Binasa Bila Meninggikan Diri

Kita sering mendengar sebuah pernyataan yang mengatakan : “Pengalaman adalah guru yang baik.“ Sebagaimana seseorang mendapatkan ilmu atau teori, tanpa pengalaman (empirisme) atau praktik, maka ilmu atau teori tersebut tak akan bermakna dalam kehidupan. Bisa jadi ilmu atau teori tersebut baik dan benar, namun bila belum di uji coba, maka sebuah ilmu atau teori belum bisa dinilai keakuratannya. Apalagi bila belum terimplementasikan dalam kehidupan orang yang memiliki ilmu tersebut.

Semakin seseorang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dan komprehensif, seharusnya seperti peribahasa ilmu padi. Semakin berisi, ia semakin merunduk. Sebaliknya semakin tanpa isi, ia cenderung untuk mengangkat dirinya tinggi-tinggi. 

Namun dalam praktik kehidupan kita melihat bahwa kecenderungan meninggikan diri dapat dilakukan oleh siapa saja. Orang-orang terpelajar apalagi tidak terpelajar, orang-orang yang saleh, pribadi-pribadi yang merasa dekat dengan Tuhan, dan orang-orang yang nasionalistis-inklusif apalagi yang eksklusif-fundamentalistik tanpa kecuali meninggikan diri. Kesombongan atau peninggian diri adalah dosa yang paling membutakan, sebab dia justru sedang menganggap dirinya “rendah hati.“ 

Karena itu dosa peninggian diri selalu dikemas dengan berbagai bentuk kesalehan, kebajikan dan perbuatan baik sebagaimana dilakukan seorang Farisi sebagaimana yang dikisahkan oleh Yesus.

Kebangkitan nasionalisme di bumi Indonesia belum menjadi nilai-nilai yang meredam sikap peninggian diri. Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi momen bersejarah belum sepenuhnya diwujudkan dalam relasi dengan sesama anak bangsa. Sampai detik ini kita dapat melihat bahwa beberapa kelompok masih begitu arogan menganggap bahwa diri mereka sebagai kelompok yang berhak lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Karena itu mereka tanpa rasa malu menunjukkan superioritas dengan melakukan stigmatisasi, intimidasi kepada orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan agama mereka, dan mendiskriminasi.

Sebagai gereja yang terlahir di bumi Nusantara dan hadir di Indonesia, umat Gereja Kristen Indonesia perlu mempraktikkan spiritualitas yang menunjang kesetaraan, keadilan, persamaan hak dan tanggungjawab, serta penolakan terhadap praktik stigmatisasi kepada pihak yang berseberangan. Kita juga menolak segala bentuk intimidasi yang terselubung dan nyata.

~Diambil dari Dasar Pemikiran – Dian Penuntun, Rancangan Khotbah Leksionari~

arrow