Keluarga Kristen di Tengah Perjuangan

Keluarga Kristen di Tengah Perjuangan

Anak berjuang untuk sekolah dan kuliah, orangtua berjuang untuk membuat anak tetap dapat sekolah dan kuliah dengan layak. Anak berjuang agar dapat diterima teman-temannya, orangtua berjuang agar dapat tetap diterima oleh anaknya setelah sibuk mempersiapkan masa depan untuk anaknya. Anak berjuang untuk bisa eksis di sosial media, orangtua masih tetap berjuang untuk diakui keberadaannya di dalam keluarga.

Keluarga, tidak pernah terlepas dari yang namanya perjuangan. Perjuangan yang terjadi tidak hanya soal hal-hal di atas, tetapi yang lebih pelik lagi soal relativitas nilai-nilai pegangan hidup. Apa yang dianggap baik oleh anak, belum tentu baik menurut orangtua. Saat anak tidak setuju dengan nilai kebaikan yang ditawarkan oleh orangtua, anak langsung dikira kurang ajar oleh orangtua. Saat orangtua tidak setuju dengan nilai kebaikan yang dipegang anaknya, orangtua langsung dianggap kolot oleh sang anak. Hal inilah yang seringkali menjadi pertengkaran tidak kunjung berujung, di dalam keluarga.

Lalu bagaimana caranya agar orangtua dan anak memiliki nilai-nilai yang sama? Banyak yang mengatakan dengan merujuk kepada firman Tuhan. Namun sayangnya, banyak remaja yang sudah tidak lagi peduli dengan firman Tuhan. Baginya, yang penting hidup ini dijalani dengan happy. Mengapa banyak remaja yang seperti itu? Karena banyak orangtua yang tidak menyadarkan anaknya dari kecil bahwa firman Tuhan itu penting. Banyak orangtua yang lebih menunjukkan kepada anak bahwa uang itu penting.

Bahkan yang lebih sayang lagi adalah, banyak orangtua yang saat merujuk kepada firman Tuhan, lebih merujuk kepada ayat-ayat yang mendukung pendapatnya atau untuk menekan anak. Firman Tuhan dijadikan alat untuk mengendalikan anak bertindak sesuai dengan keinginannya, dan bukan keinginan-Nya (Tuhan). Jangan dikira bahwa anak tidak bsia melihat hal tersebut. Mereka tahu jika orangtua ingin mengendalikan mereka dengan ayat-ayat firman Tuhan. Jika sudah begini, firman Tuhan tidak lagi menjadi firman yang mampu menguatkan keluarga di tengah perjuangan yang berat ini.

Mari, walaupun mungkin agak terlambat, mulai membiasakan diri menjadikan firman Tuhan sebagai pegangan hidup yang mengkritik jika memang cara hidup dan pandangan kita tidak baik. Orangtua harus siap jika cara pandangnya tidak sesuai dengan firman Tuhan dan bersedia mengubahnya. Anak juga harus bersedia mengubah gaya hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Jika hal itu dilakukan, maka keluarga kita akan menjadi keluarga yang tangguh di tengah perjuangan hidup yang penuh peluh.

Nuryanto Gracia