BELAS KASIHAN BUKAN MENGABAIKAN

Ulangan 30:9-14
Mazmur 25:1-10
Kolose 1:1-14

Lukas 10:25-37

Banyak orang berpendapat bahwa welas asih atau kepedulian, merupakan salah satu dari beragam emosi manusia yang muncul akibat penderitaan orang lain. Apa bedanya dengan sekedar simpati? Setiap kita pasti pernah merasakan simpati atas apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain, namun ternyata simpati berhenti pada perasaan semata. Dan sering kali kita merasa sudah menunjukkan belas kasih kepada orang lain ketika kita merasakan simpati kepada mereka.

Belas kasih lebih dari sekedar emosi, lebih dari sekedar perasaan simpati atas apa yang terjadi pada orang lain. Belas kasih tidak berhenti pada perasaan kasihan, sedih, marah, terharu dan iba melihat sesama yang menjadi korban. Belas kasih mendorong manusia untuk bertindak, melakukan sesuatu tidak sekedar diam dan berkata:” aduh kasihan ya!”. Berapa banyak orang Kristen yang memilih untuk sekedar merasa dan berkata. Dengan mudah mengalihkan hati dan pikiran kepada hal lain, daripada harus mengerahkan segala pikiran untuk menawarkan sebuah jalan keluar yang juga belum tentu dapat menyelesaikan masalah, alih-alih pertolongan yang ditawarkanpun ditolak mentah-mentah. Belas kasih menolong manusia tidak berhenti pada satu cara, atau jalan, namun mencari jalan yang lain, yang baru, yang lebih masuk akal dan lebih mampu diterima. Dengannya, manusia akan mengubah, membarui, menciptakan sesuatu yang baru, yang lebih baik dan sempurna.

Realita memang berbicara berbeda. Manusia dengan mudah berhenti pada simpati semata. Lalu dengan cepat berubah simpati tersebut menjadi pengabaian. Orang lain tidak menjadi penting, kepentingan dan perasaan diri menjadi yang utama. Pengabaian menjadi pilihan, karena hampir semua orang juga melakukan hal yang sama. Kesibukan menjadi alasan, kebutuhan diri yang jauh lebih penting menjadi pembelaan diri. Belas kasih luntur, bahkan nyaris tak berbekas. Orang asing semakin asing. Dengan mudah diberi label dan stigma tertentu, tanpa mencari tahu kisah lengkapnya. Sumbu manusia semakin pendek, semakin mudah menyerah, semakin mudah terprofokasi, semakin mudah meninggalkan demi sebuah kedamaian pribadi.

Kisah orang Samaria yang baik hati dapat menjadi kisah yang begitu baik bagi manusia modern untuk berkaca dan mengevaluasi. Kekristenan seperti apa yang selama ini kita hidupi. Apakah kekistenan sejati? Yang mampu menunjukkan kasih sejati, atau hanya label yang dengan mudah dilepas dan dipasang, tergantung situasi dan kondisi.

Seorang Samaria, datang sebagai orang asing, yang tidak mengenal apa itu keselamatan, dianggap pula sebagai orang yang tidak layak memperoleh keselamatan. Mungkin pada awalnya, Ia hanya ingin tiba di tempat tujuannya dengan selamat. Tidak pernah dikisahkan, apakah ia adalah seorang Samaria yang kaya atau miskin. Namun yang jelas, sejarah telah menyebabkan putusnya hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Orang Yahudi memilih untuk bermusuhan dengan orang samaria yang dianggap sebagai bangsa campuran, yang tidak mengenal Allah Yahweh, yang memilih untuk menikah dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yang memberikan persembahan bagi dewa-dewa. Najis, itulah ungkapan bangsa Yahudi bagi bangsa Samaria.

Namun, apa yang dilakukan oleh Orang Samaria yang baik hati itu, melampaui apa yang dilakukan oleh orang Yahudi, yang menyebut diri sebagai umat Allah, bangsa yang Imamat rajani, umat kepunyaan dan kesayangan Allah. Orang Samaria yang dianggap najis, justru menunjukkan keagungan kasih Allah melalui tindakannya. Bagiamana dengan kita? Apakah kita memilih tindakan seperti Imam dan orang Lewi, atau memilih berlaku seperti Sang Samaria, yang dinilai najis oleh orang lain, namun mampu menunjukkan keagungan Sang Khalik semesta dalam diri seorang ciptaan?

Bagaimana caranya menunjukkan kepedulian?
1. MELIHAT. Melihat adalah kata kerja yang biasa kita gunakan. Bahkan kita lakukan setiap hari

dengan mata kita. Hanya sayangnya tidak semua apa yang kita lihat memberi pembelajaran.

