BERBUAH DALAM RELASI DENGAN ALLAH DAN SESAMA

BERBUAH DALAM RELASI DENGAN ALLAH DAN SESAMA

KISAH 8:26-40

MAZ 22:25-31

1 YOH 4:7-21

YOHANES 15:1-8

 

Ada dimanakah Tuhan dalam relasi saudara? Baik itu relasi dengan suami, istri, anak, dalam keluarga kita, maupun dengan teman, sahabat, bahkan tetangga atau orang asing yang datang dalam hidup kita? Banyak orang melupakan Tuhan dalam realsi yang mereka bangun dengan sesamanya. Adapun yang mengingat,mereka hanya menempatkan Tuhan dalam relasi yang menurut mereka penting saja, dan tidak diberlakukan dalam seluruh relasi mereka.

 

Minggu paskah ke 5 ini, hendak menghantar kita kepada sebuah kemenangan yang berdampak pada relasi antara manusia dengan Allah, juga manusia dengan sesamanya. Kemengaan Yesus atas maut mengubah hubungan Allah dengan manusia yang pada awalnya rusak, menjadi pulih kembali. Manusia kini dapat berelasi dengan bebas melalui perantaraan Anak Allah yang Tunggal, Yesus Kristus dengan sang pencipta. Lebih dari pada itu, melalui pemulihan hubungan antara Allah dengan manusia, hubungan manusia dengan sesamanya juga dipulihkan.

 

Namun, pemulihan dalam kedua relasi tersebut bukan terjadi secara otomatis. Baik Allah dan manusia masih terus berupaya agar hubungan yang dipulihan terus terpelihara. Kebangkitan Yesus bukan penanda bahwa Allah selesailah perjuangan Allah memulihakn hubungan antara diriNya dengan ciptaanNya. Sebaliknya kebangkitan Yesus menjadi penanda dimulailah sebuah relasi yang baru antara Allah dengan manusia. Dan relasi yang baru ini tetap butuh dirawat dan dipelihara agar tetap tumbuh secara sehat dan membawa perubahan  bagi kehidupan manusia secara khusus.

 

Tahap kedua, setelah hubungan dengan Allah diperdamaikan, manusia juga perlu menjaga hubungan  dengan sesamanya, yang juga telah diperdamaikan oleh Yesus Kristus. Memelihara hubungan tersebut lebih rumit lagi. Bila hubungan dengan Allah dapat diperdamaikan dengan adanya inisiatif dari Allah sendiri dalam diri Yesus Kristus, berbeda dengan hubungan manusia dengan sesamanya. Masing-masing manusia harus memiliki inisiatif untuk tetap memelihara relasi tersebut. (atau paling tidak salah satunya harus terus mengupayakan kesungguhan untuk menjaga relasi tersebut). Bukan sesuatu yang mudah untuk dicapai tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dicapai.

 

Bagaimana cara yang paling tepat dan dapat dilakukan?

  1. MEMAHAMI DAN MENERIMA DIRI BAHWA KITA BUKAN SEKEDAR SALURAN.

 

Siapa yang tidak pernah mendengar bahwa kita ini adalah saluran berkat Tuhan bagi sesama..  Ada kalanya sebutan menjadi saluran berkat menjadi beban tersendiri, seakan-akan kita ini hanya alat Tuhan untuk menyalurkan berkat Tuhan. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa, karena Tuhan tidak mau repot maka kitalah yang diminta untuk menjadi penyalur berkatNya.

 

Ya! Kita ini adalah saluran bagi Allah kepada sesama! Eit, jangan resah dulu, menjadi saluran bukan berarti kita hanya menyalurkan dan tidak mendapat apa-apa, tentu bukan juga berarti karena kita mau menjadi saluran supaya kita mendapat sesuatu.

 

Mari kita baca Yohanes 15:1-8. LAI memberi judul Pokok Anggur yang Benar. Mari kita belajar bersama dari perikop ini. Kita disebut sebagai ranting-ranting dan Yesus disebut sebagai pokok anggur. Apakah ranting tidak mendapatkan sesuatu dan hanya menjadi saluran? Tentu tidak! Ranting ada bukan untuk sekedar menjadi saluran. Ia ada menjadi berkat  tersendiri bagi buah yang akan dihasilkannnya. Tanpa adanya ranting tidak akan ada buah. Karena buah-buah anggur keluar dari ranting-rantingnya. Jadi dapat dikatakan bahwa ranting memperoleh begitu banyak potensi yang begitu besar untuk dapat menghasilkan buah.

