MERAYAKAN RUMAH ALLAH, MERAYAKAN KEHIDUPAN BERSAMA

MERAYAKAN RUMAH ALLAH, MERAYAKAN KEHIDUPAN BERSAMA
1 RAJA-RAJA 8:22-30, 41-43; MAZMUR 84; EFESUS 6:10-20; YOHANES 6:56-69

4 peralihan pemikiran dalam memaknai keberadaan Allah:
1. Allah (hanya) berada di tempat-tempat yang tinggi, misalkan saja gunung. Sehingga dalam Perjanjian Lama kita menemui frasa Gunung Allah. Musa bertemu Allah di gunung. Karena konteks saat itu, gunung adalah tempat sakral dan tempat dewa-dewi tinggal.
2. Allah (hanya) berada di Bait Allah (Rumah Allah). Semua aktivitas peribadahan mengarah kepada Bait Allah. Sehingga saat Bait Allah dihancurkan, umat Israel kehilangan sendi-sendi keberagamaan mereka.
3. Semakin berkembang, maka manusia semakin menyadari tidak mungkin Allah yang besar hanya dibatasi hanya berada di suatu tempat. Umat mulai meyakini bahwa Allah hadir di semesta, tidak hanya di satu tempat.
4. Umat mulai menyadari bahwa Tuhan tidak mungkin dibatasi dalam suatu tempat, termasuk semesta itu sendiri. Berkembanglah pemahaman bahwa bukan Tuhan yang berada di suatu tempat, tetapi gerejalah (kita) yang berada di dalam persekutuan Allah Tritunggal yang kita kenal di dalam Yesus Kristus.

Poin 1-3 di atas termasuk usaha mendomestikkan (me-rumah-kan) Tuhan. Bahkan menganggap Tuhan berada di dalam semesta pun sebagai usaha mengatakan bahwa Allah tinggal dan berada di dalam semesta dan itu artinya semesta jauh lebih besar dari Allah. Walau tidak dapat dipungkiri, Allah yang besar itu hadir dan mewujud dalam ruang dan waktu yang sempit ini. Tetapi, yang mau dikritik di dalam poin 4 ini bukanlah usaha Allah yang menghadirkan diri di dalam ruang dan waktu tetapi usaha manusia yang merumahkan Tuhan dalam satu tempat, misal Tuhan hanya ada di gereja.

Dalam sejarah gereja, ada masa di mana gereja menganggap bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan.

“Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”. (Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium 14)

"Ini adalah ajaran terakhir kami bagi kamu; terimalah, torehkanlah di pikiran kamu, kamu semuanya; Berdasarkan perintah Allah, keselamatan tidak bisa ditemukan dimanapun kecuali didalam Gereja." (Paus Leo XIII dalam Ensiklik Annum Ingressi Sumus)

"Perahu Gereja dituntun oleh Kristus dan wakilNya... Hanya inilah yang membawa para murid dan menerima Kristus. Betul bahwa perahu ini dilemparkan ke laut, tapi diluarnya seseorang akan lenyap dengan seketika. Keselamatan hanya ada di Gereja; diluarnya siapapun lenyap." (Paus Yohanes Paulus I, First Allocution, August 27, 1978, L'Osservatore Romano, August 28,29, 1978.)

Tidak ada keselamatan diluar Gereja. Hanya dari dia-lah (Gereja) kuasa hidup menuju Kristus dan RohNya mengalir secara pasti dan secara penuh, untuk memperbaharui seluruh kemanusiaan, dan karenanya mengarahkan setiap manusia untuk menjadi bagian dari Tubuh Mistik Kristus." (Pope John Paul II, Radio Message for Franciscan Vigil in St. Peter's and Assisi, October 3, 1981, L'Osservatore Romano, October 12, 1981.)

Namun saat teologi telah berkembang maka pemahaman kita pun ikut berkembang. Kitalah yang berada di dalam persekutuan dengan Allah Trinitas itu. Kitalah yang bersama dengan umat di seluruh dunia tinggal di dalam persekutuan Allah tersebut. Jika seluruh umat dunia berada di dalam persekutuan dengan Allah, maka kita harus mengerti etika hidup bersama di mana Kristus sebagai panutannya, bukan keegoisan diri yang menjadi tuntunannya.

GKI merayakan usianya yang ke-27. Pertanyaan untuk kita semua yang tergabung di dalamnya, karena gereja juga adalah orangnya. Apakah GKI sudah menjadikan Kristus sebagai panutan hidup bersama atau masih mementingkan egoisme diri?

Nuryanto Gracia