Berita Injil: Informasi Atau Transformasi?

Bacaan: Yeremia 23 : 23-29, Mazmur 82, Ibrani 11 : 29-12;2, Lukas 12 : 49-56

Menurut Kalender Gerejawi, kebaktian Minggu hari ini masih termasuk dalam kategori “Minggu Biasa”. Namun, kita tahu bahwa istilah “Minggu Biasa” sesungguhnya tidak bermakna “biasa-biasa saja”, atau sesuatu yang kurang istimewa dibanding minggu-minggu lainnya. Sebaliknya, warna liturgis hijau sesungguhnya mempunyai makna yang mendalam, yaitu pertumbuhan. Pada minggu-minggu biasa, umat Allah dipandang layaknya sebuah tanaman yang terus-menerus mengalami pertumbuhan dari hari ke hari. Terlebih lagi, momen kebaktian Minggu kali ini masih diliputi sebuah suasana yang “tidak biasa” bagi seluruh masyarakat Indonesia, dimana GKI menjadi bagian integral di dalamnya. Momen itu tidak lain adalah HUT ke-74 Republik Indonesia yang dirayakan pada akhir pekan kemarin.

Hal apa yang dapat kita refleksikan kembali sebagai bagian gereja sekaligus warga negara pada momen yang spesial ini? Pada tanggal 30 September 1960, dalam persidangan umum PBB yang ke-XV, Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya tentang konsepsi Pancasila di hadapan sekian banyak pemimpin-pemimpin dunia. Dalam pidatonya yang berbahasa Inggris tersebut, Soekarno mendeklarasikan lima sila yang menjadi ideologi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima sila tersebut adalah :

1.   “Belief in God”@ Iman kepada Tuhan

2.   “Humanity”@ Kemanusiaan

3.   “Nationality”@ Persatuan atas dasar kebangsaan

4.   “Democracy”@ Kepemimpinan dari, oleh, dan untuk rakyat

5.   “Social Justice”@ Keadilan sosial

Kalau kita renungkan kembali, apa lagi yang masih kurang dari Indonesia? Masyarakatnya sangat religius, bahkan terkadang religiositasnya melampaui batas (bdk. Gerakan radikalisme keagamaan bertumbuh subur). Para pemimpinnya pun tidak kurang “intelek”, bukan?.

Pemerintahan kita dihuni oleh orang-orang yang punya curriculum vitae akademis yang cukup mumpuni. Tetapi mengapa masih marak saja tindakan korupsi, diskriminasi SARA, praktik pembedaan hak-hak kewarganegaraan, segregasi sosial, dst?.

Pengamalan sila pertama dan kedua secara seimbang rupanya menjadi prasyarat utama bagi terwujudnya ketiga sila lainnya di Indonesia. Persatuan Indonesia, demokrasi, dan keadilan sosial tidak akan pernah terwujud ketika umat beragama di Indonesia tidak pernah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Maka salah satu fungsi utama dari agama sejatinya adalah mengedukasi, bahkan mentransformasi manusia untuk mencapai kepenuhan hidup (fullness of life) dan kedewasaan iman untuk mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik keseharian.

Meminjam istilah Hans Kung, dalam tataran yang lebih luas, isu kemanusiaan bahkan dipandang sebagai “common ground” atau landasan bersama yang mendialogkan agama-agama atas dasar sebuah kesatuan peran.

Akan menjadi sebuah wacana yang serius bagi gereja, jika dalam struktur masyarakat religius seperti Indonesia, pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan dalam praksis hidup beragama, maupun masyarakat belum dapat terwujud secara intensional. Dalam ranah privat, dapat direnungkan bahwa klaim sebagai seorang yang beragama ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan transformasi diri dan oleh karenanya juga, transformasi sosial.

Seorang penginjil ternama asal Amerika Serikat bernama Dwight L. Moody (1837-1899) pernah mengungkapkan sebuah kalimat yang sangat terkenal, “The Bible was not given for our information, but for our transformation.” Kurang lebih kalimat itu berarti “Alkitab tidak diberikan sekadar sebagai informasi bagi kita, tetapi untuk mentransformasi hidup kita.”

Demikianlah peran Alkitab dan iman Kristen seharusnya dipahami lebih daripada sekadar sebuah “museum” untuk mengkonversi serangkaian tradisi religius yang terus bergulir tanpa tujuan. Pertanyaannya, apakah berita Alkitab sudah benar-benar memberi dampak transformatif, baik secara personal, komunal, maupun sosial dalam perjalanan kita sebagai Gereja Kristen Indonesia selama 74 tahun terakhir?

 

*Diambil dari Dian Penuntun – Rancangan Khotbah Leksionari

arrow