BELAJAR DAN BERBAGI

GALATIA 6:2-7

 

Keluarga adalah tempat belajar pertama bagi semua manusia. Mulai dari hal-hal sederhana, hal-hal kecil dan praktis, keterampilan hidup, hingga belajar beradaptasi dengan sesama manusia. Keluarga adalah tempat kita mengasah kepribadian, cara pandang, cara merespon, dan masih banyak lagi.

 

Sayangnya banyak dari kita tidak melihat keluarga sebagai tempat untuk belajar. Sebaliknya kita menjadikan keluarga kita alasan untuk mengeluh, marah, kecewa dan segala perasaan negatif lainnya. Kita menjadi anggota keluarga yang senantiasa menandalkan anggota keluarga yang lain, namun tidak dapat diandalkan.

 

Ada kalanya kita ingin diperhatikan, namun tidak pernah memperhatikan, ingin ditolong namun tidak pernah menolong.  Bahkan, kita memilih untuk menjadi beban bagi anggota keluarga kita dan bukan meringankan beban mereka. Kita lupa bahwa keluarga ada bukan hanya untuk menolong kita namun juga ditolong. Mereka ada bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita namun juga merupakan alat Tuhan untuk saling belajar.

 

Bukan sebuah kebetulan kita berada dalam sebuah keluarga. Keluarga yang Tuhan karuniakan kepada kita adalah keluarga yang paling baik dalam rancangan Tuhan. Namun mengapa masih banyak pertengkaran dan ketidak akuran yang  terjadi dalam keluarga; mengapa masih banyak umat yang mengalami kesulitan untuk menerima keterbatasan, kekurangan, kesalahan anggota keluarga mereka? Mungkin, karena kita tidak menggunakan persepsi Tuhan dalam memandang setiap anggota keluarga kita.

 

Kita menggunakan persepsi kita yang terbatas untuk melihat anggota keluarga kita sebagai bagian dari rencana Tuhan yang sempurna. Hasilnya kita senantisa melihat keterbatasan anggota keluarga kita dan dibuat mengeluh karenanya. Ironisnya, kita membuka hati dan pikiran kita untuk orang lain ketimbang untuk keluarga kita. Bagaimana bisa orang asing, yang bahkan baru kita temui, lebih mampu memberikan pengaruh ketimbang anggota keluarga kita sendiri? mengapa anak-anak kita lebih mampu terbuka dengan teman ataupun kakak rohani mereka ketimbang orang tua mereka? Mengapa suami atau istri lebih suka ‘curhat’ kepada teman mereka di kantor ketimbang pasangan mereka masing-masing. Mengapa hal ini dapat terjadi? Apa yang salah dalam hubungan interelasi yang terjadi dalam keluarga?

 

Mari kita refleksikan dan evaluasi kehidupan rumah tangga dan keluarga kita. Jangan –jangan kita belum mampu menjadi anggota keluarga yang baik bagi satu dengan yang lain, hingga merekapun tidak mampu menunjukkan kebaikkan kepada kita. Jangan-jangan di tenah kehidupan keluarga kita lebih memilih untuk memikirkan diri sendiri daripada memikirkan anggota keluarga kita. Mari akui bahwa tidak ada pribadi yang sempurna, olehkarenanya kitapun belum sempurna, maka belajarlah!

 

Mari kita perhatikan hal-hal berikut ini;

  1. SUDAHKAH KITA BERTOLONG-TOLONGAN MENANGGUNG BEBAN ANGGOTA KELUARGA KITA? Adakah dari kita pernah berkata demikian kepada anggota keluarga kita:” Jangan bikin malu keluarga ya!” sepertinya itu adalah kalimat yang sangat bisa diturunkan dari generasi ke generasi. Namun pernahkan kita berpikir bahwa kalimat tersebut adalah kalimat negatif yang memberikan beban dan perasaan negatif pada anggota keluarga kita? Setiap anggota keluarga telah memiliki beban tersendiri. Jangan pernah meremehkan beban anak kita, orang tua, suami atau istri kita, dengan mengatakan ”Ah kamu mah enak! ga ada beban. Aku ni banyak bebannya! ”Mereka mungkin punya beban yang jauh lebih berat dari yang kita pikirkan, atau bahkan lebih berat dari yang kita miliki. Kita lupa bahwa tugas kita adalah menolong menanggung beban satu dengan yang lain dan bukan menambahnya, atau meremehkan beban yang dimiliki sesama anggota keluarga kita.Jangan pernah mengeluh atau bertanya, mengapa anggota keluarga kita lebih menaati, dan mendengar orang lain, bila kita tidak pernah menyediakan waktu untuk memahami dan mengerti apa yang dirasa, dipikirkan dan diharapkan mereka. Alih-alih kita meremehkan dan menggampangkan apa yang dialami oleh anggota keluarga kita. Setiap manusia butuh ditolong, karena tidak ada manusia yang sempurna. Ada yang butuh didengarkan, ada yang butuh dihargai, ada yang butuh dipuji, ada yang butuh dikasihi, ada yang butuh pelukan, ada yang butuh pengertian. Tidak ada satupun orang yang tidak membutuhkan apapun, siapapun dia. Mulailah dari hal yang sederhana, bertanya tanpa menghakimi, menolong tanpa mengharapkan balasan, mengerti tanpa mempertanyakan.
  2. SUDAHKAH KITA MENGHARGAI anggota keluarga kita? Banyak manusia merasa dirinya paling penting dari yang lain. Seorang kepala keluarga dapat merasa besar kepala, karena ialah yang bekerja dan menafkahi seluruh anggota keluarga. Seorang istri dapat merasa lebih penting dari anggota keluarga yang lain, saat ia merasa ialah yang mengatur semua isi rumah tangga. Membersihkan rumah, memasak, mendidik anak-anak dan semua pekerjaan dari pagi hingga petang. Seorang anakpun dapat berlaku bak raja, karena ia merasa ialah tumpuan pengharapan orang tuanya. Tidak seorangpun berharga! Andaipun kita berharga, itu semua karena Tuhan menjadikan kita berharga, bukan karena apa yang kita lakukan atau peroleh.  Semakin kita melihat sekeliling kita, terbuka terhadap sesama, semakin kita mampu melihat bahwa kita terbatas, dan bahwa kita membutuhkan orang lain. Kita butuh suami, istri, anak, orang tua kita. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan ada seperti sekarang ini. Kita juga butuh orang lain, sesama manusia. Olehkarenanya belajarlah untuk terbuka kepada siapapun, banyak hal yang belum kita pelajari dalam hidup, dan kita dapat belajar dari setiap orang yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.
  3. SUDAHKAH KITA MENGUJI KEHIDUPAN DAN PELAYANAN KITA? Jangan mudah berpuas diri. Belajar dan berbagi tidak pernah ada kata cukup. Jangan pernah bangga terhadap apa yang telah kita capai, bila masih banyak hal yang belum kita capai. Jangan melihat orang –orang yang belum mencapai tahap yang telah kita capai, namun pandanglah mereka yang telah mencapai pencapaian dan pelayanan yang jauh melebihi kita. Ujilah juga motivasi yang mendorong kita untuk belajar dan berbagi. Apakah untuk kepentingan diri sendiri, atau kepentingan orang lain. Untuk kepuasa diri atau kepuasan orang lain, untuk menunjukkan kasih Allah atau untuk menunjukkan kasih kita saja? Tindakan yang sama, bila dilakukan dengan motivasi yang berbeda, akan menghasilkan dampak yang berbeda pula. Maka ujilah terus, karena ada kalanya, kita lalai dan salah dalam hati dan pikiran kita.

 

 

 

arrow