Datangnya Zaman Baru

Yesaya 11 : 1-10, Mazmur 72 : 1-7, 18-19, Roma 15 : 4-13, Matius 3 : 1-12

Zaman seperti apa yang kita nantikan? Zaman dimana segala sesuatu tertata dengan baik, zaman dimana tidak ada ketakutan, tidak ada kegelisahan, dan  kejahatan. Zaman dimana bumi penuh kemuliaan Tuhan, karena Ia telah datang kembali. Namun, apakah zaman tersebut hanya dapat terwujud ketika Yesus Kristus datang kembali sebagai Raja dan Hakim atas bumi? Akankah zaman tersebut terwujud sebelum kedatangan Yesus Kristus kedua kali? 

Ternyata, apa yang dituliskan Yesaya lebih dari 2000 tahun yang lalu tidak mengacu pada peristiwa akhir zaman, dimana Yesus Kristus datang kedua kali. Yesaya menuliskan apa yang akan terjadi bila Yesus hadir di tengah kehidupan manusia. Ketika semua manusia masih harus berjuang dengan begitu gigih dalam segala pergumulan mereka melawan dosa. Yesus menjadi yang sulung, yang menyatakan bahwa Roh Allah mampu membuat segala sesuatu berbeda dan berubah. 

Melalui kehidupanNya, Ia menjadi manusia pertama yang hidupnya sungguh dipenuhi oleh Roh Allah, dan secara konsisten menjaga aliran Roh Allah tersebut di dalam diriNya, hingga purnalah karya Allah padaNya. Pengalaman yang terjadi pada Yesus juga dapat terjadi pada kita. Dimana kehadiran kita mengubah, dan memberikan dampak yang nyata pada orang-orang yang hidup bersama dan di sekitar kita. 

Walau mungkin apa yang kita hasilkan tidak se-signifikan yang dilakukan Yesus, karena keterbatasan kita sebagai manusia, dimana kita kerap kali jatuh bangun dalam keberdosaan kita, tapi apa yang dibawa Yesus dalam hidupnya dapat pula kita bawa dan wujudkan dalam kehidupan kita. 

Namun, bagaimana caranya? Apa yang dilakukan Yesus bertahun-tahun adalah menambah terus-menerus kompetensiNya sebagai manusia. Karena Ia juga, sama dengan kita, ‘terjebak’ dalam kemanusiaan yang lemah dan mudah untuk jatuh. Selama bertahun-tahun dalam hidupNya, Ia menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang tidak dilakukan oleh hampir semua manusia dalam hidup mereka. Secara teratur Ia mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baiknya hingga muncullah kompetensi demi kompetensi.

Roh Tuhan yang ada padanya menjadi bahan bakar yang begitu besar bagiNya untuk menumbuh-kembangkan serta melatih kemampuan demi kemampuan yang menjadikanNya pribadi yang sungguh luar biasa. Roh Tuhan memberiNya hikmat dan pengertian, hingga Ia mampu mengevaluasi, mengoreksi, dan menentukan cara yang tepat untuk mengalami pertumbuhan, dengan begitu banyak aktivitasnya. Sebagai seorang anak tukang kayu, sebagai seorang kakak, paling tidak bagi empat saudara laki-lakiNya, menjadi anak laki-laki tertua bagi ibuNya, menjadi tanggungjawab yang Ia hadapi sebelum Ia memasuki pelayananNya dan sebagai guru dari duabelas murid-muridNya.

Yesus menjadi pribadi yang takut akan Tuhan. Ia menunjukkan kesungguhan dan ketaklukan dalam melakukan segala kehendak BapaNya di sorga. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, di usia 30 tahun, Yesus telah mencapai begitu banyak, hingga Ia dapat menjadi seorang Guru yang luar biasa tidak hanya bagi para muridNya, tapi juga bagi seluruh dunia, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, hingga zaman high tech seperti sekarang ini. 

Pembaruan hidup yang diperjuangkanNya, menginspirasi dan memberikan sebuah standar yang baru bagi manusia, terutama bagi para pengikutNya dalam menjalani kehidupan. Standar yang tidak pernah dapat dikalahkan, namun bukan berarti menjadi sesuatu yang tidak dapat dicapai. Roh yang sama yang ada pada Yesus, ada juga pada kita, yang telah dicurahkan lebih dari 1500 tahun yang lalu. Maka kita memiliki bahan bakar yang sama untuk mewujudkan pembaruan di tengah dunia. Tentunya Dengan Roh yang sama kita juga membutuhkan komitmen dan kesungguhan yang sama untuk mengelola dan mengembangkan segala kebaikan dan anugerah yang telah Tuhan limpahkan kepada kita sebagai umatNya. 

Zaman baru dapat kita wujudkan dan nikmati, sekarang, bukan nanti, bukan ketika Yesus datang kembali sebagai Raja dan Hakim bagi seluruh bumi. Karena saat ini juga, Dia adalah Raja dalam hidup kita, Dia telah menjadi penolong bagi kita untuk membawa dan mengerjakan karyaNya dalam diri setiap kita anakNya. Hanya saja maukah kita?    ~YLH~

arrow