Ada kalanya mata kita memandang begitu banyak hal namun tidak juga belajar dari apapun yang dilihat. Melihat hanya menjadi aktivitas biasa yang tidak bermakna, karena mata telah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari hidup apalagi bagi kita yang tidak memiliki hambatan dalam pengih, hingga lupa juga mencari makna melalui penglihatan. Pernahkah saudara bertanya mengapa Tuhan memberikan kepada kita penglihatan? Apa hanya sekedar untuk hidup yang lebih mudah, daripada hidup tanpa mata? Tuhan memberi kita mata untuk melihat dunia, juga melihat dengan caraNya melihat. Seorang Pemuda pernah berkisah tentang doanya kepada Tuhan, bahwa ia memohon Tuhan memberikan ia kesempatan untuk melihat menggunakan mataNya, lima detik saja, agar ia mampu melihat mereka yang dilayaninya seperti Tuhan melihat mereka. Dengan mata Tuhan memberi kita pengalaman, pembelajaran, pengetahuan, tentang apa yang dibutuhkan dunia. Ia memberi kita penglihatan yang sehat setiap hari, sejak kita bangun hingga kita kembali tidur, untuk sebuah visi dan misi. Kita, lebih suka melihat apa yang kita suka dan yang menyenagkan kita, hingga yang tidak menyenangkan, yang mengerikan, menyedihkan dan menyakitkan begitu mudah terlupa. Namun Tuhan mengijinkan mata kita terbuka setiap pagi, tentu bukan hanya untuk memberi kita kehidupan yang mudah, tapi juga agar kita mau melihat apa yang Ia lihat di dalam dunia. sekedar melihat, mudah untuk dilakukan, namun melihat lalu mengolah secara tepat dan benar apa yang dilihat, itu butuh pertolongan Roh Kudus.

  1. MEMBALUT. Melihat lalu pergi melewatinya dan melanjutkan perjalanan, akan menjadi pilihan yang mudah. Tapi melihat lalu mencoba mencari dan mengusahakan apa yang dibutuhkan mereka yang dilihat membutuhkan pengorbanan. Tidak perlu kita berpikir bahwa resiko yang ia hadapi adalah perompak yang masih mengincar mangsa yang melewati jalan tersebut. Mari kita coba membayangkan apa yang dilakukannya untuk ‘sekedar’ membalut. Apakah ia memang membawa kain untuk membalut? Air yang cukup untuk membasuh luka-lukanya? Apakah memang ia membawa anggur dan minyak dalam perjalanan, atau ia menyempatkan diri untuk kembali ke kota terdekat dan mencari semua yang ia butuhkan untuk membalut orang asing yang babak belur yang sedang tergeletak di jalan itu? Mengeluarkan tenaga lebih, uang lebih, waktu lebih, hanya untuk mengurus orang yang tidak dikenalnya, yang mungkin ada sekedar untuk menjebaknya. Apakah membalut luka dapat dilakukan oleh sembarang orang ? TIDAK! Karena belum tentu luka tersebut tidak beresiko. Seorang yang mengalami retak pada tulangnya, hanya karena salah penanganan dapat menyebabkan keretakan yang ada pada tulangnya berubah menjadi patahan yang menimbulkan rasa sakit yang jauh lebih besar dari keretakan pertama. Membalut butuh kemampuan, kepekaan, terhadap si sakit. “apakah nyaman bagimu kalo saya memegang tanganmu? Terasa sakit sekali? Atau sekedar linu? Orang Samaria yang baik hati itu memberi sebagian besar waktunya untuk bertanya, dan mencari jalan keluar melalui jawaban si korban, dengan kesabaran ia mencari cara terbaik untuk memberi pertolongan. bukan dengan asal asalan apalagi dengan pertolongan yang terasa terburu-buru. Membalut, dalam Kisah ini bukanlah membalut yang dapat dikerjakan dengan sederhana, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
  2. MENAIKKAN KE KELEDAI TUNGGANGANNYA. Apa tujuan utama kita menolong seseorang? Berempati dan menunjukkan belas kasih? Apakah sekedar menunjukkan bahwa kita mampu, punya uang yang cukup, diberkati lebih dari yang lain? Ketika Yesus menolong kita, hingga Ia turun dari takhtaNya di Sorga, ke dunia yang penuh dengan ketidaknyamanan, bukan karena Ia ingin menunjukkan apa yang dapat Ia lakukan, namun karena Ia ingin mengangkat kita. Mengangkat status, kehidupan kita lebih tinggi, lebih baik, lebih terhormat. Itu juga yang dilakukan oleh Orang Samaria yang baik hati tersebut. Ia menunjukkan belas kasih untuk menaikkan kualitas hidup yang sedang dialami si sakit . Ia menginginkan hidup yang lebih baik dialami oleh orang asing sekalipun. Memanusiakan manusia. Menjadikan si sakit, yang awalnya adalah korban, layak untuk menjalani kehidupan lagi dengan memberikan perawatan yang terbaik. Tetap menjadi orang asing, menjadi pilihannya. Hingga ia menitipkan pesan bukan pada si sakit, namun pada sang pemilik penginapan, yang dapat dengan mudah mengatakan kepada si sakit dialah yang merawatnya selama ini. Ketulusan untuk mengangkat kehidupan orang lain jauh lebih penting daripada untuk dilihat baik dan mampu.
arrow