TEMPAYAN KOSONG MENJADI PENUH

TEMPAYAN KOSONG MENJADI PENUH

"Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."
Kalimat tersebut terlontar dari mulut Yesus saat Maria memberitahukan kepada-Nya bahwa pengantin kehabisan anggur. Kalimat ini sungguh menarik, kenapa? Mari kita membahasnya.
Saat khotbah dari Yohanes 2:1-11, jarang pengkhotbah yang membahas tentang percakapan Yesus dengan ibu-Nya tersebut. Kebanyakan pengkhotbah fokus kepada air menjadi anggur. Padahal percakapan Yesus dengan ibu-Nya menunjukkan kepada kita betapa dekat dan saling pedulinya mereka satu dengan yang lain.
Perhatikan Yohanes 2:3, Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Ibu Yesus tidak meminta atau memerintah, dia hanya memberi tahu Yesus bahwa mereka kehabisan anggur. Tapi dengan sigap Yesus langsung tahu bahwa kalimat ibunya tersebut bukan sekadar informasi tetapi juga permintaan, oleh karena itu di ayat 24 Yesus berkata, "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."
Lalu apa yang dilakukan oleh Maria saat mendengar jawaban Yesus seperti itu, marah kah? Tidak. Ngotot minta Yesus melakukan sesuatu kah? Tidak. Mari kita lihat ayat ke-5, Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"
Maria tidak marah kepada Yesus, justru dia berkata kepada para pelayan untuk mengikuti apa saja yang dikatakan Yesus. Padahal Yesus mengakatakan bahwa saat-Nya belum tiba, tetapi Maria seperti tahu bahwa Yesus pasti akan melakukan sesuatu. Maria begitu mengerti seperti apa anaknya. Dia tidak berdebat apapun dengan jawaban Yesus tetapi dia menyiapkan segala sesuatunya untuk Yesus berkarya. Dia yakin Yesus pasti melakukan sesuatu.
Dan benar seperti apa yang Maria duga, Yesus melakukan sesuatu. Perhatikan ayat 6 dan 7. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu merekapun membawanya.
Percakapan Maria dan Yesus menggambarkan tentang kedekatan dan kepercayaan. Kedekatan dan kepercayaan membuat Maria mengerti dan yakin bahwa Yesus tidak akan berdiam diri. Begitu juga seharusnya dengan kita sebagai pengikut Kristus. Kedekatan dan kepercayaan kita kepada-Nya seharusnya membuat kita mengerti dan yakin bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita. Dia pasti akan melakukan sesuatu di dalam hidup kita.
Eit, tapi tunggu dulu jangan langsung berkesimpulan bahwa jika minta apapun kepada Tuhan, Dia pasti akan melakukan apa yang kita minta. Konteks perikop Yohanes 2 ini kisah tentang pernikahan orang lain. Di sini ibu Yesus peduli tentang kehidupan orang lain. Maria tidak sedang memikirkan dirinya sendiri, tetapi orang lain. Jadi kisah ini berbicara tentang kepedulian terhadap orang lain.
Entah kenapa, jika isi khotbah tentang kepastian bahwa Tuhan pasti akan memperhatikan kita, maka kita pasti akan langsung dengan tergesa-gesa meminta sesuatu kepada Tuhan. Padahal kekristenan tidak dimulai dengan keegoisan tetapi kepedulian. Oleh karena itu, bacaan hari ini ingin menekankan bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam, saat kita peduli dengan kepentingan orang lain. Tempayan yang kosong pun akan dibuatnya penuh.

Nuryanto Gracia