INJIL DAN KISAH PARA RASUL 2 (Oleh DR Wenas Kalangit)

Pengantar

Para pakar umumnya sepakat untuk mengatakan bahwa Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul berasal dari penulis yang sama. Mengapa? Berikut ini adalah alasannya.

  1. Keduanya ditujukan kepada seseorang dengan nama ‘Teofilus’ (Luk.1:1; Kis 1:1)
  2. Dalam Kis 1:1 ada rujukan kepada ‘bukuku yang pertama’, yang isinya adalah ‘segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus’. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ‘bukuku yang pertama’ di sini tentunya adalah buku yang bercerita tentangYesus. Kisah Rasul sendiri menjadi ‘kitab kedua’ dari penulis yang sama.
  3. Dalam hal corak bahasa, kedua kitab ini memperlihatkan kesamaan dengan kualitas bahasa Yunani yang mengagumkan. Ini diakui oleh mereka yang mengetahui bahasaY unani.
  4. Selain itu, bahan narasi dan pemahaman teologis di dalam kedua kitab ini juga tidakbersebelahan. Dalam banyak hal, ada kesesuaian di antara keduanya. Ini terutama sekali terlihat jelas kalau kita mau membandingkan cerita tentang Yesus dalam Injil Lukas dan cerita tentang hari-hari pertama kekristenan dalam kitab Kisah dengan Roh Kudus sebagai tema sentralnya.

Di bawah ini adalah petikan ayat-ayat pertama dari dua kitab ini:

1
Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang

2

Teofilus yang mulia,

telah terjadi di antara kita,
dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk

4
segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

(Luk. 1:1-4)

1

membukukannya dengan teratur bagimu,

supaya engkau dapat mengetahui, bahwa

seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang

*2

dikerjakan dan diajarkan Yesus,

sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah

memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.

3

Kepada

mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak

tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-

ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

4
meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa,

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka

3

Karena itu, setelah aku menyelidiki

1

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

*5
membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.

(Kis. 1:1-5)

Siapa Teofilus

Identitas sosok yang disebut sebagai alamat/penerima kedua tulisan ini sudah menjadi bahan diskusi yang cukup ramai di kalangan para pakar. Selama ini, ada dua kelompok pendapat yang mengemuka. Ada yang berpendapat, ia adalah seorang pribadi tertentu yang merupakan pejabat pemerintahan di kekaisaran Romawi dan memperlihatkan tanda- tanda peduli atau tertarik terhadap kekristenan. Karena kedudukannya, ia menjadi figur yang cukup berpengaruh di tengah-tengah masyarakat umum.

Pendapat kedua mengartikan nama ini bukan sebagai sebutan kepada seseorang yang bernama demikian, tetapi condong memahaminya dengan makna simbolis. Secara harfiah, dalam bahasa Yunani, ‘Teofilus’ memang berarti: ‘orang yang dikasihi Tuhan’. Menurut pendapat kedua ini, penulis kedua kitab ini secara sengaja memakai nama Teofilus sebagai penerima tulisan-tulisannya ini untuk menyapa orang-orang Kristen baru atau mereka yang berpotensi menjadi Kristen. Jadi, alamatnya tidak eksklusif ke satu pribadi tertentu, tetapi terbuka/inklusif, dalam arti: siapa saja yang ‘dikasihi Tuhan’ atau ‘mengasihi Tuhan’.

Sejauh ini, kedua pandangan ini dibiarkan beredar di kalangan pembaca karena keduanya dinilai mempunyai bahan argumentasi yang cukup meyakinkan. Bagaimanapun, mengalamatkan sebuah tulisan kepada nama-nama pribadi tertentu merupakan sesuatu yang lumrah di dunia Yunani-Romawi (Hellenistik). Meskipun barangkali ada benarnya untuk mengatakan bahwa nama ini dipergunakan secara simbolik di sini, tetapi bukan tidak mungkin juga bahwa yang disapa di sini benar-benar adalah seseorang yang memang bernama Teofilus.

Siapa Penulis

Dalam surat Filemon (1:24), Paulus (penulis surat Filemon) menyebut seseorang yang bernama Lukas sebagai teman sekerjanya. Nama yang sama muncul juga dalam dua surat PB lainnya yang memakai nama Paulus sebagai penulisnya, yakni 2 Timotius (4:11) dan Kolose (4:14). Menurut tradisi, Lukas inilah yang menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Dia adalah seorang ‘tabib’ dan berasal bukan dari keturunan Yahudi (seorang kafir). Ia mengetahui perjalanan dan pelayanan Paulus karena merupakan teman sekerjanya. Tidak sedikit ahli yang setuju dengan pandangan tradisional ini.

