BERKENALAN DENGAN PB (Oleh DR Wenas Kalangit)

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri 23 Oktober 2007

Jakarta

Pengantar

Berkenalan dengan PB

Secara tradisional, studi biblika (Perjanjian Lama [PL] dan Perjanjian Baru [PB]) – di sekolah-sekolah tinggi teologi — dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut:

1. Pembimbing
Biasanya dibagi lagi menjadi Pembimbing Umum (untuk seluruh kitab, PB misalnya, secara sekaligus) dan Pembimbing Khusus (masing-masing kitab). Biasanya yang dibahas di sini adalah siapa penulis, kapan ditulis, di mana ditulis, mengapa ditulis, untuk siapa ditulis, apa yang khas di dalamnya, dan lainnya.

2. Tafsir(atauhermeneutic)
Ini adalah analisis terhadap teks (sastra, sintaktik, semantic, ) untuk menemukan makna teks dalam konteksnya. Umumnya, pengenalan terhadap bahasa-bahasa Alkitab (Ibrani dan Yunani) disyaratkan
untuk tahapan ini. Mengapa? Karena aslinya, Alkitab kita tertulis dalam bahasa-bahasa tersebut. Artinya, para penulis Alkitab mengkomunikasikan berita dengan memakai bahasa-bahasa tersebut. Jadi, untuk memahami apa yang mereka komunikasikan, pengenalan tentang bahasa yang mereka pergunakan memang diperlukan.

3. Teologi
Ini adalah upaya menemukan garis pemikiran tentang pokok-pokok tertentu, baik penulis kitab (atau kelompok kitab), maupun keseluruhan kitab. Demikian, kita mendengar orang bicara tentang: teologi Matius, teologi Paulus, teologi PB, bahkan teologi Alkitab (PL & PB).

Tahapan ini dialokasikan waktunya di dalam semester-semester mulai dari awal. Dengan begitu, mata kuliah tafsir dan teologi baru bisa diambil pada semester-

1

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

semester atas. Dalam banyak hal, pentahapan seperti itu tidak pas dengan kebutuhan kurikulum secara keseluruhan yang menugaskan mahasiswa sejak dini berinteraksi dengan jemaat sebagai bagian dari upaya pembekalan terhadapnya. Dalam rangka interaksi tersebut, banyak kali jemaat meminta mahasiswa untuk berperan lebih, layaknya seorang ‘pelayan’ dengan latar belakang pendidikan teologi. Karena kebutuhan di lapangan yang demikian, maka dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan mulai digeser. Banyak sekolah teologi tidak lagi memilah-milah studi Alkitab ke dalam tahapan-tahapan seperti di atas. Yang dilakukan adalah memberikannya secara sekaligus untuk satu kitab atau kelompok kitab: Studi Injil Matius, studi surat-surat Paulus, studi sastra Yohanes, dan seterusnya. Dalam setiap studi sudah termasuk aspek: pembimbing, tafsir, dan teologi, serta studi tentang implikasi teologi dari bahan untuk kehidupan/pelayanan gerejawi sekarang ini.

Tentu saja, untuk kepentingan belajar selama 4 kali tatap muka, tidak semua rimba studi ini dapat diselusuri mengingat waktu untuk kegiatan ini yang begini terbatas. Yang bisa kita lakukan adalah berkenalan dengannya secara umum dan menyeluruh.

Apakah Perjanjian Baru?

Terhadap pertanyaan ini, ada bermacam-macam jawaban yang bisa diberikan. Misalnya orang akan menjawab demikian:

  • –  Perjanjian Baru (selanjutnya disingkat: PB) adalah salah satu bagian dari Alkitab (kitab suci orang Kristen) selain Perjanjian Lama.
  • –  PB adalah kumpulan cerita atau kesaksian mengenai Tuhan Yesus.
  • –  PB adalah kumpulan tulisan yang terdiri atas sejumlah (27) kitab.
    Daftar jawaban ini masih bisa diperpanjang lagi. Masing-masing jawaban tentu saja mengandung kebenaran. Artinya, tak seorang pun yang bisa menyalahkan salah satu dari jawaban di atas. Untuk kepentingan belajar ini, ketiga rumusan di atas kita pegang.

