DALAM BADAI TUHAN BERTINDAK

AYUB 38:1-11

MAZ 107:1-3, 23-32

2 KOR 6:1-13

MARKUS 4:35-41

 

“Tidak semua badai datang dalam hidup untuk mengganggu kita, tapi untuk membersihkan jalan kita.”

 

Badai adalah cuaca yang ekstrem, mulai dari hujan es dan badai salju sampai badai pasir dan debu. Badai disebut juga siklon tropis oleh meteorolog, berasal dari samudera yang hangat. Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Badai bukan angin ribut biasa. Kekuatan anginnya dapat mencabut pohon besar dari akarnya, meruntuhkan jembatan, dan menerbangkan atap bangunan dengan mudah. Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang. Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur, dan badai salju. Badai paling merusak adalah badai topan (hurricane), yang dikenal sebagai angin siklon (cyclone) di Samudera Hindia atau topan (typhoon) di Samudera Pasifik.

 

Penyebab badai adalah tingginya suhu permukaan laut. Perubahan di dalam energi atmosfer mengakibatkan petir dan badai. Badai tropis ini berpusar dan bergerak dengan cepat mengelilingi suatu pusat, yang sumbernya berada di daerah tropis. Pada saat terjadi angin ribut ini, tekanan udara sangat rendah disertai angin kencang dengan kecepatan bisa mencapai 250 km/jam. Hal ini bisa terjadi di Indonesia maupun negara-negara lain. Di dunia, ada tiga tempat pusat badai, yaitu di Samudera Atlantik, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Badai)

 

Hidup manusia ada kalanya juga disertai peristiwa-peristiwa ekstrim layaknya badai. Beberapa peristiwa mampu menjadi guncangan baik bagi tubuh, pikiran, jiwa maupun roh. bahkan menjadi guncangan yang begitu besar hingga menyebabkan perubahan yang juga ekstrim. Perubahan-perubahan yang dihasilkan memang beraneka ragam, namun arah perubahan tersebut hanya terdapat dua yaitu positif maupun negatif, dan mungkin juga keduanya.

 

Seperti terbentuknya badai-badai di dunia, ‘badai hidup’ juga dipengaruhi oleh beragam faktor, baik dari dalam maupun dari luar manusia itu sendiri. apa sajakah itu?

Dari dalam:

  1. Cara pandang. Cara pandang seorang manusia menentukan begitu banyak hal dalam hidupnya. Baik mengelola perasaan yang disebabkan oleh berbagai macam peristiwa hidup, hingga menentukan pilihan-pilihan dalam hidup.
  2. Manusia dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang pernah mereka alami sepanjang hidup. Pengalaman-pengalaman manis akan membuat mereka merasakan kebahagiaan hidup, sedangkan pengalaman-pengalaman pahit dan menyakitkan dapat menyebabkan trauma ataupun sebuah pembelajaran.
  3. Iman merupakan faktor yang nampaknya tidak terlalu nampak, ketimbang cara berpikir maupun pengalaman, namun sebenarnya Iman menentukan lebih banyak dari keduanya. Karena imanlah manusia dapat mengubah cara berpikir mereka yang salah menjadi benar yang sempit menjadi luas. Karena imanlah seseorang mampu melihat hal-hal baik ditengah peristiwa yang paling menyakitkan sekalipun. Iman mengubah banyak hal dan membentuk banyak hal.

 

Dari luar:

  1. Pencobaan berasal bukan dari Tuhan (Yak 1:13), namun dari Iblis, hanya saja dalam sepengetahuan Tuhan dan diijinkan untuk menguji. pencobaan dapat datang dalam rupa-rupa peristiwa. Misalkan saja musibah, bencana alam, dan lain sebagainya yang disebabkan oleh orang lain dan bukan diri sendiri. (Lihat peristiwa Ayub). Pencobaan sering kali timbul baik karena kekayaan, kemiskinan, ataupun kemuliaan duniawi. Allah memiliki beragam alasan dalam menjinkan pencobaan terjadi. Adakalanya Ia mau manusia percaya akan pemeliharaanNya, atau agar manusia tidak bertindak lancang dan menyembah allah lain. Dalam kisah Ayub, pencobaan dibiarkan oleh Allah untuk menguji iman Ayub (Ay 23:10).