Akan tetapi sejumlah pakar modern menyatakan keraguannya terhadap pandangan ini. Alasan terkuat mereka adalah bahwa sosok Paulus sebagaimana yang tergambar dalam surat-suratnya banyak berbeda dengan penggambaran sosok Paulus yang ada dalam Kisah para Rasul. Uraian Paulus dalam Gal. 2:1-10 mengenai sidang di Yerusalem dalam

yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku.

Sebab Yohanes

2

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

kaitan dengan isu tentang missi kepada orang kafir, misalnya, sangat tidak sesuai dengan cerita dengan tema yang sama yang ada dalam Kis. 15. Paulus sendiri memahami dirinya sebagai rasul yang diutus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang kafir sedangkan Petrus sendiri untuk orang-orang Yahudi (Gal. 1:16; 2:2, 7-8). Sementara itu, dalam kitab Kisah, tokoh Paulus justru dihadirkan sebagai rasul yang telah menghabiskan banyak waktunya untuk orang-orang Yahudi.

Karena pertimbangan ini, pakar modern cenderung menyimpulkan bahwa penulis kedua kitab ini bukanlah dari kalangan “teman” Paulus, termasuk bukan Lukas yang disebut dalam beberapa tulisannya. Kesimpulan akademis terakhir menyebutkan bahwa penulis kedua kitab ini adalah anonimus. Lagi pula, tokoh sejarah kuno seperti Papias tidak meninggalkan jejak yang menghubungkan kedua tulisan ini dengan nama Lukas, sahabat Paulus. Mempertimbangkan bahwa kedua tulisan ini berasal dari era yang jauh lebih kemudian dalam sejarah gereja mula-mula (diduga generasi kekristenan ketiga untuk Injil Lukas dan sesudahnya untuk kitab Kisah), maka Lukas sahabat Paulus mustinya tidak bisa dimasukkan sebagai kemungkinan penulisnya.

Injil Lukas

Sebagaimana dibicarakan sebelumnya, penulis kitab Injil Lukas juga memakai Injil Markus dan Quelle sebagau sumber-sumber bagi tulisannya, sama dengan Matius. Selain itu, ia juga mempunyai sumber khususnya sendiri.
Kerangka Injil Markus diikutinya dan iIni terlihat dalam pasal 3-21. Terhadap kerangka ini, penulis Injil Lukas menambahkan bagian pengantar (pasal 1-2), yang berisi: penjelasan pribadi tentang penulisannya (1:1-4), pemberitahuan kelahiran Yohanes Pembaptis (1:5-25), pemberitahuan kelahiran Yesus (126-38), kunjungan Maria kepada Elizabet (1:39-45), nyanyian pujian Maria (1:46-55), kelahiran Yohanes Pembaptis (1:57- 66), nyanyian pujian Zakharia (1:67-80), kelahiran Yesus, dan masa kanak-kanak Yesus (pasal 2). Dalam cerita tentang sengsara Tuhan Yesus (pasal 22-23), terlihat sekali bahwa Injil Lukas menunjukkan corak penulisan yang lain dibandingkan dengan sumbernya (Injil Markus), misalnya: dalam Injil Lukas, ada episode tentang Herodes. Bahkan, kalau dicermati rincian cerita sengsara, penekanan-penekanan Injil Lukas cukup mengemuka. Ia memberi penekanan tersendiri terhadap bahan-bahan yang ada. Untuk bagian akhir (pasal 24), Lukas memakai banyak bahan khususnya. Penggunaan banyak bahan sendiri ini merupakan ciri khas Lukas. Misalnya dalam 6:20-8:3 dan dalam 9:51-18:14.

Salah satu aspek khas dalam kitab injil ini yang umumnya muncul dalam bahan-bahan yang diambil dari sumber khusus Lukas, dan juga jika dibandingkan dengan ketiga kitab injil sinoptik lainnya, adalah perhatian yang diberikan oleh Yesus terhadap kaum marginal (berdosa, miskin, dan yang terbuang dalam masyarakat, termasuk kaum perempuan). Ada sejumlah cerita (termasuk perumpamaan) yang mengungkapkan kepedulian sosial. Cerita-cerita seperti: Yesus diurapi oleh seorang perempuan berdosa (7:36 dst.), dialog dengan Maria dan Marta (10:38 dst.), undangan ke pesta (14:12 dst.) adalah antara lain bahan-bahan yang hanya ada dalam Injil ini.

