Bertambah Besar, Bertambah Hikmatnya

 

Bacaan:

Lukas 2: 41 – 52

Mens Sana In Corpore Sano

adalah suatu semboyan bahasa Latin yang bisa diartikan “jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat”. Semboyan ini biasanya dipakai untuk menekankan pentingnya kesehatan tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Dalam konteks pertumbuhan manusia, semboyan ini mau menegaskan bagaimana pertumbuhan fisik yang sehat harus selaras dengan pertumbuhan jiwa. Tubuh dan jiwa sama penting. Semboyan di atas sering didengungkan di sekolah, kepada anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan. Anak-anak harus bertumbuh, tidak hanya fisiknya yang makin tinggi dan besar, tetapi juga secara mental, yang mencakup pikiran dan emosi.

Pertumbuhan di masa kanak-kanak ini juga dialami oleh Yesus. Ia bertumbuh dari seorang bayi mungil, yang tidak dapat melakukan apa-apa selain menangis, menjadi seorang anak yang kuat secara fisik dan berpikiran baik. Alkitab menyebutnya berhikmat. Walau proses pertumbuhan ini tidak dikisahkan secara detail dalam Kitab Suci, tetapi kita bisa mendapatkan gambaran umum dalam bacaan kita saat ini.

Secara khusus dalam ayat 52, kita melihat ada tiga aspek pertumbuhan yang penulis Lukas tekankan dari pertumbuhan yang dialami oleh Yesus selama 12 tahun pertama dan 18 tahun sesudahnya.

Pertama, pertumbuhan fisik. Yesus bertumbuh sehat seperti anak-anak Yahudi lainnya. Bisa dipastikan bahwa Yesus mendapat asupan makanan dan gizi yang baik dari orangtuanya. Ia pun pasti menjaga dirinya dari segala hal, termasuk makanan, yang dapat membuatnya sakit. Yesus juga menempa fisik dan kekuatan tubuhnya dengan bekerja meneruskan pekerjaan ayahnya yang adalah seorang tukang kayu.

Kedua, bertambah hikmat. Selain bertumbuh secara fisik, Yesus pun bertambah dalam hikmat. Yesus memiliki kemampuan untuk berpikir dan menentukan pilihan hidup berdasarkan kehendak Allah. Ia memiliki kepribadian dan karakter yang baik. Amsal 1: 7 mengatakan “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”. Tentu saja Yesus tunduk dan hormat kepada Bapa-Nya, dan hal ini menjadi dasar untuk  Tapi bukan itu saja, sebagai seorang kanak-kanak biasa, Yesus juga belajar. Lihatlah kembali Lukas 2: 46, “Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah, Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.”Yesus datang kepada pada guru (ahli) Kitab Suci, mendengar apa yang mereka ajarkan, dan tidak lupa bertanya. Ada interaksi belajar yang Yesus lakukan, sama seperti sekolah yang dilakukan anak-anak saat ini. Yesus bisa saja tidak belajar kepada para guru. Sebagai Allah, Ia bisa saja hanya memberikan perintah kepada para guru ini. Tapi, Yesus memilih jalan belajar. Akal pikirannya ditaburi dan ditanami segala ilmu dan pengetahuan, terutama tradisi Yahudi, sehingga Ia terus bertambah dalam pengetahuan. Bisa dibayangkan, jikalau Yesus tidak menguasai tradisi dan hukum Yahudi, maka Ia tidak akan mungkin bicara tentang hukum Yahudi, apalagi menggenapinya (memberi interpretasi baru atasnya).

Ketika sudah bertahun-tahun sekolah, bekerja, berusaha, bahkan melayani, kita seringkali enggan untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain. termasuk datang beribadah. Kita merasa sudah mengerti dan bisa. Kadang muncul perkataan: “Ah saya sudah tahu. Gak usah ngajarin saya.”. Atau perkataan, “Ah kamu kan baru disini jadi ga tahu apa-apa. Saya dah sekian tahun pelayanan dan ga pernah menemukan apa yang kamu katakan.”

Dari Yesus kita belajar bahwa Tuhan juga memakai manusia. Yesus bahkan belajar dari para alim ulama. Jadi, jika Yesus saja mau belajar dari manusia, bagaimana dengan kita? Tuhan bisa memakai semua orang, bahkan anak kecil sekalipun, untuk mengajar kita. Salah satu aspek kedewasaan adalah kemauan belajar dan diajar, sehingga hikmat itu terus bertambah.

Ketiga, makin dikasihi dan disukai Tuhan dan manusia. Yesus tidak hanya tumbuh berkenan di mata Bapa-Nya, tetapi Ia juga disukai oleh orang-orang di sekitar-Nya, bahkan orang-orang asing yang Ia jumpai. Ini berarti Yesus mengembangkan kemampuan sosial yang baik selama 18 tahun perkembangan hidup-Nya. Manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Bahkan, pada hakikatnya, Allah pun adalah Allah sosial (Trinitas) yang satu, saling merajut, serta berhubungan satu sama lain.

Alkitab juga mencatat seorang anak muda lain yang tumbuh disukai Allah dan manusia. Dalam 1 Samuel 2: 26 dikatakan, “Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”Yesus muda dan Samuel muda pasti orang-orang yang bergaul. Mereka tentu sangat rohani hidupnya. Namun demikian, mereka tidak hidup menyendiri. Walau mereka bergaul akrab dengan Allah, mereka juga bergaul akrab dengan sesamanya. Mereka tidak pernah menganggap manusia lain “gak selevel” dengan mereka sehingga harus dijauhi.

Disukai oleh Allah dan manusia adalah salah satu tanda pertumbuhan dan kedewasaan mereka. Allah tidak mau jika kita berhenti sampai disukai oleh-Nya saja. Mengapa? Karena dalam rencana Besar Allah, Allah mau hidup kita, yang disukai oleh-Nya itu, dapat memberi dampak bagi manusia yang lain sehingga hidup mereka pun juga disukai oleh Allah. Itulah hal yang diamanatkan oleh Kristus. Bagaimana hidup kita bisa berdampak baik bagi orang lain, jika kita tidak mau mendekat kepada orang lain, atau jika kita sombong rohani, seolah memiliki tingkat rohani yang tinggi dari orang lain karena katanya hidup “bergaul dengan Allah”

Hal ini bukan berarti bahwa kita harus menyenangkan semua orang karena hal itu mustahil. Amsal 3: 3 – 4 berkata,“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia”. Jika kita mengasihi dengan setia Allah dan manusia, maka kita akan disukai oleh Allah dan manusia. Ini menjadi tanda bahwa kita bertumbuh dalam iman, ketika kita mengenakan kasih dan setia kepada semua orang.

arrow