DI ANTARA DUA PILIHAN: ALLAH ATAU DUNIA

DI ANTARA DUA PILIHAN: ALLAH ATAU DUNIA

Apa penyebab dunia ini rusak?

Karena banyak di antara kita yang:
1. Menganggap bahwa mencintai Tuhan tidak harus mencintai dunia.
2. Merasa dunia bukanlah kampung halaman kita sehingga tidak perlu dijaga, hancur yah biarkan saja.
3. Menganggap dunia ini jahat dan perlu dihancurkan.
4. Menganggap dunia ini penuh dosa dan tidak layak ditinggali

MENGENDALIKAN LIDAH MEMBANGUN KEHIDUPAN

MENGENDALIKAN LIDAH MEMBANGUN KEHIDUPAN

Dunia hancur bukan karena nuklir tapi karena provokasi negatif yang dilakukan oleh lidah. Dunia tidak nyaman untuk ditinggali bukan karena pemanasan global tapi karena lidah suka memanas-manasi orang lain melalui perkataan. Dunia tidak bisa berkembang maju bukan karena sedikitnya orang pintar tetapi karena banyaknya orang yang suka membodoh-bodohi orang lain dengan lidahnya.

TIDAK DISKRIMINATIF, NAMUN BERBELA RASA

TIDAK DISKRIMINATIF, NAMUN BERBELA RASA
AMSAL 22: 1-9, 22-23; Mazmur 125; YAKOBUS 2:1-17; MARKUS 7:24-37

Seorang anak berumur 6 tahun tertinggal oleh ibunya di negara lain. Sang anak terlunta-lunta hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pria yang baik. Memberinya makan dan minum. Melihat kebaikan tersebut, si anak mengikuti pria itu. Awalnya sang pria ingin meninggalkan anak itu. Tetapi karena rasa bela rasa yang dimiliki, dia membawa anak itu ke tempat tinggalnya.

HIDUP BERGAIRAH DALAM SUKACITA DAN KEGEMBIRAAN TUHAN

HIDUP BERGAIRAH DALAM SUKACITA DAN KEGEMBIRAAN TUHAN
KIDUNG AGUNG 2:8-13; MAZMUR 45:2-10; YAKOBUS 1:17-27; MARKUS 7:1-23

Percakapan 1
“Saya sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kuliah di sini.”
“Sayang banget, padahal satu tahun lagi kamu lulus. Bertahanlah!”
“Passion ku bukan di sini.”

Percakapan 2
“Kamu kok masih kuat sih kerja di sini? Gajinya kan kecil, padahal tuntutannya besar.”
“Tidak apa, saya senang bekerja di sini, sesuai dengan passion saya.”

MERAYAKAN RUMAH ALLAH, MERAYAKAN KEHIDUPAN BERSAMA

MERAYAKAN RUMAH ALLAH, MERAYAKAN KEHIDUPAN BERSAMA
1 RAJA-RAJA 8:22-30, 41-43; MAZMUR 84; EFESUS 6:10-20; YOHANES 6:56-69

4 peralihan pemikiran dalam memaknai keberadaan Allah:
1. Allah (hanya) berada di tempat-tempat yang tinggi, misalkan saja gunung. Sehingga dalam Perjanjian Lama kita menemui frasa Gunung Allah. Musa bertemu Allah di gunung. Karena konteks saat itu, gunung adalah tempat sakral dan tempat dewa-dewi tinggal.