 

Namun sebuah ranting    tidak akan mendapat potensi yang luar biasa itu bila ia tidak melekat pada pokok anggurnya (Trunk). Kedua, setiap ranting biasanya akan mengalami pemangkasan untuk mencegahnya berbuah sebelum tahun ke 3. Disini ranting-ranting akan menyimpan semua potensinya tersebut dan tidak langsung disalurkan untuk menjadi buah-buah anggur. Namun juga tidak dibiarkan hanya untuk memperbesar ranting tersebut. Karena hanya dengan cara demikian anggur-anggur yang dihasilkan menjadi anggur yang baik kualitasnya. KARENA RANTING-RANTING MENYIMPAN DAN MENGELOLA POTENSI YANG DIDAPATNYA DARI POKOK ANGGUR, MAKA RANTING BUKANLAH SEKEDAR SALURAN AGAR POHON ANGGUR BERBUAH.

 

Ranting punya peran yang besar dalam menghasilkan buah-buah. SAYANGNYA peran besar tersebutpun tidak akan pernah terwujud bila sebuah ranting memilih untuk menerima potensi lalu melepas diri dari sang pokok.  Bila sebuah ranting memutuskan untuk sekedar menerima potensi lalu melepaskan diri, ranting itu akan mengalami kematian. Bahkan potensi yang ada di dalamnyapun akan mati. Berbeda bila ranting hanya sekedar saluran yang sama fungsinya dengan talang air di rumah kita. Bila talang itu dilepas dan dipasangkan kembali di talang yang lain, talang itu akan tetap dapat digunakan.

 

RANTING HANYA MAMPU MEMENUHI POTENSINYA TERSEBUT DENGAN MENETAP TINGGAL BERSAMA SANG POKOK, OLEH KARENA ITU RANTING BUKAN SEKEDAR SALURAN. Begitu pula dengan kita, kita hanya mampu menghasilkan buah bila kita melekat pada Kristus sendiri, karena tanpa melekat kita akan mati. Bila kita membayangkan diri hanya sebagai saluran, yang dipakai Tuhan untuk menyalurkan  saja, maka kita akan merasa bahwa menjadi berkat bagi orang lain adalah sebuah beban, tanpa sadar bahwa kita ini juga hanya dapat hidup dari kasih karunia Tuhan.

 

Dengan menyadari adanya kasih karunia Tuhan yang mengalir dalam hidup kita sebagai ranting-rantingNya, maka secara otomatis kita akan menerima sekaligus memberi kasih karunia tersebut, dan bukan menyimpannya untuk kepentingan diri sendiri. Kita yang bukan sekedar saluran akan memilih untuk menyalurkan segala potensi kasih karunia Tuhan tersebut kepada sesama, pada waktu, cara dan pengelolaan yang tepat. Sama seperti pohon anggur, yang ditahan berbuah hingga tahun ke 3 agar buah yang dihasilkan menjadi lebih baik kualitasnya.

 

  1. TINGGAL DI DALAM KASIH

Enakkah tinggal di dalam sebuah rumah? Saya akan menjawab: tergantung! Tergantung tinggal dimana, dengan siapa dan dalam rumah yang seperti apa, dan apa saja aturan yang ada, yang mengikat para penghuninya. Bila saya harus tinggal di istana mewah, namun saya tidak diperkanankan untuk menyentuh dan memakai semua benda yang ada disana, saya lebih memilih tinggal di hotel, yang mana semua baranngnya dapat saya sentuh dan gunakan, walau saya harus membayar. Atau saya akan memilih tinggak di kos yang kecil dan sempit daripada harus tinggal bersama keluarga yang bertengkar terus menerus setiap hari walau dalam rumah yang nampak nyaman.

 

Tuhan menginginkan kita untuk tinggal dalam kasih.  Tinggal di dalam bukan berarti sama dengan tinggal di luar. Dengan tinggal didalam KASIH maka kita akan dapat menikmati semua fasilitas dari kasih yang begitu menyenangkan. Kasih membuat kita merasa diterima, disambut, nyaman, aman dan memberi sukacita serta damai sejahtera. Namun sama seperti tinggal di rumah kita, kasih juga memiliki aturan. Tinggal di dalam kasih bukan berabrti tinggal dalam kebebasan yang sebebas-bebasnya, dalam kenyamanan dan sukacita yaang tak terhingga saja. Tinggal di dalam kasih mengharuskan kita memberlakukan kasih itu bukan bagi diri kita sendiri tapi juga kepada orang lain. KASIH hanya dapat disebut kasih bila ada kesabaran, kerendahan hati, kemurahan hati, keinginan untuk menolong, melindungi orang lain.

 

Aturan tentang kasih itulah yang kerap kali membuat kita tdk merasa nyaman. Karena pemahaman kitalah yang keliru tentang kasih. Kita  merasa bahwa tinggal di dalam ksih pastilah menyenangkan dan menyukakan hati kita. Padahal kasih Tuhanlah yang membawaNya mati diatas kayu salib  dalam kehinaan.

 

Tentunya bukan berarti tinggal di dalam kasih semata-mata adalah soal berkorban dan menderita bagi orang lain, karena tinggal di dalam kasih  adalah sebuah pemberian diri yang sejati bagi sesama, dimana tidak ada penyesalan atau penderitaan. Yang ada adalah dorongan yang besar untuk menjadikan hidup berarti.

arrow