3

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Injil Lukas ditulis dengan memakai bahan-bahan dari sejumlah sumber. Tentu saja bahan- bahan tersebut tidak hanya sekedar ditambahkan/digabung dengan begitu saja. Sebaliknya, penulisnya telah menata kembali bahan-bahan tersebut sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang khas Lukas. Strukturnya menjadi jelas sebagai berikut:

– 1:1-4
– 1:5-2:52
– 3:1-4:13
– 4:14-9:50
– 9:51-19:28 – 19:29-23:49 – 23:50-24:53

Pengantar
Cerita pendahuluan
Persiapan Pelayanan Y esus
Pelayanan Y esus di Galilea
Perjalanan Y esus ke Y erusalem
Yesus di Yerusalem
Bagian penutup (penguburan, kebangkitan, dan kenaikan Yesus).

Kisah Para Rasul (akhir abad I M)

Rumusan nama kitab ini (Kisah Para Rasul) sebetulnya bukan berasal dari penulisnya. Meskipun begitu, dari rumusan yang ada, orang bisa menangkap pemahaman bahwa kitab ini ditulis dengan maksud untuk memberikan laporan mengenai apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh ‘para rasul’. Sebutan ‘para rasul’ di sini tentunya menunjuk kepada Petrus dan Paulus karena kisah tentang kedua tokoh itulah yang dominan dalam kitab ini. Rasul-rasul lain, seperti Yakobus dan Yohanes, hanya disebutkan secara selintas saja.

Akan tetapi, kalau mencermati kitab ini secara keseluruhan, sepertinya maksud penulis bukanlah pertama-tama memaparkan kisah atau kegiatan para rasul. Pemeran utama dalam kisah ini sesungguhnya bukan adalah sosok-sosok manusiawi (sekalipun nama- nama mereka disebut berulang kali di sana), tetapi Tuhan sendiri. DIA-lah yang ‘sekarang’ sedang bekerja di dalam Gereja melalui manusia. Tuhan yang bekerja itu menunjuk kepada ‘Roh Kudus’ (lih. mis.: 1:8; 2:33; 4:8; 6:3; 13:2). Roh Kudus ini juga disebut ‘Roh Yesus’ (16:7).

Kerangka pekerjaan Tuhan (Roh Kudus) ini dinyatakan dalam 1:8 di mana dikatakan bahwa para rasul akan menjadi saksi Yesus di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Jalan cerita ini dimulai dari Yerusalem menuju ke Roma. Di sini “Paulus memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus denganh terus terang dan tanpa rintangan apa-apa” (Kis. 28:31).

Dengan kerangkanya yang demikian, kitab ini ini dapat dibagi dua.
Bagian pertama mencakup psl 1-12. Di sini sosok yang dominan adalah Petrus.

– Pasal 1:
– Pasal 2:
– Pasal 3-5: – Pasal 6-8:3 – Pasal 8:12

Kenaikan Y esus ke surga dan penggantian Y udas
Peristiwa Pentakosta dan awal terbentuknya Gereja
Menyebarnya kehidupan Gereja di Y erusalem
Penganiayaan pertama (cerita tentang Stefanus)
Awal missi kepada bangsa kafir di Samaria dan Siria, termasuk pertobatan Paulus (pasal 9)

4

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Bagian kedua meliputi pasal 13-28. Sosok dominan adalah Paulus dengan serangakaian kegiatan missionernya.

– 13:14:28
– 15:1-35
– 15:36-18:22 – 18:23-21:14 – 21:15-23:22 – 23:23-26:32 – 27:1-28:15 – 28:16-31

Perjalanan pertama
Sidang Para Rasul di Y erusalem
Perjalanan Kedua
Perjalanan Ketiga. Ini dilanjutkan dengan cerita tentang: Pemenjaraannya (Paulus) di Yerusalem
Pemenjaraan di Kaesarea
Perjalanan ke Roma
Paulus tinggal di Roma

Lukas dan Pembagian Sejarah

Dengan menulis kitab Kisah (setelah Injil Lukas), bisa dikatakan bahwa penulisnya memaksudkan kitab Injil yang ia tulis sebagai bagian dari laporan historis. Ia senddiri menyatakan hal ini dalam bagian awal kitab Injil (lihat kutipan di atas). Tetapi, ia bukanlah seorang sejarahwan murni, sebab ketika menulis sejarah, ia melakukannya juga sebagai seorang ‘percaya’. Laporan sejarahnya ikut dipengaruhi oleh ke-‘yakin’-annya. Sejarah dibaginya ke dalam 3 masa (kairos): (1) masa Israel (Hukum Torat dan Para Nabi); (2) masa Yesus (sebagai pusat masa); (3) masa Gereja.