 

Bila kita lihat , ternyata faktor dari dalam lebih banyak menentukan pembentukan badai-badai dalam diri seorang manusia ketimbang dari luar. Memang faktor yang berasal dari luar adalah faktor yang sering kali terjadi tanpa dapat dihindari atau dihentikan. Namun respon terhadap faktor luar tersebut menjadi penting, karena, acapkali badai hidup terjadi karena manusia tidak dapat mengendalikan faktor-faktor yang ada di dalam dirinya sendiri. kita tidak dapat mengendalikan sesuatu yang berasal dari luar diri kita, maka berhentilah untuk mencoba mengontrol segala sesuatu selain diri kita sendiri.

 

Caranya?

  1. Tumbuh kembangkan iman yang benar.Ingat bahwa hanya imanlah yang menuntun kita pada cara pandang yang benar dan perubahan-perubahan besar dalam hidup kita. Maka sadarilah dari manakah datangnya iman, Allah dan tiada yang lain. Ia yang telah memberikan kita iman dan hanya Dialah yang mampu menolong kita untuk menumbuh kembangkan iman, yang adalah karuniaNya, secara sehat. TIDAK ADA CARA LAIN SELAIN MEMILIKI RELASI SECARA PRIBADI DENGANNYA, DENGAN MEMBAKTIKAN DIRI SEBAGAI PELAYANNYA (2 KOR 6: 4) Mengapa harus mengembangan relasi sebagai hamba? Karena hanya dengan menempatkan diri sebagai hamba, kita sedang melatih diri untuk mengatakan bahwa Kau Perkasa , aku lemah. Allah tidak pernah setara dan tidak akan pernah setara dengan kita, dan ada kalanya kita lupa hal tersebut. Kita bagai kacang lupa kulitnya, yang lupa darimana kita berasal, hingga terlalu larut dalam keagungan kasih karunia, hingga lupa bagaimana harus hidup dalam kasih karunia tersebut.
  2. Menahan dengan penuh kesabaran. Meraih sesuatu itu jauh lebih mudah dari mempertahankannya. Mempertahankan butuh energi dan perjuangan ekstra. Karena dalam mempertahankan sesuatu kita cenderung digoda oleh diri sendiri. merasa diri sudah mampu mencapai sesuatu, hingga akhirnya mengendurkan semangat dan kewaspadaan. Bertahan adalah bentuk sebuah perjuangan yang menandakan bahwa di dalam dunia tidak akan pernah ada titik akhir. Selama dunia masih berputar dan nafas masih berhembus, masih ada pencapaian-pencapaian yang dapat diraih. Sebuah keberhasilan bukanlah akhir, namun menjadi sebuah awal dari keberhasilan yang lain.
  3. Menjaga kemurnian hati.Sejauh mana hati menjadi dasar dan alasan akan pilihan-pilihan kita? Manakah yang lebih sering kita gunakan untuk mengambil keputusan, logika kita, atau hati? Menggunakan hati sebagai bahan pertimbangan bukan berarti mengenyampingkan logika dan begitu juga sebaliknya. Hati dalam tradisi Yahudi menjadi suatu yang melampaui logika, karena dalam hatilah Allah bertahta. Hati tidak melulu bergaitan dengan emosi atau perasaan, bahkan hati dikaitkan dengan hikmat, bijak, kebenaran, tempat dimana keadilan ditimbang. Ketika Allah ada dalam hati manusia, maka tidak akana da badai yang mampu meluluhlantakan manusia. Karena yang di dalam lebih berkuasa dari yang di luar. Manusia lebih mampu menguasai situasi dan kondisi yang mereka hadapi dengan tuntunan yang melampaui akal pikiran. Ketika logika berkata saya tidak akan sanggup, hati sebalikya berkata saya sanggup karena kamu punya Allah.
arrow