BERBUAT

YAKOBUS 2:17-20

 Sudah berapa banyak perbuatan yang kita lakukan, yang menunjukkan kesetiaan, keberimanan dan kasih kita kepada Tuhan? Mari coba kita hitung! Dan coba untuk merefleksikannya. Sudah seimbangkah perkataan dan perbuatan iman kita?

 

Perbuatan tidak menyelamatkan, karena hanya iman yang menyelamatkan. Namun sama sekali bukan dalam artian iman saja. Iman bukan sesuatu yang artinya sekedar percaya. Pistos (yun: iman) menyatakan bahwa iman adalah menunjukkan ketaatan sekaligus kesetiaan. Kalo hanya percaya tapi tidak taat, namanya bukan manusia yang beriman, namun  manusia yang egois.

 

Orang egois adalah orang yang hanya mau mengejar keselamatan, namun tidak mau menyelamatkan orang lain. Tindakan iman sama sekali tidak menyelamatkan, karena tindakan iman bukan dan tidak pernah ditujukkan untuk diri sendiri. Tindakan iman selalu dilakukan untuk kepentingan, kesukacitaan, kedamaian orang lain. Tindakan iman didasari oleh kasih kepada sesama, dan rasa syukur kepada Allah. Itulah iman yang sejati dan iman yang mengalahkan diri.  Bagaimana iman dapat mengubah dunia, bila mengubah diri saja tidak mampu.

 

Iman juga merupakan landasan hidup berkeluarga. Iman menolong kita memiliki pengharapan ketika sudah tidak ada harapan. Iman menolong kita melihat hal-hal positif dalam diri setiap anggota keluarga. Iman mendorong kita untuk mendorong dan mendukung anggota keluarga kita untuk mencapai hal-hal yang sudah Tuhan rancangkan bagi mereka, yang bahkan melampaui harapan kita. Iman menolong kita untuk melihat  hal-hal yang mustahil terjadi dalam keluarga kita menjadi kenyataan. Iman menolong kita mengubah hal yang kita kira tidak dapat kita ubah, baik dalam diri kita maupun dalam diri setiap anggota keluarga kita. Iman menolong kita untuk berada dalam rel Tuhan, hingga kita tidak tersesat. Iman menjadi perisai bagi keluarga kita untuk menangkal setiap godaan dan serangan Iblis yang datang kian kuat dan banyak setiap harinya kepada keluarga-keluarga Kristen.

 

Seberapa besar dan kuat iman kita akan nampak dengan sangat jelas dalam respon-respon kita terhadap tantangan hidup berkeluarga dan berkomunitas; tindakan-tindakan kasih kita terhadap sesama yang melukai dan mengecewakan kita sekalipun; semangat yang tidak kunjung reda dikala halangan dan tantangan begitu kuat menyerang; pengharapan yang tidak pernah pudar walau seakan hidup sudah berada di ujung tanduk; hidup yang senantiasa menjadi berkat walau begitu banyak kerapuhan dan kekurangan di dalamnya; hati yang senantiasa siap diubah dan dipenuhi oleh kuasa ROH ALLAH, dan bukan roh dunia yang menyesatkan. Itulah iman sesungguhnya, dan ingatlah iman hanya imanlah yang menyelamatkan, bukan hanya dalam hidup baka, namun juga dalam hidup nyata saat ini, sekarang ini.

 

 

Kini, bagaimana menunjukan iman kita secara EFEKTIF dan EFISIEN?