Masa pertama berlangsung sampai ke Yohanes Pembaptis. Ini secara eksplisit dinyatakan dalam Luk. 16:16.
Masa kedua, yakni masa Yesus (pusat) dimulai pada 4:14. Cirinya masa itu adalah masa ‘bebas dari Iblis’. Setelah mencoba Yesus, Iblis meninggalkan Yesus (Luk 4:13), dan sejak itu, tidak ada lagi pencobaan. Masa (kairos) Iblis kembali lagi dalam 22:3, yaitu ketika Iblis masuk ke Yudas. Masa Yesus berakhir di sini (catatan: peristiwa Salib tidak termasuk dalam masa ini).

Masa ketiga, yakni masa Gereja dimulai pada peristiwa Pentakosta (Kis. 2:1 dst.’ band Luk 24:49), dan karena itu tidak secara langsung menyusul masa kedua. Ada interval di sini, yakni cerita seputar Paska.

Cara Lukas menyajikan pemahamannya tentang waktu ini merupakan sesuatu yang khas, terutama jika dibandingkan dengan penulis-penulis lainnya. Menurut Injil Markus, peristiwa Yesus (yang terjadi pada masa lampau itu) punya makna langsung bagi kehidupan masa kini. Matius, dengan mengutip ayat-ayat PL untuk menyatakan bahwa peristiwa-periustiwa Yesus adalah penggenapan nubuat, menyatakan bahwa masa Yesus itu relevan bagi masa kini. Tetapi bagi Lukas, masa Yesus itu benar-benar dilihat sebagai masa lalu dan dibedakan dengan masa Gereja.

Dalam Lukas, Iblis ditampilkan aktif kembali di dalam masa Gereja, tetapi diharapkan bahwa pada “Hari-hari Terakhir”, Iblis pada akhirnya akan dihancurkan.

5

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Penutup

Pemahaman menyeluruh tentang kedua kitab ini (Injil dan Kisah) akan sangat dibutuhkan kalau kita mau membicarakan pokok demi pokok yang ada dalam kedua kitab ini. Sebetulnya bukan hanya untuk kedua kitab ini diperlukan pendekatan yang demikian, tetapi untuk semua tulisan (kitab) atau kelompok tulisan. Para penulis Alkitab (termasuk kitab-kitab Perjanjian Baru) tidak menulis pasal dan atau ayat, tetapi menulis sebuah kitab secara lengkap. Kalau sampai kitab-kitab itu kemudian muncul dalam pembagian menurut pasal dan ayat, maka hal itu adalah urusan di kemudian hari atas pertimbangan pemakaian praktis oleh umat. Karena itu, untuk bisa memahami kitab sebagai sebuah kitab, kita perlu membaca kitab itu sebagai satu kesatuan.

Lukas-Kisah memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi kehidupan dan pemahaman Gereja. Salah satunya adalah konsep tentang masa sekarang sebagai kesempatan bagi Gereja untuk mengambil bagian dalam kelanjutan pelayanan dan kepedulian Yesus terhadap dunia ini.

6

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Nama: Wenas Kalangit

Pendidikan:

BIODATA SINGKAT

– SarjanaTeologidiUKIT(Tomohon),1978
– MasterTeologidiSEAGST(STTJakarta),1988
– DoktorTeologidiSEAGST(STTJakarta),1995,bidangstudiPB
– Post-GraduateStudiesbidangLinguistics,ANU,Canberra,2002-2003.

Pekerjaan:

– PendetaGerejaMasehiInjiliSangiheTalaud(GMIST),diteguhkanpadaApril 1980.

– DosentetapdiUKIT,1982-1998.
– PembantuDekanIFakultasTeologiUKIT,1996-1998.
– PembinaPenerjemahandiLembagaAlkitabIndonesia,1998–sekarang. – Kepala Pusat Pengkajian Alkitab LAI, 2003-2005
– PemimpinRedaksiJurnalForumBiblika(2003-2005).
– KepalaDept.PenerjemahanLAI,2005–sekarang.

Bogor, 1 November 2007

7

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

arrow