2

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Kata ‘perjanjian’ diambil dari dunia PL, misalnya dalam Yeremia (pasal 11) dan Yosua (pasal 24). Kata ini memang merupakan istilah dengan kandungan makna teologis yang fundamental dalam konteks kehidupan umat Israel. Allah mengikat ‘perjanjian’ dengan Yakub, Abraham, dan sebagainya. Hubungan Allah – Israel adalah hubungan dalam ikatan perjanjian. Isi perjanjian itu antara lain: Allah akan menjadi Tuhan bagi Israel, dan Israel akan menjadi umat Tuhan.

Akhir-akhir ini ada semacam ‘himbauan’ untuk tidak memakai kata sifat ‘lama’ dan ‘baru’ kepada kata ‘perjanjian’ untuk kitab suci ini. Gantinya adalah kata ‘pertama’ dan ‘kedua’, sehingga lengkapnya menjadi ‘Perjanjian Pertama’ dan “Perjanjian Kedua’. Alasan himbauan ini sebetulnya lebih kepada pertimbangan ‘tenggang rasa’ dengan komunitas Yahudi. Hanya karena relevansinya dengan situasi Indonesia kurang begitu terasa, maka gaung himbauan ini belum begitu nyaring di sini.

PB terdiri atas 27 kitab. Tulisan-tulisan tersebut berasal dari penulis yang tidak sama dan ditujukan kepada alamat yang tidak sama pula. Penulis keempat kitab injil jelas tidak sama. Begitu juga halnya dengan kelompok kitab yang dikenal dengan nama ‘Surat Kiriman’ (Epistle). Kitab-kitab ini berasal dari orang yang tidak sama. Penulis surat Roma lain dengan penulis surat Yudas, misalnya. Alamat tulisan pun bervariasi. Surat Roma jelas tidak sama dengan alamat surat I dan II Korintus misalnya. Begitu juga, alamat injil Matius lain dari alamat injil Lukas.

Karena itu, menarik untuk ditanyakan: Apa sebetulnya yang membuat tulisan- tulisan — yang berbeda penulis dan alamat ini — menjadi satu?

Jawabnya adalah karena para penulisnya, sekalipun berbeda, mempunyai pemahaman dasar yang sama, yakni bahwa Yesus dari Nazaret yang disaksikan dan direfleksikan di dalam tulisan-tulisan ini, menentukan arah baru dalam kerangka hubungan Allah dengan manusia. Atau, seperti ditulis dalam Kisah

3

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

4:12, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Pemahaman dan keyakinan yang sama akan Tuhan Yesus Kristus ini diungkapkan dengan bermacam-macam cara dalam PB.

Kebutuhan dan situasi aktual penulis dalam hubungan dengan alamat tulisannya ikut menentukan caranya mengungkapkan inti berita tadi. Ada yang menyampaikannya dengan memaparkan ulang cerita tentang ‘peristiwa Yesus’ (kehidupan dan pelayanan-Nya). Cara pemaparan yang ini dikenal umum dengan sebutan: “Kitab-kitab Injil”. Ada juga yang bercerita tentang bagaimana komunitas orang-orang yang menaruh percaya kepada Tokoh Yesus bertumbuh, berkembang, dan menyebar ke mana-mana dalam wilayah kekaisaran Roma. Yang ini dikenal dengan nama: “Kisah Para Rasul”. Yang lainnya menghasilkan produk yang dikenal umum dengan nama ‘surat’, yakni tulisan yang lahir dari kepedulian dan keprihatinan penulis terhadap situasi kehidupan beriman komunitas kristiani. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa dengan membaca PB, seseorang tidak hanya memperoleh informasi tentang bagaimana sosok Yesus itu diceritakan, tetapi juga menemukan pintu masuk untuk bisa melihat keberadaan dan perkembangan gereja atau kekristenan mula-mula.

