TIDAK DISKRIMINATIF, NAMUN BERBELA RASA

TIDAK DISKRIMINATIF, NAMUN BERBELA RASA
AMSAL 22: 1-9, 22-23; Mazmur 125; YAKOBUS 2:1-17; MARKUS 7:24-37

Seorang anak berumur 6 tahun tertinggal oleh ibunya di negara lain. Sang anak terlunta-lunta hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pria yang baik. Memberinya makan dan minum. Melihat kebaikan tersebut, si anak mengikuti pria itu. Awalnya sang pria ingin meninggalkan anak itu. Tetapi karena rasa bela rasa yang dimiliki, dia membawa anak itu ke tempat tinggalnya.

Untuk beberapa lama, anak itu bisa tinggal dengan nyaman. Hingga suatu hari, seluruh keluarga tempat dia tinggal mengetahui bahwa dia berasal dari negara Pakistan, maka anak itu diusir. Saat itu sang anak sedang berada di India. Hubungan India dan Paskitan sangat tidak baik.

Singkat cerita, karena rasa bela rasa yang begitu tinggi, si pria mengantarkan anak itu pulang ke negaranya, tanpa passport dan visa. Dia harus melewati perbatasan, mengalami penganiayaan dari para penjaga perbatasan. Tapi karena ketulusannya, akhirnya dia diijinkan masuk.

Tapi masalah belum selesai, di dalam negara itu dia dianggap mata-mata sehingga dikejar-kejar polisi dan dianiaya. Melihat ketulusan pria itu, banyak rakyat Pakistan yang membantunya hingga dia berhasil mengantar anak tersebut kepada ibunya.
Di atas adalah secuplik kisah dari film Bajrangi Bhaijaan. Film tersebut dibuat untuk menunjukkan kepada negara India dan Pakistan yang masih terus berseteru bahwa ada kekuatan yang bisa mendamaikan mereka yaitu bela rasa. Tidak peduli dari negara dan kasta apa, semuanya berhak dikasihi tanpa dikriminatif.

Pesan itu juga hendak disampaikan kepada kita. Mari kita berbelarasa kepada siapa pun juga tanpa membeda-bedaka mereka berdasarkan suku, agama, warna kulit dan status sosial. Mari menjadi umat Tuhan yang berbelarasa.

Nuryanto Gracia