Digembalakan dan Menggembalakan

Yeh 34:11-16, 20-24
Maz 95:1-7
Efesus 1:15-23
Matius 25:31-46

“Wah dia sedang dalam penggembalaan ya? Kasihan ya, emang ada masalah apa sih?” Sepenggal kalimat di atas mungkn pernah kita dengar dalam kehidupan bergereja kita. Banyak orang menganggap penggembalaan adalah sebuah hukuman, ganjaran yang diberikan gereja kepada jemaatnya yang melakukan kesalahan. Memang istilah pengembalaan (dan pengembalaan khusus) adalah suatu istilah yang kerap kali digunakan gereja dalam penerapan hukum gereja. untuk Namun kata penggembalaan itu sendiri adalah kata yang sangat Alkitabiah.

Seperti yang tertulis dalam Tata Gereja GKI BAB XII pasal 33, kata penggembalaan adalah pelayanan yang dilakukan di dalam Kasih untuk mendukung, membimbing, menilik, menegur, menyembuhkan, dan mendamaikan agar ia atau mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah dan dalam damai sejahtera dengan Allah, sesama dan seluruh ciptaan. Jadi pelayanan pengembalaan bukan sesuatu yang menakutkan atau harus dihindari. Justru sebagai anak-anak dan pelayan-pelayan Tuhan, kita harus hidup saling menggembalakan satu dengan yang lain. Dalam pengembalaan terkandung Kasih karya Allah yang mau saling merawat, menumbukan dan membentuk dan bukan cara untuk menghakimi sesama.

Saling mengembalakan adalah kewajiban setiap umat Allah, tidak pandang apakah seseorang memiliki jabatan gerejawi atau tidak. Orang tua wajib menggembalakan anak-anak mereka dan begitu pula sebaliknya. Yang tua wajib menggembalakan yang muda, begitu juga yang muda harus berani menggembalakan yang tua. Para pendeta dan penatua wajib menggembalakan umatnya , begitu pula umat harus menggembalakan pendeta dan penatuanya. Karenannya, penggembalaan merupakan gaya hidup dan cara hidup umat Allah, sehingga satu sama lain tetap terpelihara dengan baik dan dalam kebenaran. Bukan Hanya umat Allah yang butuh Kasih Allah bukan, pelayan-pelayanNya pun membutuhkan Kasih Allah, oleh karena itu semua umatNya dipanggil untuk saling melayani satu dengan yang lain. Hanya saja yang harus menjadi landasan dalam sebuah penggembalaan adalah kasih dan bukan kemarahan, kesombongan, ataupun kekecewaan, karena hanya kasih yang dapat mendorong proses penggembalaan ke arah yang menumbuhkan dan bukan menghancurkan.

Kini yang perlu kita pelajari adalah bagaimana menjadi gembala yang baik bagi satu sama lain?

Yeheskiel menuliskan bagaimana Allah menajdi gembala bagi domba2nya. Yang Pertama Adalah MEMPERHATIKAN. Seorang gembala harus memperhatikan dombanya. Apa arti memperhatikan? Memperhatikan tidak dapat dilakukan tanpa menggunakan hati, menggunakan keterpanggilan untuk mencari dan memenuhi kebutuhan, memberikan kelegaan sekaligus pembelajaran akan hidup. Memperhatikan tanpa semua diatas hanyalah sekedar melihat. Memperhatikan harus dimulai dengan “kekepoan” atau keingintahuan akan penderitaan, kerinduan, kebutuhan orang lain. Memang bukan hanya sekedar kepo, apalagi bila hanya untuk sekedar mencari-cari. Seseorang yang memperhatian akan mencari dan menemukan dan memberikan solusi dan bukan sekedar mengkritisi atau menganalisis.

Yang kedua, seorang gembala akan MENCARI. Sorang gembala perlu mencari domba2nya, menghitungnya, mengumpulkannya, mencari bukan untuk sekedar mengumpulkan kembali, tapi mencari mengapa seekor domba pergi dari kumpulannya, apa yang menarik hatinya, atau yang membuatnya memisahkan diri dari kelompok.

MENYELAMATKAN. Menyelamatkan disini adalah pelayanan yang diberikan untuk menghadirkan kedamaian, sejahtera, sukacita, kebaikkan, pertumbuhan, mengarahkan kepada kebenaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan. MEMENUHI kebutuhan bukan keinginan. Apa yang dbutuhkan oleh seeokor domba tentu beda dengan seorang manusia. Kebutuhan manusia lebih kompleks dan rumit. Kebutuhannya meliputi kebutuhan jiwa,roh, tubuh dan pikiran. Disinilah seorang gembala harus memberikan waktunya untuk dapat memenuhi keempatnya dan bukan hanya salah satu yang dianggap paling penting. Karena kesemuanya adalah penting bagi seorang manusia yang utuh.

Seiring dengan pemahaman kita tentang gembala, minggu ini kita juga mau menggali pemahaman kita tentang hari Kristus Raja. Sebagai seorang Raja, Kristus tidak datang untuk sekedar memisahkan dan menghakimi. Kristus datang untuk menunjukkan betapa fungsi seorang gembala dibutuhkan. Ya memang pada akhirnya Sang Rajalah yang akan memisahkan dan menghakimi, namun sebelum masa itu datang, Sang Raja juga hadir untuk mengayomi, mengangkat, menyembuhkan, menjadi teladan di tengah dombanya.

Sebagai Raja, Yesus tidak hanya duduk di atas takhta, namun turun, berjumpa, menyentuh, mengiring domba2Nya. Ia Adalah Allah yang tegas dalam mendidik dan menjalankan keputusanNya, sekaligus Allah yang penuh perhatian dan kepedulian. Kepedulian yang demikian yang Tuhan minta untuk kita terapkan dalam hidup keseharian kita. Mengasihi Allah, dan menjadi domba yang baik bagi Allah bukan Hanya dengan menunjukkan kesetiaan kita kepada gembala kita, namun kesediaan untuk menjadi gembala bagi sesama kita . Bagi Yesus domba Adalah orang -orang yang mau nelayani Karena memang pelayanan haruslah dilakukan keada sesama manusia. Menyentuh dan memenuhi kebutuhan yang sakit, lapar, haus, menerima orang asing , telanjang, sakit memang sudah seharusnya dilakukan sebagai manusia, ciptaan yang paling sempurna.

Jadi pelayanan penggembalaan harus mampu dimaknai dengan cara yang baru, bukan melulu soal pemberian sanksi atau penerapan hukum gereja, namun sebagai pelayanan yang didasari sikap peduli akan sesama dan sekitarnya. Penggembalaan bukan Hanya tugas seorang pendeta, namun semua orang yang menyebut dirinya domba, anak, pelayan Allah.

arrow