Pengelompokan Tulisan-tulisan PB

Tulisan-tulisan PB biasanya dibagi ke dalam empat kelompok besar. Pembagian ini dilakukan berdasarkan pertimbangan corak sastra tulisan-tulisannya. Keempat kelompok tersebut adalah:

1. Empatkitabpertama(Matius-Yohanes),yangdikenaldengannama: “Kitab-kitab Injil”. Kata “Injil” yang sebetulnya bermakna: Kabar Baik ( υ + γγελιον), kemudian dipergunakan juga untuk menunjuk pada tulisan sejenis, yakni: cerita tentang kehidupan (perkataan dan pelayanan Tuhan Yesus). Ini diambil dari dalam bagian pendahuluan kitab injil Markus, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (1:1). Dalam

4

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

perkembangannya, kata ini dipakai untuk menunjuk kepada jenis tulisan dengan isi serupa. Dengan begitu, ‘Injil’, selain sebagai satu istilah dengan makna khusus ‘Kabar Baik’, juga dipakai untuk satu corak sastra dan ini menunjuk hanya kepada ke-4 kitab pertama dalam PB. Tulisan- tulisan serupa yang juga muncul dan berasal dari masa yang sama juga dikenal dengan nama yang sama. Demikianlah, selain keempat kitab pertama dalam PB (kitab-kitab injil kanonik), dikenal juga kitab-kitab injil yang lain: Injil Barnabas, Injil Thomas, dan lain-lain (tetapi tidak diakui sebagai kitab suci). ‘Injil’ menjadi sebutan untuk tulisan dengan cirri khas: cerita tentang kehidupan (perkataan dan perbuatan Yesus). Surat Roma, misalnya, tidak disebut sebagai: kitab injil.

2. Kitabkelima,‘KisahParaRasul’.Namayangdiberikanuntukkitabini kadangkala tidak luput juga dari pembahasan. Data memang menunjukkan bahwa tidak semua rasul (terutama mantan 12 murid Tuhan Yesus) yang dibicarakan atau diceritakan di dalamnya. Yang mengemuka justru hanyalah dua nama, Petrus dan Paulus. Orang tertarik untuk bertanya: “Apakah memang kisah tentang para rasul yang mau dikedepankan dalam kitab ini?” Membaca kitab ini secara keseluruhan, tidak sedikit orang yang kemudian datang kepada kesimpulan bahwa yang dipaparkan di sana terutama sekali bukan cerita tentang pekerjaan para rasul, melainkan mengenai bagaimana oleh kekuatan dan kekuasaan Roh Kudus, gereja bertumbuh dan berkembang dengan pesatnya sampai ke ujung dunia, yakni Roma (menurut konsep kosmologis masyarakat pada waktu itu). Bagaimanapun, nama ‘Kisah Para Rasul” (The Acts of the Apostles) sudah terlanjur memasyarakat dan inilah yang dipakai selama ini. Satu catatan penting lainnya tentang kitab ini adalah bahwa kesimpulan umum bahwa pengarangnya adalah orang yang sama dengan penulis kitab Injil Lukas (band. Kis. 1:1 – Luk. 1:1). Bukan hanya karena data dalam bagian awal dari kedua kitab, tetapi juga soal bahasa dan gagasan-gagasan teologis di dalam keduanya menjadi

5

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

pertimbangan yang kuat bahwa kedua kitab ini berasal dari orang yang sama. Dengan kata lain, kitab Kisah Para Rasul adalah jilid kedua dari satu rangkaian tulisan. Banyak studi tentang kitab ini dilakukan dengan membandingkan dan mengacu ke Injil Lukas.

3. Surat-suratyangseluruhnyaberjumlah21pucuk(Romas/dYudas). Berdasarkan penulisnya, kelompok ini dibagi lagi ke dalam:

  1. (a)  ‘Surat-surat Paulus’ (berjumlah 13 pucuk). Ke-13 surat ini menyebut nama ‘Paulus’ sebagai penulisnya. Penelitian menunjukkan bahwa pemakaian nama Paulus di sini tidak harus diartikan bahwa surat-surat tersebut memang berasal langsung dari orang yang sama. Sesuai dengan kebiasaan pada masa itu, bukan mustahil bahwa ada sejumlah surat yang tidak berasal langsung dari tangan Paulus melainkan oleh orang lain yang menempatkan dirinya sebagai anggota kelompok Paulus (Pauline School), orang yang berada dalam alur pemikiran Paulus. Memakai nama orang lain pada waktu itu dianggap sebagai praktek yang sah saja. Surat-surat yang diduga berasal dari ‘murid Paulus’ seperti itu dikenal dengan nama: Deutero-Paulus (= surat-surat Paulus Kedua), antara lain: surat –surat 1-2 Timotius dan Titus. Ketiga surat ini juga dikenal dengan nama “surat-surat pastoral” (pastoral ( pastor = berkaitan dengan maksud penggembalaan).
  2. (b)  Surat-surat yang bukan berasal dari Paulus. Jumlahnya ada 7 pucuk (Yakobus s/d Yudas). Kalau diperhatikan, alamatnya juga sangat umum (berbeda dengan surat-surat Paulus yang mencantumkan alamat-alamat khusus seperti: Roma, Korintus, Filemon, Titus, dstnya). Karena itu, ke-7 pucuk surat ini dikenal juga dengan nama: ‘Surat-surat Am’