  1. MULAILAH DENGAN DOA. Iman berasal dari Tuhan dan bukan dari diri kita atau manusia manapun di atas bumi. Kita membutuhkan Tuhan untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan iman. Karena hanya Dialah yang akan memberikan hikmat dalam melakukan perbuatan iman tersebut, hingga perbuatan kita bukan sekedar perbuatan yang dilandasi oleh rasa tanggung jawab. Doa menjadi saluran yang tak nampak antara kita dan Tuhan. Saluran bagi Tuhan untuk menyampaikan hikmat. Hikmat yang memberikan kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan sebelumnya. Kemungkinan yang selama ini mungkin belum terlihat, terbayangkan sebagai sebuah jalan keluar. Doa menjadi saluran bagi Tuhan untuk memberikan kekuatanyang tak terbatas dari sorga untuk kita gunakan sepanjang pergumulan hidup kita. Tuhan mau kita berdoa, karena kitalah yang memungkinkan saluran itu bekerja. Dengan doa, kita membuka saluran itu untuk masuk ke dalam hati kita. Doa adalah sebuah bentuk kerendahan hati yang memungkinkan kita melibatkan Tuhan lebih dalam dan lebih sungguh lagi dalam kehidupan kita. Tanpa doa, kita tidak akan mampu mempergunakan baik itu kekuatan, pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang tak terbatas itu. Tuhan kita bukanlah pemaksa. Ia ingin kita berperan aktif dalam membukan saluran tersebut sebagai tanda keterbukaan hati kita. Doa adalah saluran bagi kitauntuk menyelaraskan kehendak Tuhan dalam hidup kita dan bukan sebaliknya.Doa adalah saluran bagi kita untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk dapat menumbuhkan iman menjadi perbuatan-perbuatan yang luar biasa, hingga iman yang Tuhan telah berikan kepada kita tidak mati, namun menjadi iman yang hidup dan senantiasa menyatakan pertumbuhan dan buah-buahnya.
  2. MULAILAH DARI HAL YANG KECIL. Apa yang dapat disebut sebagai perbuatan iman? Bukan sekedar perbuatan yang mengguncangkan dunia dalam sekali perbuatan. Namun perbuatan-perbuatan kecil yang dilakukan dengan kesetiaan dan konsisten, berdasarkan integritas yang ada pada kita. Apakah yang dilakukan oleh Ahok sebagai tokoh yang dapat dikatakan mengguncang dunia dimulai dari hal kecil? Ya!!! Dimulai dengan tidak korupsi waktu, dimulai dari kejujuran dalam proyek-proyek kecil, dimulai dari disiplin diri yang diterapkan, ditularkan, dan diberlakukan bagi orang lain. Ahok memulai dengan hal yang sederhana. Rencana sehebat dan sesempurna apapun tidak akan pernah menjadi sempurna dan hebat bila tidak dimulai dari hal yang kecil. Keberhasilannya membangun Jakarta, dimulai dengan menerapkan nilai-nilai Kristiani dan bukan hanya dengan ilmu management kota yang hebat, atau taktik pembangunan yang hebat. Ia memulai dengan menunjukkan siapa dirinya, seorang Anak Tuhan, yang mau hidup benar, berkarya lewat hal sederhana, yang kecil, namun memberi dampak yang besar.
  3. MULAILAH MENUNJUKANNYA KEPADA SIAPAPUN DENGAN KONSISTEN. Pertumbuhan sejatinya dinikmati oleh semua orang yang melihat dan berelasi dengan kita. Bila tidak ada yang merasakannya, maka jangan pernah katakan bahwa kita telah bertumbuh. Sebatang pohon mangga, akan diakui pertumbuhannya bila ia sungguh menunjukkan buah-buah yang banyak dan manis. Si pohon itu sendiri tidak dapat mengatakan bahwa saya sudah bertumbuh dengan baik. Hanya penikmat buah mangga yang mampu mengatakan dan mengakui pertumbuhannya. Begitu pula dengan iman kita. Kita tidak dapat mengatakan bahwa saya beriman. Tanpa kita menunjukkan apapun yang mampu membuat orang lain memahami dan mengakui iman kita, bahkan mengakui siapa Tuhan kita. Tuhan yang besar, dan yang kasihNya melampaui segala hal. Mulailah menjadi pribadi yang sabar, penuh dengan hikmat dan kasih, pengampun, mampu bertoleransi, mau memberikan pertolongan, mau berkorban, mau belajar dan merendahkan diri senantiasa, kepada siapapun, dalam keadaan apapun, pada waktu yang baik maupun tidak baik sekalipun.

 

 

arrow