allah yang penuh kasih, yang mencari cara terbaik untuk menyelamatkan manusia yang begitu dikasihiNya, hingga memutuskan untuk mengambil jalan pengorbanan. Allah bukanlah Allah yang semena-mena, dan itulah yang diungkapkan Abraham dalam pemahamannya yang terbatas tentang Allah. Allah adalah Hakim segenap bumi, yang pastinya menghukum dengan keadilan. Abraham paham siapa Allah, dan apa yang Allah dapat lakukan ataupun tidak dapat dilakukan. Dan pengenalan tersebut hanya didapatinya melalui relasi yang begitu erat dengan Allah. Abraham berubah, perlahan tapi pasti. Ia mengerti, memahami, mengalami, dan berada di pihak Allah. Perjalanannya membangun relasi dengan Allah menjadikannya bapa orang beriman.
  2. PAULUS. Seorang yang ganas, yang memilih untuk menjadi musuh Kristus, berubah menjadi sahabat Kristus begitu setia dalam sejarah dan perjalanan para rasul. Akankah seseorang dengan mudah berubah dari musuh menjadi sahabat? Lebih mudah menjadikan sahabat menjadi musuh daripada sebaliknya. Namun itulah yang dialami Paulus. Seorang musuh Kekristenan yang begitu buas dan ganas dalam melancarkan segala serangan Untuk menghancurkan dan memusnahkan kekristenan, berubah dan bahkan berbuah begitu lebat bagi Kristus. Paulus diubahkan bukan karena perjumpaan yang spektakuler, yang sempat membuatnya kehilangan kedua penglihatannya, namun karena ia membuka hatinya untuk belajar dalam masanya kehilangan penglihatan. Ia belajar mengenal Kristus, apa yang menjadi harapan Kristus. Ia berdoa dalam kebutaannya, hingga mendapatkan pencerahan demi pencerahan, kebenaran demi kebenaran. Ia Tahu benar betapa pentingnya berakar dalam Kristus, dibangun di atasNya dan bukan diatas kehendak diri. Karena hanya kehendakNya-lah yang membuat kita mengalami kemajuan yang sejati. Maju dalam segala aspek kehidupan, bukan hanya sebagian atau sekedar bertumbuh dalam kepalsuan. Ia tahu selama ini ia telah menjadi pengikut Allah yang palsu, yang menggunakan segala topeng tradisi, taurat dan ritual untuk tampil di hadapan umat. Padahal apa yang dilakukannya hanyalah gong yang berdengung kencang. Ia tidak memiliki pemahaman yang utuh tentang siapa Kristus, siapa Allah yang disembahnya dalam Agama Yahudi. Relasi yang semakin erat dengan Kristus sendiri mengubahkan Paulus dalam segala aspek hidupnya, mengubah dirinya yang keras menjadi lembut, yang kaku menjadi fleksibel, yang angkuh menjadi rendah hati, yang mencari hormat menjadi orang yang bermegah bahkan di dalam penderitaan.
  3. YESUS. Masih perlukah Yesus berdoa? ya. Yesus berdoa dan bahkan terus memperlihatkan kehidupan doaNya kepada para murid. Dia adalah Anak Allah, bahkan Allah itu sendiri, mengapa Ia masih berdoa. Yesus berdoa bukan karena kuasanya kurang untuk melakukan segala sesuatu. Yesus berdoa agar hatinya tetap terarah pada misi Allah. Ia Tahu dengan pasti Dunia menawarkan begitu banyak hal yang menggiurkan. Dunia menawarkan begitu banyak kuasa yang dapat dengan mudah diraihNya. Bahkan dunia mencobaiNya dengan hal yang begitu mudah untuk dilakukanNya. Ia tau bahwa kehadirannya di dunia bukan untuk menunjukkan kuasaNya yang besar, namun menunjukkan ketaatannya yang luar biasa. Itulah yang Allah kehendaki dilakukan oleh semua anak-anakNya. Yesus mengetahui betapa pentingnya para pengikutNya meneladani ketaatanNya. Untuk itulah Ia berdoa dan senantias amenjaga relasiNya dengan Allah BapaNya. KehendakNya bukanlah kehendak Allah, namun Ia tau kehendak BapaNyalah yang paling sempurna. 
arrow