6

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

atau ‘Surat-surat Katholik’, sebutan lain untuk ‘surat-surat

umum’.
(c) Surat ke-14, yakni: Surat Ibrani, agak sulit dikelom-pokkan.

Dulu pernah dianggap sebagai salah satu dari surat Paulus, namun akhir-akhir ini pandangan ini tidak lagi didukung karena memang isinya tidak mencerminkan tradisi Paulus. Sampai sekarang, penulisnya pun tidak diidentifikasi. Salah seorang Bapa Gereja mengatakan, untuk diskusi tentang penulis surat Ibrani ini, hanya Tuhan sendiri yang tahu.

4. Kitab terakhir (kitab ke-27), Wahyu. Kitab ini bercorak lain dibandingkan dengan kitab-kitab sebelumnya. Dari corak dan gayanya, orang condong menghubungkannya dengan salah satu kelompok kitab dalam PL, yakni: kitab nabi-nabi (Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dll.). Dalam banyak hal, isi kitab ini memang lebih menunjuk kepada penglihatan mengenai apa yang akan terjadi pada zaman akhir, salah satu aspek yang menjadi ciri kitab nabi-nabi. Di sana dinyatakan bahwa Yesus dan umat kudus-Nya akan tampil sebagai pemenang dalam perjuangan melawan dunia yang jahat ini. Rekaman penglihatan ini dialamatkan kepada 7 jemaat Kristen di Asia Kecil dan disampaikan dengan memakai bingkai ‘surat’.

Menetapkan Waktu Penulisan Kitab-kitab PB

Berbeda dengan buku-buku yang terbit pada zaman modern, tulisan-tulisan kuno tidak mencantumkan waktu atau tahun penulisannya. Kitab-kitab dalam PB juga demikian, apalagi kalau diingat bahwa ketika menulis, penulisnya belum tentu membayangkan bahwa tulisannnya akan terbit sebagai bagian dari sebuah buku dan akan dibaca oleh banyak orang pada sepanjang sejarah di berbagai tempat. Yang mereka lakukan hanyalah dalam rangka menjawab atau mengisi kebutuhan kelompok komunitas umat percaya di tempat dan waktu tertentu.

7

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Buku apa pun yang di dalamnya mempunyai kandungan sejarah, pastilah nanti ditulis setelah peristiwa yang disinggung di dalamnya terjadi, atau sebelum buku tersebut dipergunakan oleh penulis lain.
Untuk tulisan-tulisan PB, penetapan waktu penulisannya bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk menerka sekalipun, kita haruslah menjawab sejumlah pertanyaan. Satu hal yang jelas adalah bahwa urutan kitab dalam PB tidak menandakan urutan waktu penulisan kitab-kitab tersebut. Dengan kata lain, sekalipun Injil Matius merupakan kitab pertama dalam PB, namun tidaklah berarti ia adalah kita tertua (di antara kitab-kitab Injil ataupun di antara seluruh kitab PB). Begitu juga halnya dengan surat Roma. Sekalipun ia ditempatkan sebagai surat pertama, tidaklah berarti bahwa ia adalah surat tertua yang pernah ditulis oleh Paulus. Penempatan kitab-kitab PB dalam urutannya saperti yang ada sekarang mempunyai pertimbangan lain di luar urutan waktu penulisan. Untuk membicarakan hal ini, kita masuk dalam apa yang disebut: studi kanon PB, studi tentang:

  • –  bagaimana sampai ke-27 kitab tersebut ditetapkan sebagai “Kitab Suci’ (memperoleh status setara dengan apa yang kini disebut sebagai Perjanjian Lama yang memang pada masa hidup Tuhan Yesus dan masa awal kehidupan gerejawi sudah bertatus ‘kitab suci’.
  • –  bagaimana penempatan ke-27 kitab tersebut ke dalam urutan yang kita kenal sekarang ini, yakni: Matius, Markus …. sampai dengan Wahyu.Batas ke belakang adalah ‘akhir’ hidup Tuhan Yesus (35M). Tidak mungkin sebelum itu. Batas ke depan? Biasanya waktu yang ditunjuk adalah sesudah tahun 70M (ketika kota Yerusalem dan Bait Allah di sana dihancurkan oleh kaisar Roma. Peristiwa ini diindikasikan dalam kitab-kitab Injil (Mrk. 13, dan ayat-ayat paralelnya). Sejumlah tulisan malah diasumsikan berasal sesudah tahun tersebut, terutama kelompok tulisan yang disebut ‘Surat-surat Am’ karena isinya mengindikasikan keadaan jemaat-jemaat Kristen yang sudah mulai mapan

8

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

terutama dalam organisasi kegerejaannya (sebutan tentang penatua, diaken dan syarat-syarat untuk mereka yang menduduki kursi pelayanan muncul dalam surat-surat am ini).

Para ahli PB sepakat untuk menempatkan surat-surat Paulus sebagai tulisan tertua dari semua tulisan dalam PB, termasuk kitab-kitab injil. Paulus menulis semasa hidupnya, sedangkan Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan catatan tertulis. Cerita tentang-Nya ditulis oleh orang (orang-orang) lain jauh sesudah akhir hidup Tuhan Yesus sendiri. Artinya, tulisan tentang-Nya tidak ditulis segera setelah Ia naik ke sorga. Mengapa? Ada beberapa faktor yang diduga menjadi alasannya.

  • (  belum merupakan kebutuhan jemaat karena banyak saksi mata masih hidup
  • (  jemaat lebih membutuhkan bahan-bahan praktis tentang bagaimana kehidupan beriman setiap hari dapat dijalani
  • (  pemahaman teologis tentang parousia (= kedatangan kembali Tuhan Yesus) yang akan segera datang.Waktu terus berjalan dan ‘parousia’ belum juga datang. Kehidupan normal dan rutin tetap saja berlangsung. Lakon hidup tetap saja diperankan. Untuk menjalani kehidupan (beriman) ini setiap hari, komunitas atau pribadi Kristen memerlukan tuntunan khusus. Pada tahap-tahap awal, tuntunan yang dibutuhkan ini bias diterima melalui sosok-sosok yang dulunya barangkali sempat menjadi saksi mata atau saksi telinga tentang ‘peristiwa’ Yesus. Tetapi, lama kelamaan, para saksi ini satu persatu mulai menghilang karena dimakan usia. Maka, cerita ulang tentang kehidupan Tuhan Yesus merupakan kebutuhan. Pada waktu itu, barulah tulisan tentangnya (kitab-kitab Injil) mulai lahir.

9

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

Nama: Wenas Kalangit

Pendidikan:

BIODATA SINGKAT

  • –  Sarjana Teologi di UKIT (Tomohon), 1978
  • –  Master Teologi di SEAGST (STT Jakarta), 1988
  • –  Doktor Teologi di SEAGST (STT Jakarta), 1995, bidang studi PB
  • –  Post-Graduate Studies bidang Linguistics, ANU, Canberra, 2002-2003.Pekerjaan:
  • –  Pendeta Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST), diteguhkan pada April 1980.
  • –  Dosen tetap di UKIT, 1982-1998.
  • –  Pembantu Dekan I Fakultas Teologi UKIT, 1996-1998.
  • –  Pembina Penerjemahan di Lembaga Alkitab Indonesia, 1998 – sekarang.
  • –  Kepala Pusat Pengkajian Alkitab LAI, 2003-2005
  • –  Pemimpin Redaksi Jurnal Forum Biblika (2003-2005).
  • –  Kepala Dept. Penerjemahan LAI, 2005 – sekarang.

Bogor, 22 Oktober 2007

10

Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri

arrow