BIDANG PERSEKUTUAN

  1. PERSEKUTUAN

LATAR BELAKANG:

Bahwa gereja dipanggil untuk bersekutu, adalah sebuah kenyataan yang tak terelakan. Persekutuan bukan semata-mata ibadah formal. Persekutuan itu sendiri berasal dari kata Koinonia dalam bahasa Yunani, yang artinya lebih dari sekedar ibadah minggu. Koinonia mengandung banyak sekali arti yaitu mengambil bagian, membagikan, bersatu, intimasi dan bertukar.

Dalam kehidupan berjemaat persekutuan lebih nyata dalam kehidupan sehari hari, lebih dari ibadah formal, yaitu bagiamana jemaat diajak, didorong untuk dapat saling berbagi hidup, kesaksian, nasihat dan kebenaran Firman Tuhan.

Sehingga bidang persekutuan tidak hanya merancangkan dan mengurus program ibadah minggu, namun memiliki lingkup tugas yang jauh dari pada itu. Bidang persekutuan harus menjadi motor dari berbagai macam interaksi jemaat dalam berbagai wadah pertemuan.

Persekutuan umat dengan umat yang lain seharusnya menjadi wujudnyata dari persekutuan manusia dengan Allah. Persekutuan dengan Allah tidaklah lengkap bahkan tidak ada artinya tanpa persekutuan yang baik dengan sesama, karena persekutuan dalam Kekristenan adalah persekutuan yang holistik.

Seorang Manusia tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan manusia lain dan hanya membutuhkan Tuhan. Bukan berarti manusia tidak membutuhkan Tuhan, namun sesama manusia adalah cara Tuhan yang agung dalam memproses manusia lain. Dalam ketidaksempurnaan dan kelemahan, manusia saling menggesek, mengasah, mempertajam, menguji baik itu KASIH, KESETIAN, KESABARAN, KELEMAHLEMBUTAN, KEPEKAAN, PENGERTIAN, sehingga lahirlah manusia yang selalu diperbaharui SETIAP HARI melalui PROSES TERSEBUT.

 

SASARAN TUJUAN:

  • Memperjumpakan umat dengan Allah melalui pemenuhan standar hidup sebagai anak-anak Allah
  • Mengasah sekaligus mempersatukan TUBUH KRISTUS dalam keragaman kelebihan dan kekurangan, agar terus menjalankan fungsinya sebagai garam dan terang.
  • Sebagai wajah nyata dari kehadiran Kristus di tengah dunia yang melayani, bersatu, saling terikat, terus berakar, bertumbuh dan berbuah dalam KESEMPURNAAN KASIH KRISTUS sebagai KEPALA GEREJA
  • Menjadi pengingat karya Kristus di dunia, dan sebagai motor untuk terus melanjutkan karya Kristus di tengah kehidupan pribadi, keluarga, jemaat dan masyarakat
  • Membukakan wajah yang jujur dari persekutuan yang sedang terjalin, menganalisa, mengevaluasi, dan memperbaiki dan mencari serta menemukan cara kerja, cara pikir yang kontekstual untuk menciptakan kehidupan persekutuan yang lebih DEWASA, MANDIRI, dan SEMPURNA
  • Menjadi ujung tombak pelayanan gereja modern, dimana dalam persekutuan, jemaat saling mencari, menggali, memenuhi kebutuhan (bukan keinginan) satu dengan yang lain.

 

 

arrow